Doa Pemabuk kepada Perempuan dan Jarak

Dari mana asal pikiran bimbang? Pertanyaan itu yang coba untuk dijawab oleh si lelaki. Maka dia bertanya lagi kepada langit-langit di kamarnya, “Mengapa dia tidak bisa memberi rasa percaya?” dan sebab pertanyaan itu, pikirannya tambah bimbang.

“Malam ini enggak hujan,” bisiknya.

Dia kemudian keluar menemui beberapa teman. Ada percakapan sedikit, sebuah basa-basi konyol yang membawa mereka pada tujuan utama, dikeluarkan selembar uang 50 ribu. Setelahnya diikuti dua teman yang lain.

Tidak lama kemudian pesanan mereka datang, dua botol anggur dan sebotol bir. Lengkap beserta mi instan buatan warung depan rumah. Harga minuman di sini lebih murah dibanding di kota sebelah. Salah satu alasan rajin mabuk pada malam yang bimbang seperti malam ini.

Lantas obrolan menjadi tidak ada. Orang-orang sudah kelenger namun tidak dengan si lelaki. Pikirannya kepada perempuan yang berada di sana berkecamuk, dia memikirkan alasan paling purna mengapa si perempuan mempertahankan pekerjaan dan pulang pagi buta.

Itulah ambang kemampuan manusia, seloki kembali digilir, dan satu di antara mereka, lelaki paling bongsor, berlari keluar dan muntah-muntah. Dia kemudian telentang dengan wajah paling pucat. Seperti orang meninggal atau tenggelam.

Dua lelaki lainnya kuat saja. Salah satunya mulai berbicara tentang istrinya, bahwa istrinya bekerja di warung kopi dan karaoke. Dia sempat mengeluhkan yang diperbuat istrinya pasti seperti pertama mereka bertemu. 

Dia memesan kamar dan seorang pemandu, itulah saat paling awal pertemuan antara dia bersama istrinya sebelum memutuskan untuk menikah dengan sebuah janji. “Aku akan selalu menerimamu apa adanya, kau bebas seperti burung, dan burungku akan bebas sepertimu.”

Maka janji itu selalu diingat si lelaki. Bahkan ketika dia dalam keadaan tak sadarkan diri. Setiap pikirannya membawa kepada anggapan yang tidak-tidak, seperti istrinya melayani lelaki lain sebagaimana dulu dia dilayani olehnya, dan kenyataannya memang demikian, maka si lelaki akan merapal janji tersebut untuk penenang.

Baca juga:

Lelaki kita termotivasi dengan cerita itu. Dia kemudian meletakkan seloki yang kosong, menenggak anggur langsung dari botol. Pikirannya yang kacau menjadi tambah kacau, dan dia sedikit menyesal telah berperasangka buruk kepada perempuannya.

“Setiap perempuan mempunyai kebebasan,” katanya kemudian.

“Kau benar, anak muda,” kata lelaki beristri. “Sebagaimana burungmu bebas untuk muntah di mana saja.”

“Aku tidak akan melakukan itu kepada perempuan lain.”

“Itu pilihan, bukan keharusan.”

Ada jeda sejenak, seorang lelaki lainnya muncul tiba-tiba. Membawa botol berlambang banteng yang amat dibenci lelaki lainnya, aroma yang keluar daripadanya sungguh membuat mual. Melihat ekspresi kedua lelaki itu, dia lantas berkata bahwa selera kalian rendah, yang dia bawa itu  merupakan minuman dengan harga lumayan untuk orang-orang seperti mereka.

“Apakah dia meninggal?” tanya lelaki yang baru datang, matanya mengarah pada lelaki bongsor yang telentang dan pucat.

“Belum.”

“Terus ini bagaimana?” menunjukkan minumannya.

“Simpan saja di sini, untuk acara besok atau lusa.”

Mereka bertiga yang masih bertahan, menghabiskan seluruh air dari ketiga botol. Lelaki kita merasa jarak betapa menyiksa, jarak itu semacam hujan yang melenakan. Dia mengabari seorang perempuan yang biasa mabuk bersamanya, namun jarak membatasi antar keduanya. 

Jarak jugalah yang mesti bertanggung jawab atas anggapan buruknya kepada si perempuan, pikirnya. 

Kepalanya kini terasa ringan, seperti terbang, dia sudah terbiasa dengan hal itu. Pada saat yang bersamaan perutnya terasa hangat. Itulah yang sebenarnya ingin dia rasakan. Mabuk hanyalah sarana agar perutnya hangat, seperti sedang dipeluk perempuannya, dan kepala yang ringan itu membuyarkan realita bahwa sebenarnya pelukan itu hanya angan-angan belaka.

“Ayo keluar,” kata lelaki yang beristri.

Tidak ada jawaban, namun mereka langsung saja berdiri. Lelaki bongsor dibangunkan, “Sudah waktunya.” Maka mereka berempat pergi ke kota sebelah, menuju warung kopi yang terletak di dalam kebun. 

Di sana berdiri sebuah bangunan yang ramai dengan lampu remang-remang, mereka bertemu para lelaki lain, beberapa perempuan nyaris telanjang, dan minuman keras dalam gelas. Ketika keempat lelaki itu duduk, dua orang perempuan langsung datang menyanding, menanyakan ingin minum apa. Lantas mereka membuat pesanan, dan tak lama kemudian minuman mereka datang.

Hidup yang tidak jelas arahnya itu berjalan makin lambat. Keempat lelaki sudah lupa dengan tujuan materi duniawi, ambisi pribadi, juga harapan terhadap akhirat. Tidak ada yang perlu dipikirkan dalam mabuk begini, percuma menggunakan otak. Maka keempat lelaki yang sudah tahu harus melakukan apa, hanya menggunakan perasaannya.

“Inilah saat membebaskan burung,” kata lelaki beristri.

Baca juga:

Dia kemudian berdiri, memilih sendiri perempuan mana yang akan menemaninya untuk menyanyi. Kemudian meraih tangannya, merangkul pinggangnya, dan menempelkan sesuatu di antara kakinya ke bagian belakang si perempuan sambil mencium aroma wangi di sela leher. Mereka berdua buru-buru masuk ruang lain yang kedap suara.

“Nahas sekali hidupnya,” kata lelaki lainnya. “Dia mesti bayar hanya untuk meniduri istrinya.”

Lelaki kita kemudian paham, bahwa perempuan barusan adalah istri yang sejak awal dibicarakan si lelaki. Dia sulut rokok yang tinggal sebatang, mengingat janji apa yang dipegang lelaki pemabuk itu. “Aku akan selalu menerimamu apa adanya, kau bebas seperti burung, dan burungku akan bebas sepertimu.”

Omongan lelaki pemabuk memang ngawur, pikirnya. Dia tidak mungkin membebaskan burung, sebab pada keadaan tidak sadar pun, masih diingat janji kepada istrinya. Sekarang, lelaki kita tampak menyesal membuat perempuannya merasa terkekang.

Lantunan para pemabuk selalu jujur, maka di malam yang kelewat pukul satu  itu, dia membisikkan kepada angin, “Aku akan selalu menerimamu apa adanya, kau bebas seperti burung, dan burungku rela tidak bebas karena itu hanya untukmu.” 

Aroma anggur dan bir itu keluar kental dari mulutnya. Pikirannya sudah tidak ada, dia berbicara dengan rasa. Maka aroma-aroma yang keluar telah ikut mengamini. Malam itu terasa lebih hangat lagi, dan dia bisa merasakan dengan nyata, hangat di perutnya bukan karena minumannya, melainkan pelukan jarak jauh dari si perempuan. //

Doa Pemabuk kepada Perempuan dan Jarak
Image by Bruno /Germany from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments