Sampah yang Tahu Diri

Sampah yang tahu diri memang seharusnya melipir pergi. Tanpa perlu ada yang tahu apa yang sedang terjadi padanya, bagaimana perlakuan alam semesta, dan seberapa besar usahanya atas pikiran untuk tetap optimis. Bagaimana pun seorang sampah mempunyai beban yang lebih besar dibanding orang lain. Saya melihat beberapa sampah tersebut, terutama salah satunya saya lihat ketika pagi hari di cermin kamar.

Seorang sampah adalah manusia yang masih njilmet dengan dirinya sendiri. Bergulat setiap hari, adu jotos, sampai babak belur remuk dengan pikirannya. Sehingga apa yang dipikirkan dan diperbuat hanya memenuhi ego semata. 

Ini adalah sepekan setelah saya mengundurkan diri (resign) dari pekerjaan menulis artikel sampah. Saya teringat kembali dengan bayaran yang lumayan tiap minggunya. Lebih dari cukup untuk membelikan beberapa botol Anggur Merah lengkap beserta rokok Surya 12 kepada teman dan masih sisa banyak. 

Tulisan ini tidak akan menceritakan bagaimana saya menyesali resign dari pekerjaan tersebut, saya tidak menyesal dan memang seharusnya demikian. Pada tulisan ini hanya akan menjadi catatan untuk diri saya sendiri, tidak untuk orang lain, bahkan tidak akan berdampak apa-apa atas orang paling dekat dengan saya.

Tadi malam saya mendapat pertanyaan sampah dari salah satu penulis sampah. "Kalau kau tidak mengejar eksistensi, lalu apa?" tanyanya. Pertanyaan itu saya jawab dengan pengakuan, lalu dia membalas sama saja. Saya balas lagi untuk kepuasan. Lalu dibalas lagi dengan sebuah pertanyaan yang akan menambah tingkat putus asa saya, dia bertanya menurut kamu apa sisi negatif eksistensi kemudian dilanjut dengan pertanyaan kamu bisa menikmati proses menulismu?

Percayalah, wahai sampah, saya tidak pernah benar-benar menulis. Saya belum tuntas dengan diri dan ego sendiri. Mungkin yang perlu saya lakukan memang begini: melipir pergi tanpa seorang pun yang tahu, kemudian mulai berdiam diri dan berpikir bagaimana usaha untuk mencoba mengubah kenyataan bengis. 

Di jalan menuju tempat paling sepi di kota sebelah, di ruang pengap, di pojok paling sunyi, saya teringat dengan kata-kata seorang penulis. Anda semua pasti sudah tahu Pramoedya, dia pernah berkata pada bukunya, juga salah satu di video. Yang belakangan saya dapat dari kanal youtube, kata-katanya begini:

Semua orang bekerja, itu adalah mulia. Yang tidak bekerja tidak punya kemuliaan.

Sebenarnya saya sudah memikirkan beberapa cara untuk keluar dari lingkaran setan sampah ini. Cara pertama adalah mulai dengan kebaikan, menemui setiap orang dan berbasa-basi dengan mereka --meski bagaimana pun hati saya menolaknya. Kemudian terus mencoba menjadi lebih akrab, membantu dengan mengerahkan sebagian besar tenaga untuknya, serta untuk basa-basi tiada guna itu.

Sedang cara kedua adalah terus menjadi sampah. Mengikuti jejak perjalanan sulit Charles Bukowski, terus mabuk dan frustasi. Menganggap diri sebagai sampah untuk waktu 80 tahun ke depan, berharap kematian tidak akan menyakitkan. Dan tetap termurung penuh aura negatif di pojok ruang pengap dan lembab kota ini.

Sampah yang Tahu Diri

Saya tidak akan menyalahkan siapa pun, meski saya menjadi demikian --sedikit banyak-- juga dipengaruhi banyak hal. Pikiran yang lemah ini gampang hanyut dengan rayuan menuju keburukan. Jika ada di antara Anda yang mencoba peduli dengan orang yang bahkan tidak pernah Anda kenal sebelumnya, untuk memberi semangat melanjutkan hidup lebih 'baik', apa yang akan Anda katakan kepadanya?

Tinggalkan Komentar

0 Comments