Alasan Mabuk?

Tokoh dalam tulisan ini bernama Jusuf. Saya ingatkan, bahwa Jusuf di sini bukanlah saya.

Si Jusuf itu belakangan lebih sering mabuk. Bahkan dalam sehari bisa dua kali. Mabuk bersama teman-temannya yang sama-sama kepusingan dengan alasan berbeda. Kemudian bersama teman-temannya yang lain di kota lain pula.

Saking seringnya mabuk, temannya bertanya, “Sebenarnya apa motivasimu mabuk?”

Jusuf menjawab, “Banyak sekali, pertama tidak ada uang.”

“Tidak mungkin!” sahut teman lainnya tidak percaya, “Setiap hendak mabuk kau selalu punya uang. Kemarin punya, tadi pagi punya, malam ini juga punya.”

“Aku menjual banyak barang dan jasa.”

“Apa saja yang kau jual?”

“Yang terakhir adalah harga diri.”

“Jangan bicara pada orang mabuk,” cetus teman lainnya lagi.

“Tidak apa-apa,” jawab teman itu, “Terus, alasan lainnya apa?” tanyanya kepada Si Jusuf.

“Hmm..., kedua, gara-gara pusing.”

“Pusing kenapa?”

“Perempuanku selalu keluar malam.”

“Hahahaha... sesepele itu?! Kau sudah belajar tentang kesetaraan, mengapa kau begitu bodoh? Masih berniat mengatur tubuh dan laku orang lain?”

“Yah, begitulah, sikap itu tidak benar dan aku tahu. Sialnya, aku tidak bisa membuat diri untuk menjadi suka. Makanya, agar tidak membencinya, aku membenci diri sendiri karena ketidakberdayaan mengatur perasaan. Makin lama makin benci pada diri sendiri.”

“Ada lagi?”

“Kurasa masih ada," katanya mengira-ngira, "Sekitar seratus. Bahkan lebih. Kalian akan mati gara-gara terlalu banyak menenggak alkohol sambil mendengar aku bercerita, lebih baik tidak usah kuceritakan.”

Alasan Mabuk
Image by Somchai Chitprathak from Pixabay

Teman-temannya terdiam, kemudian Jusuf balik bertanya, “Alasanmu selalu mau kuajak mabuk kenapa? Pusing?”

“Tidak! Kehidupan tidak pernah kupusingkan.”

“Aku mau saja kalau hanya diajak. Sebab uangnya kan darimu, Jus,” sahut lainnya.

Jusuf manggut-manggut. Menyadari bahwa teman-temannya lumayan kere. Dan nyata apatis.

Di tempat lain pada waktu yang lain pula, dia mabuk bersama teman-teman yang beda. Kemudian menanyakan hal serupa, tentang motivasi mengapa dia selalu mabuk. Jusuf saking malasnya hanya membalas untuk meminum darah Tuhan. Tetapi sialnya, teman-temannya menganggap jawaban tersebut benar adanya.

Sampailah mereka pada pertanyaan lain, “Kalau terus-terusan membenci dirimu, apa yang akan terjadi?”

Tanpa berpikir, Si Jusuf menjawab, “Paling tidak hanya bunuh diri.”

Teman-temannya tampaknya jarang mendengar kalimat itu. Memasang muka kaget yang menjengkelkan. Kemudian bertanya sambil menghakimi, “Hei! Kau tidak menghargai hidup sama sekali? Kau tidak punya harapan yang bahagia? Atau, setidaknya, kau tidak kasihan kepada kedua orang tu—“

“Saatmu,” kata Jusuf sambil menyodorkan seloki berikutnya. 

Saya yang saat itu menjadi salah satu temannya hanya geleng-geleng kepala. //

Tinggalkan Komentar

0 Comments