DAPUR: Genting Kaca

Dia melihat gambaran yang tiba-tiba muncul. Seakan film proyeksi yang diputar di atas perabot lusuh dapur. Dan sumber proyeksi tersebut adalah genting kaca di lorong menuju dapur. Matanya menikmati gambaran itu, bahwa dengan matanya sekrang dia mampu melihat rak berisi buku-buku yang dulu dilarang beredar, tumpukan kertas-kertas arsip dari surat kabar dan majalah, serta sebuah bingkai kayu yang berisi foto... pandangannya hilang.

Genting kaca itu tidak bersinar lagi, nyatanya dia sudah masuk ke alam imaji beberapa jam! Berdiri tidak goyah dan tidak melakukan apa-apa. Dia melihat genting kaca di lorong menuju dapur, dan tampak cahaya senja berwarna biru, berubah menjadi ungu, dan merah sebentar lalu gelap. 

Beberapa waktu kemudian, genting kaca berwarna lebih hitam dibanding genting-genting tanah liat yang lainnya. Tidak ada bintang yang tampak di baliknya, hanya sarang laba-laba, kotoran, yang membuat genting kaca itu menjadi seperti semen.

Dia bertanya kepada dirinya sendiri, bagaimana genting sekotor itu bisa memancarkan cahaya? Lantas si genting kaca mendengarnya dan mengatakan agar si pemuda melihat ke atas. Langsung saja dia mendongak, melihat kerendahan hati yang dipasang di atas langit-langit itu. 

“Tidak ada yang benar-benar kotor,” katanya. “Aku kotor, sebab melihat semuanya dari atas sini. Siapa saja orang yang masuk dari pintu depan, bahkan dari pintu belakang. Aku juga mendengar bisik-bisik mereka, dan menonton apa yang sedang dilakukannya dalam kamar berdua.”

Si pemuda berkata bahwa dia sudah mendengar cerita itu dari para perabot lain. Dan si genting kaca langsung menyahut, bahwa dirinya juga sudah tahu apa saja percakapan yang dilakukan oleh pemuda itu.

“Apakah yang di atas selalu mampu melihat apapun?” 

“Aku berada di atas sini, dan aku mampu melihat apapun. Namun, yang berada di atasku masih ada. Ada bintang, ada bulan, yang bahkan bisa melihat apa saja di bumi. Sedang aku melihat isi rumah belaka.”

“Masihkah ada yang lebih mampu melihat?”

“Tentu saja ada. Dia berada di mana saja, tidak hanya di atas. Dia adalah maha segalanya, Dia  yang tunggal.”

“Siapakah yang kau maksud?”

“Tuhan. Tidak ada sesuatu kejadian pun yang luput dari penglihatan-Nya. Tidak ada pula yang lepas dari kehendak-Nya.”

“Bahkan ketika aku mendapat mata purba, dan berbicara dengan para perabot?”

“Entahlah, semua adalah rahasia-Nya. Kau hanya perlu menjalani lakon yang sudah ditulis. Tangan itu menulis segalanya, orang-orang mengatakan sebagai maktub. Dan hanya sedikit saja yang tahu akan rahasia-rahasia itu.”

“Apakah di atas juga memberimu pengetahuan?”

“Di atas ini, membuatku hanya merasa kecil dan sombong. Tidak ada yang perlu kubanggakan, tidak pula ada yang bisa diceritakan. Sewaktu-waktu, satu jam lagi, atau dua jam lagi, atau besok, atau lusa, bukan tidak mungkin rumah ini akan roboh ditimpa beliung atau gunung.”

“Kau sudah tahu akan semua itu?”

“Tidak. Aku tidak sanggup mengetahuinya. Tahu banyak hal tentang alam semesta dan rahasia-rahasianya adalah beban berat yang magis. Hiduplah sebagaimana manusia lain, dan masa lalu yang kau ketahui sudah cukup adanya.”

Seketika genting kaca yang gelap dan berbedu itu, bersinar terang. Sinarnya seperti garis lurus yang langsung mengenai kepala si pemuda, mengenai matanya. Dan untuk beberapa saat dunia menjadi amat gelap, tanpa apa-apa, kosong. 

**

Ketika bangun di pagi hari, dia mendapati dirinya berada di dapur. Dia sempat memaki mengapa tidur di tanah yang tua, lembab, dan tentu saja kotor. Lalu dia segera berdiri, membersihkan pakaian dan mengingat-ingat siapakah dirinya.

Lantas dia mengingatnya, seorang anak yang tidak pernah melihat wajah orang tuanya. Diusir dari rumah kakeknya karena menyembelih ayam jago kesayangan kakek untuk disantap bersama para temannya saat mabuk. Dan dia telah hidup di jalanan bersama kebingungan belaka.

Hidupnya hampir menjadi gembel, dan percakapannya bersama seorang lelaki di kedai kopi itu sedikit membuyarkan anggapan buruk. Pemilik kedai kopi pinggir kuburan adalah seorang perempuan gemuk, dan anaknya yang cantik sekali. 

Tidak seorang pun tahu di mana sang suami, maka anak itu menjadi daya tarik bagi lelaki yang sedang bertengkar dengan istri. Namun, bagi si pemuda, dia sama sekali tidak tertarik dengan perempuan. Terlalu jahat menganggap perempuan seakan barang dagangan. 

Dia hanya mampir karena diajak orang itu, lelaki dengan pakaian compang-camping nyaris menyerupainya. 

“Kau pasti tidak punya rumah,” kata lelaki itu.

Lelaki lainnya tidak menjawab.

“Rumah adalah kebutuhkan pokok. Aku  punya saran yang paling membantu hidupmu kali ini, ada sebuah rumah tidak berpenghuni. Dan orang-orang tidak akan keberatan kau tidur di sana. Kau tidak akan kelaparan, banyak ular dan terutama tikus serta cecak. Kau bisa memakannya, membakarnya di luweng dapur itu.”

“Mengapa kau katakan ini?”

“Karena aku merasa kau lebih menyedihkan daripada aku.”

“Kita sama-sama gembel, Pak!”

“Kau lebih gembel.”

“Dan kau lebih sombong!”

Lelaki itu tertawa belaka. Dia berdiri setelah membayar kopi dengan uang koin. Kemudian mengelus kepala si pemuda. Lelaki itu merasa ada kekosongan yang nyaris terisi, sebuah lubang besar yang mulai tertutup dalam hatinya yang tersesat. Si pemuda tidak pernah merasakan hal demikian, tidak seorang pun berani mengelus, atau memang tidak mau melakukannya, pada kepalanya.

Tetapi sekarang, si lelaki yang bahkan dia kira gembel sombong mengelus kepalanya. Tiga kali usapan, sebelum lelaki itu pergi melewati jalan setapak sebelah kuburan. Lantas dia berjalan ke arah yang sama, dan berbelok ke persimpangan yang berbeda. 

Tanpa ada petunjuk di rumah itu, dia berhenti ketika melihat sebuah menara menusuk kuning matari sore. Dia melihat seakan matahari hanya sekadar gulali atau permen rasa jeruk. Matahari yang tertusuk menara membiusnya  untuk beberapa bentar, dan kesadarannya kembali setelah matahari menghilang. Gulali habis dan permen rasa jeruk menyisakan tusukannya belaka.

Lampu-lampu rumah dinyalakan, sepasang mata pemuda itu melihatnya. Satu rumah tanpa lampu menyala, ditumbuhi rumput-rumput di pekarangan depan. Dan sepertinya menjadi sarang banyak makhluk halus yang paling dijauhi oleh penduduk desa. Sepasang mata si lelaki menyeretnya masuk ke dalam rumah itu.

Tubuhnya terlalu lelah  untuk melakukan kegiatan lain, otaknya sudah tidak berfungsi setelah dia lulus sekolah pertama. Dan dia memang enggan memakainya. Sekarang hanya  tubuh itu, dan jiwa yang ada di dalamnya, dan ruh yang dianggapnya tidak berharga. Namun ada satu keyakinan bahwa naluri murni manusia yang berasal dari hati bisa membawanya ke tujuan yang utama, meski melalui jalan yang terjal.

Pintu rumah itu telah dibuka, dan ingatannya kembali. Bahwa rumah itu tidak benar-benar asing untuknya. Dia tidur di kamar yang nyatanya bersih, menyalakan lampu yang entah mendapat daya dari mana. Itu bukan jadi soal sekarang, sebab banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul, seperti, ke mana semua rumput liar di halaman tadi?

Pemuda itu tidur di kamar, entah berapa jam, atau berapa hari. Kemudian dia mendapat mata baru yang menunjukkan jalan untuk melihat masa lalu. Mata itu menjadikannya bisa melihat jiwa-jiwa dari perabot di dapur. 

Dan di sinilah dia sekarang, bangun dari tidur setelah memaki beberapa kali. Mengapa pula tidur di tanah yang tua, lembab, dan tentu saja kotor. Dia pandangi genting kaca yang berada tepat di atasnya. Tidak ada yang benar-benar terjadi. 

Ingatannya masih ada, setiap hari dia ajak mengobrol barang-barang yang berada di dapur. Pisau, panci, kursi kayu, celana dalam bekas, genting kaca, bahkan pagar usang yang nyaris ambruk dan sudah ditumbuhi lumut di mana-mana. Para penduduk desa tidak akan khawatir, tidak pula kaget. Bahwa di rumah itu selalu dihinggapi orang gila yang berbeda. //

DAPUR: Genting Kaca Seloki
Sumber

Tinggalkan Komentar

0 Comments