Tidak Pernah Membaca Buku dan Menulis Novel

Seorang teman yang sangat produktif pernah bertanya kepada saya tentang teknik kepenulisan. Saya yakin dia tidak benar-benar bertanya, sebab dilihat dari bagian manapun, dia memiliki lebih banyak tulisan dan telah dipercaya lebih banyak orang. Dia bertanya hanya karena saya lebih tua darinya dalam segi umur.

Sebenarnya saya sering menulis, lebih sering lagi membaca buku. Tetapi setiap buku yang saya baca selalu tidak habis, sekian halaman saya tutup dan saya berikan kepada orang lain. Begitu pula dengan menulis, mulai dari beberapa kalimat, menjadi beberapa halaman, dan benar-benar mandek tidak dilanjutkan.

Karena hal di atas lebih mulia disebut dengan tidak pernah membaca buku dan menulis novel saja. Selebihnya terserah kepada alam, saya benar-benar sudah angkat tangan dengan kehidupan bengis ini. Tentang pertemanan yang tidak murni, ilmu yang dikomersilkan, dan manusia yang menganggap manusia lainnya sebagai binatang.

Beberapa novel saya masuk ke dalam tempat sampah komputer dan saya hapus permanen. Lengkap dengan ratusan cerita pendek yang sama-sama sampahnya. Meski demikian saya nyaris menangis melakukannya. Dari sekian tulisan tersebut, sudah terangkum beberapa novel dan cerpen yang ditolak penerbit maupun tidak juara. 

Saya suka membaca, meski tidak sampai tuntas, terutama buku-buku milik teman. Saya pernah sekali mencetak sendiri naskah teman, kemudian membacanya, dan memang buruk sekali. Penuh kata-kata rancu dalam tiap kalimat, mempunyai alur tidak jelas, tanpa memberikan amanat apapun. Namun saya tidak pernah mengkritik soal itu, beberapa penulis kondang juga melakukannya dalam tulisannya.

Lupakan kata-kata multitafsir, kalimat tidak efektif, apalagi alur dan amanat. Saya cetak naskah teman itu waktu melakukan KKN di pegunungan bagian selatan kota ini. Dia terbitkan secara mandiri setelah mendapat kritik lain dari orang lain, saya akan menandai namanya, kemudian akan mendongak melihatnya setelah dia sampai pada puncak.

Tidak Pernah Membaca Buku dan Menulis Novel
Gambar oleh Pexels dari Pixabay

Sikapnya benar-benar membuat iri, saya gampang iri dengan kehidupan orang lain yang tampaknya lebih menyenangkan. Lihat orang itu, bisa menerima segala kekurangan. Lihat orang satunya, tidak dibikin pusing dengan pajak kendaraan yang telat sekian tahun. Orang itu lainnya, tetap bersahaja meski mempunyai banyak sekali musuh, tidak takut kena santet.

Namun untuk mencetak banyak buku seperti teman saya itu, saya tidak pernah iri. Silakan produktif dan hidup 1001 tahun lagi, dengan buku-buku yang mengubah dunia menjadi lebih baik. Jika tidak mengubah kehidupanmu, setidaknya berpengaruh untuk kehidupan orang lain di sekelilingmu. Sekian.

Tinggalkan Komentar

0 Comments