Retorika COD Grup Facebook

Sistem jual-beli di media sosial terutama Facebook tetap ramai. Hal tersebut terbukti secara empiris, sebab sekian tahun lalu saya telah masuk di dalamnya. Mulai dari jual beli alat pancing sampai dengan rokok elektrik di daerah Blitar-Tulungagung.

Setelah melakukan Cash On Dilevery (COD) sekian lusin, saya memutuskan untuk menulis ini: Retorika COD Grup Facebook. Nyatanya banyak jenis retorika dan seni yang dipakai para penjual –maupun pembeli. 

Ambil saja contoh saya sendiri, ingin menjual rokok elektrik Voopoo Vinci yang sekarang pasarannya sedang meledak di Tulungagung. Sekian detik setelah diunggah dengan kata-kata yang meyakinkan, pasti akan dikomentari atau dikirimi pesan langsung, menanyakan kelengkapan, minus, harga, dan yang tidak ketinggalan adalah posisi yang akan menentukan tempat COD.

Jika Anda dalam keadaan ini, usahakan tidak menjawab pertanyaan posisi tersebut. Jika calon pembeli saya sudah tahu keberadaan saya di mana, maka ketika saya menanyakan posisi seperti dia, (kebanyakan) akan dijawab amat jauh dari yang sebenarnya.

Hal tersebut dilakukan sebagai retorika agar penentuan tempat COD lebih dekat ke arah pembeli tersebut. Model retorika seperti ini sangat sering dilakukan, terutama oleh para ‘pemain’ jual beli. Tetapi ada saja pemain baru yang masuk, tanpa paham dengan retorika yang ada di dalamnya, mengatakan secara jujur dan polos. Belakangan adalah contoh orang apes.

Selain retorika model posisi COD tersebut, masih banyak hal lainnya. Seperti melakukan negosiasi harga setelah bertemu dengan penjual (saat COD berlangsung). Para ‘pemain’ yang saya katakan di atas sangat mahir melakukannya, mereka bisa saja mencari kesalahan atau kekurangan dari barang yang Anda jual, kemudian mengajukan permintaan penurunan harga meskipun sudah disepakati di pesan.

Anda harus bersikap tegas jika terjadi demikian. Namun dengan catatan sudah Anda katakan apa saja kekurangan barang sebelum melakukan COD. Jika ternyata si calon pembeli tetap mengajukan permintaan penurunan harga, Anda ambil kembali barang yang hendak dijual dan meminta maaflah. Tinggalkan dia sendiri, maka dua sampai tiga langkah menjauh, pasti Anda akan dipanggil oleh calon pembeli tanpa ada penurunan harga.

Dua retorika itu jika dikombinasikan bisa menjadi senjata sangat tajam. Pertama, Anda sudah tertipu tentang tempat sehingga harus menempuh jarak lebih jauh, meski tidak semua calon pembeli melakukan ini. Kedua, Anda memangkas harga barang setelah bertemu dengan orangnya sebab calon pembeli tersebut memperjelas kekurangan-kekurangan barang dagangan Anda.

Retorika selanjutnya adalah yang dilakukan oleh calon penjual sendiri. Biasanya untuk mempercepat lakuknya barang dagangan, seorang penjual mengatakan kelebihan dan harga termurah untuk meyakinkan. Ditambah lagi dengan bumbu ini: mengatakan bahwa sudah ada orang yang akan membeli jika tidak jadi Anda beli.

Percayalah, kemungkinan besar barang tersebut tidak benar-benar ada yang memesan. Itu hanya retorika yang berjalan. 

Retorika COD Grup Facebook
Image by Gordon Johnson from Pixabay

Cara untuk mengatasi berbagai retorika yang sering terjadi, dan untuk mencegah terjadinya kerugian baik sebagai penjual maupun pembeli, mintalah bantuan teman Anda, terutama orang expert atau ‘pemain’ dalam jual-beli di grup Facebook tersebut untuk mencarikan atau menjualkan. 

Tidak semua orang di grup Facebook menggunakan akun asli, bahkan nyaris seluruhnya memakai akun palsu. Hal itu sangat efektif untuk bertanya tanpa ragu, menawar perih tidak manusiawi, serta keuntungan lain menjadi anonim.

Anda bisa menawar harga Voopoo Vinci yang sedang ramai itu seharga 100 ribu tanpa berpikir panjang, meski di sisi lain penjualnya, pasti sedang memaki Anda dengan kata-kata super kotor. Namun berkat akun anonim hal tersebut enggan diungkapkan di kolom komentar.

Selain cara mengatasi di atas, perlu Anda amati sikap calon pembeli barang Anda. Misalkan Anda ingin cepat butuh uang, kemudian memberi potongan harga hingga setengah. Hal itu akan mengakibatkan calon pembeli semakin mengajukan penurunan harga karena tahu bahwa Anda butuh uang banget.

Khusus untuk teman katakan kalimat yang seolah mengkhususkannya. Misalnya saja: 500 ribu saja buat kamu! Meski harga sebenarnya hanya 450 ribu, jika teman Anda apes maka akan langsung mengeluarkan uang 500 ribu untuk membeli barang Anda seharga 450 ribu itu.

Jangan lakukan pemerasan terselubung dan masif kepada teman, jika teman Anda tidak terlalu nggateli.

Selalu berhati-hatilah dalam menawar, termasuk menulis segala sesuatunya di media sosial, khususnya grup jual-beli Facebook. Tidak semua orang memberi sikap jujur sepenuhnya, bukan maksud berperasangka buruk, hanya saja kalau rugi jangan banyak-banyak. //

Tinggalkan Komentar

0 Comments