Fabel Wajib Abad 21: Dongeng Binatang Gita Karisma

“Hewan apakah kau ini?” tanya Apolo.
“Aku adalah monyet,” kata si monyet.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Tidakkah kaulihat tadi, aku menirukan tingkah laku manusia di hadapan manusia.”
“Untuk apa?”
“Untuk membuat manusia tertawa.”
“Menertawakan apa?”
“Tingkah lakunya sendiri.”
“Siapa yang menyuruhmu?”
“Manusia sendiri.” (hlm. 141-142)

Judul
:
Dongeng Binatang
Penulis
:
Gita Karisma
Penerbit
:
Perancang Sampul
:
Gita Karisma
Tahun Terbit
:
Pertama 2015, revisi 2019
Jumlah Halaman
:
174 hlm
ISBN
:
978-602-73284-2
Harga
:
Tergantung diskon

Dongeng binatang memang menceritakan tentang binatang. Mulai dari tikus sampai manusia. Tunggu, manusia? Benar, dari buku ini sedikit tampak manusia menampilkan sisi kebinatangannya. Secara tersirat dan lembut, tentang perkaluan kepada binatang untuk memenuhi kebutuhan perut, terutama pada bagian paling akhir.

Tokoh utama adalah seekor tikus pakan putih bernama Apolo. Cerita yang saya kira akan membosankan ternyata tidak. Ceritanya mengejutkan, saya terbawa untuk mengingat kembali tentang pemberontakan binatang di Animal Farm. Saya juga teringat kembali tentang mengembaranya Santiago di Sang Alkemis.

Santiago tentu bukan seekor tikus. Peternakan dalam Dongeng Binatang juga tidak bernama Peternakan Manor. Paduan keduanya jadilah cerita di dalamnya sangat rapi, utuh, dan menurut saya TUNTAS.

Tikus yang berasal dari kebun binatang, yang dipelihara untuk dibesarkan jadi tikus pakan, menemukan jalannya dalam menuntaskan impian sampai di Taman Surga. Jika meminjam kata George Orwell, “Legenda Pribadi”. Cerita tentang tikus dan Taman Surga tersebut diceritakan dalam bagian Tikus.

Bagaimana pun para tikus pakan itu tidak akan berada dalam kandang kaca selamanya. Memenuhi takdirnya menjadi pakan, dia diangkut oleh seorang penjaga kebun binatang dan dimasukkan dalam kandang katak. Itulah kali pertama tikus bernama Apolo dan Ganesa serta satu teman lainnya bertemu raja katak. 

Katak yang memiliki ambisi menjadi raja kembali itu dibujuk oleh Apolo dan Ganesa (tikus satunya sudah dimakan) agar mereka berdua bisa menjadi pengikut. Maka dari itu, agar terus menjadi raja, katak itu tidak memakan Apolo dan Ganesa. Raja katak mati kelaparan.

Dari bagian Katak ini saya juga tahu ada pepatah yang cukup populer di dunia tikus.

“Tak lama lagi,” kata Apolo. “Sabarlah sedikit. Seperti kata pepatah tikus: sebelum makan kacang, buka dulu kulitnya.” (hlm. 22)

Bagian setelah Katak adalah tentang Ular dan Elang. Sebagaimana kedua tikus itu menaklukkan pemangsanya, ular dan elang dibuat tidak jadi memangsanya karena kecerdikannya. Si ular memakan ekornya sendiri, sedangkan si elang membawa kedua tikus semacam Angling Dharma di Indosiar naik naga untuk mengelilingi dunia, bebas dari kebun binatang. Jika Anda penasaran bagaimana hal-hal mustahil itu dilakukan, dan bagaimana Gita Karisma meracik tiap kata, tidak ada salahnya segera memiliki Dongeng Binatang.

Rupanya tidak cuma kakatua hitam, ada pula kakatua hijau dan kakatua merah. Secara umum, mereka sama-sama kakatua. Di atasnya, mereka sama-sama burung. Di atasnya lagi, mereka sama-sama hewan. Ini menjadi pelajaran mendasar bagi Apolo untuk mengenal keberagaman. (hlm. 78)

Yah, memang demikian, namun untuk beberapa kasus, kakatua suka menyamar sebagai penerbit.

Kehidupan kedua tikus, Apolo dan Ganesa, setelah keluar dari kebun binatang dengan menunggang elang dihadapkan kepada alam bebas. Mereka bertemu pemangsa paling ganas untuk bangsa tikus seperti kucing dan tentunya manusia. Diceritakan pada bagian Manusia.

Banyak hewan lain yang ditemui oleh tikus, Apolo dan Ganesa berpisah karena terjatuh dari punggung elang. Maka Gita Karisma selanjutnya bercerita tentang Apolo, dari sini saya menganggap tikus Apolo sebagai tokoh utama novel ini.

“Sudah kuduga kau sering bergaul dengan manusia. Tengoklah caramu menilai makhluk lain: apa yang tampak dari luar saja! Itulah kenapa kalian cukup memiliki sepsang mata.” (Laba-laba, hlm. 101)

Bagian selanjutnya adalah Anjing, Kucing, dan Ternak. Tentu setelah selesai membaca satu bagian, akan dibawa arus deras untuk segera membaca bagian selanjutnya. Novel tentang binatang ini bahkan dapat Anda selesaikan dalam sehari saja.

“...Kalau majikan menyuruh aku menunggu, aku menunggu. Kalau majikan baru membolehkan aku makan, baru boleh aku makan. Manusia pada dasarnya suka memerintah, sebaliknya mereka sendiri tak suka diperintah. Itulah kenapa mereka butuh peliharaan.” (Anjing, hlm. 114)

Saya sebenarnya ingin menceritakan isi secara keseluruhan, dengan sangat detail hingga tidak ada bagian tertinggal sama sekali. Namun, saya khawatir tidak mampu memberi penghormatan yang layak untuk Dongeng Binatang yang memikat ini. 

Silakan baca sendiri, cermati setiap tokoh dan kejadian, bagaimana setiap tokoh dan kejadian di awal berhubungan sampai akhir, bagaimana Apolo dan Ganesa menemukan Taman Surga. Serta seperti apa wujud Taman Surga sebenarnya. Oleh karena itu saya menyebut novel ini sebagai tuntas. Bagian yang tidak saya sukai hanya ini: ketika Gita memberikan pertanyaan bertubi-tubi pada beberapa deskripsi.

Saya juga merasa bingung, hewan dalam kebun binatang yang dilempari koin sebenarnya penyu atau kura-kura?

Gita Karisma, pada bagian Tentang Pengarang, ditulis sebagai: ...Pada tahun 2015, dia mendirikan Penerbit Kakatua. Dongeng Binatang adalah novel pertamanya yang diterbitkan. 

Satu bocoran lagi, penjaga kandang kaca di kebun binatang itu dipecat gara-gara ulah si tikus mematikan katak langka, ular langka, dan meloloskan elang keluar dari kebun binatang. Pada bagian Ternak di akhir tulisan, pemilik peternakan sebenarnya adalah penjaga itu. //

Dongeng Binatang Gita Karisma seloki
Dokumen pribadi, difoto pada 10.20 23 Februari 2020

Tinggalkan Komentar

0 Comments