Animal Farm, Sebaiknya Para Babi Dihilangkan!

Judul
:
ANIMAL FARM
Penulis
:
George Orwell
Penerjemah
:
Prof. Bakdi Soemanto
Penerbit
:
PT Bentang Pustaka
Edisi II
:
Cetakan Keempat, Oktober 2017
Halaman
:
Iv + 144
ISBN
:
978-602-291-282-8

Animal Farm, Sebaiknya Para Babi Dihilangkan!
Bukunya Isa Junaedi. Dokumen pribadi.

Animal Farm bukunya tipis. Namun punya isi yang cukup padat. Tebalnya 140 halaman (mengecualikan Tentang Penulis) yang dicetak di kertas. Warnanya kuning, ringan.

Ada banyak tokoh, membuat saya bingung.

Orang-orang menganngap Animal Farm sebagai alegori politik sekitar tahun 45. Digadang-gadang sebagai isyarat kepada bangsa Inggris untuk berhati-hati dengan paham yang dikira sosialis namun sebenarnya totaliter.

Memakai sudut pandang orang ketiga, tetapi tidak serba tahu. 

Segala seluk-beluk dalam kandang binatang, atau dalam novel yang mirip novela ini disebut sebagai peternakan binatang, diceritakan dengan jelas dan padat. 

Dari pembacaan saya pribadi, yang paling berkesan adalah Napoleon. Babi bernama Napoleon dalam Animal Farm benar-benar jahat. Saya, jika disuruh membaca kembali mau-mau saja, asal tokoh Napoleon dihilangkan. 

Menariknya, Animal Farm pernah ditolak oleh Penerbit Faber & Faber, melalui penulis bernama T.S. Elliot yang saat itu bekerja di sana, “Saya (dan direktur yang lain) tidak yakin ini merupakan cara yang tepat untuk mengkritik pemerintah saat ini. Babi dalam cerita ini paling pintar di antara hewan-hewan peternakan yang lain. Jadi yang diperlukan bukanlah lebih banyak komunisme, melainkan lebih banyak babi.”*

Cerita menjengkelkan menggunakan alibi ‘kebebasan’ sebagai bentuk tirani model anyar sudah sering terdengar. Di Indonesia pun terjadi, mungkin dalam bentuk yang lain. Seperti menggunakan agama sebagai dalih melakukan –setidaknya—perusakan.

Jadi dalam novel Animal Farm ini, binatang babi adalah binatang yang paling pintar. Dua babi sepeninggal Major Si Babi yang bijak, Napoleon dan Snowball, berebut kekuasaan. Bahkan dalam dunia perbinatangan yang memakai paham Binatangisme itu, terdapat perebutan kekuasaan yang satu menyingkirkan lainnya pakai kekerasan. 

Memang terlalu mencolok ketika Napoleon mengusir Snowball, kita (posisi sebagai manusia) akan mudah paham. Namun di sana tokohnya, mayoritas adalah binatang! Melihat binatang polos dan tolol dan mudah dipengaruhi, menimbulkan emosi berengsek tersendiri!

Harus saya akui, saya sendiri kurang cocok dengan Animal Farm. Jika Napoleon adalah tokoh yang tidak saya suka, maka Benjamin Si Keledai adalah tokoh yang menyelematkan emosi saya. Keledai yang bijak dan agak pendiam, menjadi semakin pendiam karena melihat dengan matanya sendiri bahwa sahabatnya Boxer Si Kuda dikirim ke pemenggalan kuda.

Akhir dari novel ini, para babi termasuk Napoleon dan seluruh anak buah dan anak kandungnya, serta para anjing penjaga Napoleon, berpesta bersama para manusia. Mereka berdiri pakai dua kaki, artinya melanggar paham, “Kaki empat baik, kaki dua jahat.” Dan melanggar semua aturan yang sudah disepakati karena tidak ada bedanya sudah dengan musuh para binatang: manusia.

Para binatang itu tidak paham dengan situasi yang terjadi, tidak sadar bahwa mereka sedang dikelabuhi, momen-momen inilah yang benar-benar membuat saya pribadi emosi.

Animal Farm memang bukan sekadar lelucon. Semua ketimpangan, paksaan, penghianatan, pemanfaatan pekerja, pelanggaran janji, kelicikan, dan kebodohan yang semuanya umum dimiliki manusia, dalam novel ini diperankan oleh para binatang.

Babi adalah yang paling pintar, suka memanipulasi banyak ketentuan. Babi di sini tidak memakai dasi selain dari medali aneh. Keledai adalah yang paling bijak, kuda adalah yang paling kuat, kucing yang paling bebas, ayam betina yang merasa tirani baru setelah revolusi, gagak yang halu tentang gunung gula, biri-biri yang mudah dipengaruhi, sapi yang jarang muncul, dan Pak Jones yang ternyata sudah mati.

Semua kejadian dapat Anda baca di buku ini. Setelah baca dari penerbit dan penerjemah ini, cobalah baca dari penerbit dan penerjemah lain. Buku ini nyatanya laris juga. Namun sekali lagi, saya kurang bisa menikmati. 

Satu pesan yang tidak boleh lupa: jangan takut ditolak penerbit, atau mendapat kritik pedas dari penulis lain, Animal Farm sudah membuktikannya bahwa novel ini menjadi bacaan (cukup) wajib. Terutama dalam Sastra Inggris. //

Tinggalkan Komentar

0 Comments