Surat Terbuka untuk Penulis Tak Tahu Diri

Selamat pagi kamu yang sedang berada di hutan. Sebuah tempat banyak parasit inang, hutan itu berada di rumahmu, di kamar gelap dan lembab tempat seluruh jin kafirmu tidur dan bercengkerama dengan kamu yang sama-sama kafir.

Pagi ini saya ingin menulis surat terbuka yang termutakhir untukmu, saya baru terinspirasi oleh kegiatan surat menyurat terbuka dari Goenawan Mohamad dan Pramoedya Ananta Toer yang diunggah oleh Saut Situmorang ke media sosialnya. Kedua surat itu diunggah setahun pasca-kiamat-2012. 

Sekarang akan saya sampaikan, sesuatu yang saya sampaikan bukan hal mendesak, tidak akan membuat kamu harus menentukan pilihan antara hidup atau mati. Bahkan saking tidak mendesaknya, kamu bisa melewatinya sampai di sini, tanpa membaca seluruh isinya.

Kemarin saya mendengar cerita tentangmu, sebuah kisah sedih yang sama-sama sendu seperti warna hari-hari yang kamu lalui. Tidak bahagia seperti biasanya, menahan menangis sebagaimana seharusnya. Dan saya geli menahan tawa karena mendengarnya.

Kehidupan ini berjalan terus, ke depan terus, masa lalu yang sulit sudah menjadi sejarah kelam di kehidupan kita bersama. Sedang masih banyak lubang raksasa, penuh nanar dan kesedihan yang sama –bahkan lebih kelam—akan menyambutmu.

Usia ini benar-benar cepat habis. Saya pikir, saya ini sudah merasakan segala sisi dari kehidupan, kamu jangan terlalu banyak bersedih karena dipermainkan kehidupan. Saya juga sempat marah luar biasa, karena takdir mempermainkan hidup yang saya anggap sakral ini. ingatlah pada cerita sedih orang-orang lainnya, kamu tahu nasib tragis penulis puisi kesedihan yang sekarang tidak ada kabarnya? Kamu juga masih ingat dengan manusia yang tidak bisa lupa, meski kedua naskah novelnya ditolak dua penerbit berbeda? Atau kamu juga ingat kisah manusia budak cinta yang sekarang masih senior kita?

Kisah-kisah sedih orang-orang itu benar-benar mengerikan. Bahkan ketika dibayangkan saja, mungkin kita berdua tidak akan bisa bertahan seharian. Kita akan lari sambil kencing dan mencret menuju kantor polisi, meminta polisi menodongkan pistolnya ke kepala kita, dan menarik pelatuknya untuk kebebasan fana.

Saya kadang berpikir untuk menghubungimu lewat surel. Kamu ini sulit dihubungi sebagaimana para penulis tak tahu diri lainnya, ingatkah pada kisah perempuan yang sama denganmu dengan cita-cita mati muda itu? Banyak orang menyebalkan serupa denganmu yang sulit dihubungi, padahal saya tidak peduli amat.

Hanya saja, jika kamu mati mendadak, saya mesti menuliskan kisah hidup sedih yang kamu alami. Meski saya tidak mahir menulis sepertimu, akan tetap saya tulis. Jadi, andai kata kamu mati hari ini, kabari dulu saya seminggu sebelumnya biar saya bersiap-siap meluangkan waktu.

Kamu pasti tahu bahwa saya ini orangnya sibuk sekali. Sebagaimana kamu yang sibuk mengurus tanaman karnivora milik kerabatmu, mengetahui bagaimana lalat masuk ke lubang itu dan dilumuri lendir yang melelehkan seperti di lambung. Kamu ini sinting, dan percuma saja kamu menutupi kesintingan itu dari saya. Sebab mata saya tajam dan tidak bisa ditipu hanya dengan gerakan.

Oya, surat terbuka ini sekadar candaan belaka. Satu-satunya yang serius adalah ini: jika salah satu dari kita segera mati, luangkan waktu untuk menulis kisah sedih dan menyedihkan dari kehidupan kita. Tanpa ada yang ditutupi, tulis secara jujur dan apa adanya. Jangan samarkan nama, pakai nama saya, Jusuf Fitroh, dan saya akan berjanji tidak akan menggentayangi kehidupanmu selanjutnya. Pun jika kamu mati, akan kutulis dengan nama aslimu yang itu.

Terima kasih.

Surat Terbuka untuk Penulis Tak Tahu Diri
Image by raphaelsilva from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments