Pisau Bedah Analisis Berita; Dipakai Semua?

Secara garis besar, dalam penggunaan pisau bedah analisis berita terdapat 2 sudut pandang (paradigma) raksasa. Paradigma pertama adalah positivistik, dan satunya disebut kritis. Kedua paradigma mempunyai ciri yang khas antara satu dengan lainnya, tidak bisa disamakan begitu saja.

Seyogyanya seorang wartawan atau siapapun yang berkecimpung ke dalam pengolahan wacana, khususnya teks, sadar dengan paradigma yang sedang digunakannya. Seorang aktivis media, Suzanne Patner dalam How to Analyze The News memakai COPS methods. COPS sendiri merupakan kepanjangan dari beberapa hal mendasar yang menjadi bahan analisis tersebut, sebagai berikut:
  1. Context, kenal dengan penuh terhadap teks yang dihadapi seorang analis merupakan syarat wajib. Pembacaan yang penuh dan menyeluruh akan mendukung memahami serta mengenal konteks lebih lanjut. Secara lebih rinci, konteks dapat dilihat melalui klasifikasi 5W+1H serta informasi lainnya sebelum dan sesudah peristiwa yang dikabarkan dari teks.
  2. Opinion, terkait metode selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah pendapat atau opini. Dalam tulisan pemberitaan (news), tidak boleh memasukkan opini pribadi penulis. Seorang wartawan harus menjaga jarak, sehingga seorang analis mesti memisahkan antara opini dengan fakta untuk menganalisisnya.
  3. Perspective, Seorang analis tidak boleh membawa emosi pribadi dalam kepenulisan analisis. Selain itu (karena sudah menjaga jarak dengan objek dalam pemberitaan) maka akan menghasilkan laporan yang objektif. Perspektif di sini juga perlu melihat apakah berita yang hendak dianalisis tersebut bersifat informatif atau tidak.
  4. Source, melihat dari mana teks tersebut diperoleh, dikelola, dan disebarkan merupakan metode analisis selanjutnya. Bandingkan pula berita dengan banyak sumber lainnya, cek kembali apakah sumber kredibel atau tidak. Mempunyai nama baik atau tidak? Juga perlu gunakan metode triangulasi guna mengecek keabsahan sumber tersebut.
Metode COPS di  atas sangat cocok dengan paradigma positivistik dalam analisis berita. Paradigma positivistik membuat media (seolah-olah) benar-benar netral. Sedangkan pewarta yang memakai paradigma kritis akan langsung mencari pelakunya dengan masuk ke dalam objek pemberitaan. Hal itu masih satu perbedaan atau ciri khas antara paradigma positivistik dengan kritis terkait posisi pewarta.

Paradigma kritis jika digunakan maka akan selalu memiliki kecenderungan keberpihakan guna menjawab beberapa pertanyaan mendasar seperti: 1) Siapa pembuat berita dan pemilik media?; 2) Apa untungnya punya kontrol penuh atas media?; 3) Mana yang dominan dan mana yang tidak dominan? Mana pelaku dan mana korban?

Dalam buku Analisis Wacana, Eriyanto (2011) halaman 49 mengatakan: Dari sudut cara analisis, kedua paradigma tersebut mempunyai perbedaan yang mendasar. Paradigma empiris/positivistik, menggunakan analisis isi yang kuantitatif dengan kategorisasi yang ketat dan analisis statistik. Data-data juga diperoleh dengan melewati pengujian hipotesis tertentu. Sementara itu, paradigma kritis  umumnya kualitatif  dan menggunakan penafsiran sebagai basis utama memaknai temuan.

Dengan begitu dapat dilihat, jika hendak melakukan analisis berita pakai paradigma kritis, peran atau posisi peneliti benar-benar dibutuhkan. Sebab akan berpengaruh secara langsung terhadap hasil dari analisis itu sendiri, semua perspektif yang dimiliki analis berpengaruh besar dalam hasilnya sebab tidak ada jarak yang memisahkan antara objek dalam pemberitaan dengan analis berita. Analisis tersebut sangat subjektif, jelas bertolak belakang dengan paradigma positivistik.

Segala sesuatu yang ditampilkan maupun tersirat dalam wacana, oleh kelompok paradigma kritis, akan dimaknai tertentu dengan membawa prasangka. Akses dan kontrol penuh media dari kelompok dominan bisa melakukan pembacaan, penggiringan, pengondisian, serta pembentukan realitas sesuai kepentingan kelompok dominan tersebut. Maka langkah paling awal dari paradigma kritis, adalah mencari pelaku (orang) yang berkepentingan di dalamnya.

Agar menjadi lebih jelas, analisis positivistik bertujuan untuk beberapa hal:
  1. Mengadakan eksplanasi, menjelaskan tentang sebab-akibat peristiwa dan menjelaskan tentang kronologi peristiwa tersebut. Perlu ditekankan di sini, analisis positivistik tidak menghendaki partisipasi manusia di dalamnya (nonhuman participant).
  2. Melakukan uji hipotesis secara umum. Tidak boleh memasukkan nilai, etika, dan moral dalam proses analisis.
  3. Membuat prediksi atas data-data kuantitatif yang menggunakan tes statistik. 
Analisis positivistik harus netral, maka adanya nonhuman participant benar-benar nyata. Jarak antara analis dengan objek berita itu sendiri membuat seolah-olah teks dibuat secara wajar dan alami tanpa adanya perlakuan khusus yang mendukung kepentingan tertentu. Sehingga kelompok positivistik akan menganggap analisisnya sebagai objektif.

Perbedaan lainnya dengan paradigma kritis dalam melakukan analisis adalah; analis yang memakai paradigma kritis secara umum akan memakai pendekatan kualitatif yang menghendaki posisi peneliti. Seorang analis akan masuk dan bersinggungan secara langsung dengan objek dalam teks yang diberitakan tersebut. Maka akan berdampak menjadi analisis yang memiliki keberpihakan, jelas-jelas subjektif, dan bertujuan untuk transformasi sosial.

Peran ideologi yang dibawa oleh analis maupun wartawan benar-benar berpengaruh besar dalam usaha melakukan analisis teks dengan pisau bedah paradigma kritis. Kematangan dari subjektif analis sendiri amat diperlukan. Sebab bisa saja media sebagai sarana paling utama menyebarkan suatu ideologi terkait kecenderungan tertentu penulisnya.

Media berperan dalam mendefinisikan realitas. Di sini, ada dua peran yang dimainkan media. Pertama, media adalah sumber dari kekuasaan hegemonik, di mana kesadaran khalayak dikuasai. Kedua, media juga dapat menjadi sumber legitimasi, di mana lewat media, mereka yang berkuasa dapat memupuk kekuasaannya agar tampak absah, benar, dan memang seharusnya seperti itu. (Hlm. 58)

Sampai di sini, kita sebagai --setidaknya-- pembaca teks berita saja, jangan sampai menyebarkan ideologi dengan tanpa menggunakan paradigma tertentu. Sebab dalam teks itu sendiri sangat kental terhadap maksud dan tujuan pembuatnya. 

Paradigma kritis muncul sebagai penyempurna kacamata dalam memandang teks berita. Kacamata ini sangat fleksibel, sebab sangat bisa dipakai juga bagi para analis wacana. Masalahnya, jika ditodong untuk memilih salah satu paradigma, apakah Anda terlampau yakin akan saya jabarkan di publik seperti ini? Yang jelas, teks apapun termasuk tulisan ini, dapat dianalisis menggunakan pisau mana saja. //

Pisau Bedah Analisis Berita; Dipakai Semua?
Image by Krzysztof Pluta from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments