Waktunya Sambat: Hidup di Dua Sisi Tidak Bisa Ditolerir

Salah satu kenikmatan dalam hidup (tentu saja selain merokok Surya 12 di atas jamban) adalah sambat. Sambat saya artikan sendiri sebagai mengeluh. Baik kepada orang lain maupun sesuatu yang lain. Sebagian doa merupakan bukti nyata sambat, hanya saja tidak diketahui orang lain.

Sambat tidak melulu mempunyai konotasi negatif. Setiap orang harus sambat, dan sambat harus tidak diketahui manusia lainnya. Kita mendapat dua poin penting. 1) Setiap manusia melakukan sambat adalah keniscayaan; 2) Sambat harus sendirian.

Metode sambat secara keilmuan (ini ngaco) adalah dengan doa. Jika Anda pernah berdoa kepada Tuhan, memohon sesuatu yang entah kebutuhan atau keinginan, maka secara tidak langsung --baik sadar maupun tidak sadar-- sudah melakukan proses sambat.

Sambat memang lebih baik dilakukan secara terstruktur, direalisasikan secara masif dalam tiap sendi kehidupan manusia. Meski demikian banyak orang melakukan sambat yang tidak pada tempatnya, sebagai contoh di warung kopi dan di hadapan manusia lainnya.

Dampak kurang baik dari kejadian sambat di luar struktur seperti contoh pada warung kopi tersebut di antaranya adalah: 1) Sambat menjadi tidak sakral; 2) Sambat dijadikan objek candaan receh dan cabul; 3) Proses sambat tidak menemukan penyelesaian sama sekali (buntu); 4) Lawan bicara juga melakukan sambat.

Poin terakhir benar-benar membuat sebal. Bayangkan ketika Anda melakukan proses sambat kepada orang lain, kemudian orang tersebut malah ikut-ikutan sambat dengan narasi yang lebih menyedihkan. Maka dari itu, carilah orang yang tepat untuk melakukan sambat, jika orang yang dicari tidak ketemu, maka sambatlah kepada Tuhan.

Mempercayai adanya Tuhan memang sangat penting dalam proses sambat tersebut. Kita kadang kala merasa kurang yakin dengan orang lain, jangan-jangan aib yang mestinya ditemukan penyelesaian dan ditutupi dalam, malah terangkat ke permukaan menjadi berita buruk paling viral. 

Waktunya Sambat Hidup di Dua Sisi Tidak Bisa Ditolerir
Image by Ulrike Mai from Pixabay

Namun bagi orang yang tidak percaya adanya Tuhan, saya menyarankan untuk mencari sarana sambat. Jangan sampai melakukan sambat kepada diri sendiri, hal itu akan membuat wajah semakin gelap dan buram. Dan keadaan sambat paling buruk adalah menulis sesuatu tentang sambat seolah-olah tidak mempunyai masalah apapun.

Saya mempunyai masalah, dan jika Anda ingin mengetahuinya  akan saya jabarkan beberapa. Saya mempunyai masalah dengan roda kendaraan dan yang paling besar adalah masalah dengan diri saya sendiri. Saya harus hidup di dua sisi, memenuhi tuntutan dan keinginan pribadi. Selebihnya sudah saya sambatkan kepada sesuatu yang lain.

Situs web sebelah sering membuat masalah dengan saya. Hal tersebut bukan menjadi masalah, sebab bagaimana pun empunya situs web tetangga itu adalah musuh saya. Saya pikir dirinya punya masalah yang jauh lebih besar dibanding milik saya. Meski permasalahan tidak akan jadi masalah jika tidak dipermasalahkan, saya tetap penasaran kepada siapa dia melakukan sambat setiap hari. //

Tinggalkan Komentar

0 Comments