Semua Bayar

Beberapa hari ini sepasang mata kenalan saya berubah menjadi uang. Mata itu tampak garang! Sementara 2 sentimeter di bawah hidungnya, tampak bibir yang tersenyum. Saya tahu guna senyuman itu: sekadar untuk meyakinkan orang lain bahwa kehabisan uang bukan berarti kehabisan hidup. Sementara dia menumpuk uang dalam jumlah tak terbatas.

Dalam hidup memang semua bayar. Mulai dari kebutuhan pokok dan bukan pokok. Jika mendapat makanan dengan gratis, sebenar-benarnya itu tidak gratis, kita berhutang budi dan kebaikan. Artinya, makanan gratis tetap bayar juga.

Proses pembayaran sesuatu yang gratis tidak menggunakan uang. Bisa tenaga, pikiran, bahkan nyawa. Hal ini lebih condong ke arah etika.

Saya setiap hari membayar dengan nyawa, untuk oksigen yang gratis ini. Sampai tidak bisa membayar lagi maka oksigen gratis tidak akan diperolehkan.

Namun sepasang mata teman saya itu, yang berubah jadi uang itu, tampak tanpa basa-basi. Langsung secara frontal. Dia tidak memiliki etika, dan karenanya, akan saya ingat sebagai perbuatan yang tidak perlu pembalasan berupa kebaikan.

Berhati-hatilah memperlakukan kenalan! Apalagi kenalan itu pendendam! //

Semua bayar seloki
Img src pixabay


Tinggalkan Komentar

2 Comments

  1. Dendam ada sebagai bentuk perlawanan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sialnya, jika dendam dilampiaskan justru semakin tumbuh besar.

      Delete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)