Penjaga Rel Kereta Tak Bernama

Seorang lelaki, dengan jubah putih dipakai meski hari tidak sedang hujan. Malah sebaliknya, matahari bersinar terang tanpa penghalang. Langit biru cerah tergores sedikit seperti sabetan pisau, sesosok malaikat pemberi rezeki sedang lewat, membagikan banyak hadiah kepada para pendoa khusyuk di hari Natal dan hari tidak Natal. Sedangkan lelaki dengan jubah putih duduk di gubuk kecil dari bambu, di sebelah sepasang rel kereta tak bernama, di bawah terik mentari yang silau menusuk, di seberang penjual es degan gelasan.

“Pesan es degan segelas, Pak. Pakai gula Jawa saja.”

Tidak berjawab.

Pada saat-saat yang panas seperti itu, lelaki yang saya belum tahu namanya tetap duduk di gubuk bambu yang sengaja dibuatkan masyarakat dengan gotong royong, lelaki itu cukup dengan mengarahkan tangan dari sisi kiri ke kanan, atau sebaliknya, agar pengendara bisa lewat tanpa khawatir tertabrak kereta. Sebenarnya orang-orang di sana tidak peduli mati jika itu seketika, hanya saja siksaan itu, ketika tubuhmu terseret besi dengan kecepatan 212 kilometer per jam, hancur. Namun kau masih sadar dan kesakitan sambil berteriak minta tolong.

Harus ada seseorang yang siap siaga, mengerahkan semua tenaga dan waktunya hanya untuk membuatmu tidak khawatir menyeberang, tanpa membayangkan hal mengerikan apapun. Lelaki itu hadir sebagai jawaban, tentu saja sukarela, tetapi tidak rela-rela amat. Ada perut yang perlu diisi, dan tenggorokan yang perlu dialiri, dan (seharusnya) ada 500 rupiah dari pengendara baik yang sadar keselamatan jiwa dan raganya berada di tangan penjaga rel kereta.

Dari sanalah saya tahu bahwa pekerjaan lelaki itu penjaga rel kereta. Saya orangnya pemalu dan sekarang hanya melihat dari kejauhan, tak mungkin menyapanya, meski pada secuil sisi paling baik di hati saya, ingin rasanya memberi dia sebungkus nasi.

Tidak hanya nasi saja, saya juga akan memberinya jubah putih seperti malaikat yang lewat, agar dia terlindung jika hujan datang. Juga  es degan segelas yang dia bayangkan telah memesannya. Saya akan memberinya pada hari Natal maupun hari tidak Natal. Saya cukup terbang kembali, seperti segores pisau dan biarlah orang-orang mengira bahwa saya adalah malaikat.

Kereta ke 12 lewat pada pukul 12, hari itu sungguh melelahkan. Palang pintu tidak ada, dan lelaki itu bersyukur atasnya. Lampu rambu-rambu ada dua jumlahnya, menyala pada siang dan malam, dan sekarang nyalanya kalah dengan matahari di atas sana. 

Saya tidak akan melanjutkan cerita ini soal lelaki penjaga rel kereta tak bernama, sebab akan jelas membosankan. Terlebih apa yang dilakukan lelaki itu hanya duduk sepanjang pagi, sepanjang siang, dan sepanjang malam. Dia duduk terus di sana, berdiri kadang-kadang, dan tiada pengemudi sadar kemudian memberinya sedikit uang. 

Pada waktu yang sama di kehidupan itu, seorang lelaki lain sedang berburu babi hutan. Sedang lelaki lainnya mencari ayam –di kampus. Kedua lelaki itu adalah anak dari lelaki penjaga rel kereta.

Baca juga:

Pemburu babi hutan menemukan babi yang lebih hutan, di kebun belakang kampus itu. Dia remas gagang parang, dia menjadi babi sebagai bentuk mimikri. Dan setelah sampai tepat sejengkal dari jarak babi sasaran dia berubah jadi manusia, lengkap dengan parang tajam mengayun deras dari atas ke leher babi. Meski menyadari hal itu, babi sasaran tidak akan bisa lari, dia hanya perlu mengucap kalimat yang baik-baik agar matinya mudah.

“Saya dapat ikan harga murah, Ibu!”

“Astaga anakku, kau jangan bodoh-bodoh seperti itu, ikan hanya ada di air. Sedang tidak ada ikan yang mempunyai empat kaki, dan kepala mirip babi.”

“Maaf Ibu, aku tak ingin membohongimu, sungguh!” 

“Ibu tahu, doakan saja kakakmu itu, biar dia segera lulus dan dapat kerja. Meringankan beban orang tua.”

“Kakak hari ini memburu apa?”

“Memburu ilmu, anakku.”

“Ilmu itu enak?”

“Enak sekali, sekarang tidurlah dan bermimpi mendapat ilmu yang banyak.”

“Boleh dimakan?”

“Sangat boleh, sayang.”

Lelaki itu meletakkan babi hutan seberat satu koma dua kwintal di lantai, darah menggenang, ibunya geleng-geleng. Masih berlumur darah, lelaki itu tidur di pangkuan ibunya. Usianya 21 dan dunia menyenangkan masa kecil masih digenggamnya.

Ibunya sering mendapat teguran dari tetangga, meminta agar anaknya dikerangkeng saja. Para tetangga khawatir, jika ada lelaki lain yang tergorok lehernya karena perbuatan anaknya.

“Tapi anak saya hanya akan menggorok babi!”

“Suami kami semua pekerjaannya jadi babi!”

Pertengkaran makin kacau dan hanya selesai jika sang kakak pulang. Dia semester 12 dengan jenggot di janggut. Sedang menempuh perkuliahan entah apa, tidak ada yang mau peduli, bahkan ibunya sendiri. 

“Anak kebangganku, bagaimana kabar kuliahmu.”

“Hmm, agak susah, Ibu,” dia alihkan muka, mengingat lonte kampus yang masih liar itu. “Aku masih mencari tali yang pas untuk mengikatnya.”

“Hah? Mengikat—“

“Mengikat ilmu!” sahut lelaki itu.

“Sudahlah, lupakan hal itu. Ilmu tidak bisa dimakan, dan ibu sudah bosan makan tongseng babi.”

“Bisa dimasak lain, Ibu. Sup babi misalnya.”

“Kamu satu-satunya yang sekolah, carilah lonte di kampusmu yang kaya-kaya. Kuras hartanya. Lihat adikmu, dia sudah mirip babi itu sendiri.”

Pandangan sanga anak beralih dari adiknya ke bangkai babi raksasa di sebelahnya. Dia manggut-manggut, semangatnya membara kembali. “Minta izin ke kampus buat cari lonte kaya, Ibu.”

Ibunya tersenyum. “Doa Ibu di nadimu, Nak.”

Lalaki di pinggir rel kereta tetap berjaya, dia sudah lepas semuanya. Kehidupannya sudah berbeda. Sebelum si adik berburu babi hutan, sebelum si kakak mencari lonte di kampus, dan sebelum istrinya sinting. Dia menyeberangkan seorang anak muda, kepalanya babi pakai dasi, membawa segelas kopi, dan sulit diidentifikasi apakah laki-laki atau perempuan, kecuali kau mau melepas celana dan menengok apa yang muncul di bawah perut buncitnya.

Tiba-tiba kereta melaju dari atas, menerjang kedua orang itu di bawahnya. Hancur dan meledak mirip bom atom. Saat itulah suara gemuruh yang dikira gunung tempat mati aktivis itu meledak lagi, kemudian orang-orang di sekitar berbondong-bondong melarikan diri, membawa ayam, itik, dan ikan Koi. Sebagian istri menggandeng suaminya, sebagian lainnya para suami menggandeng istrinya. Yang belum punya istri maupun suami, menggandeng pacarnya, semua peliharaan dibawa.

Bagaimana pun ceritanya, akhirnya sama saja. Saya sudah tahu sebelumnya bahwa lelaki penjaga rel kereta tak bernama telah meninggal. Dia mati tertabrak kereta, terseret 21 meter dan tubuhnya hancur. Mulutnya masih terbuka berteriak minta tolong, seseorang datang dan kaget. Merasa terancam melihat lelaki itu, seseorang tadi meminta tolong lagi. Begitu seterusnya sampai si lelaki penjaga rel kereta jadi hantu.

Sampai pada ratusan orang minta tolong serupa, lelaki penjaga rel kereta mati. Arwahnya melayang, terbang pada sisi kiri dan kanan terutama ketika terang. Menyobek langit biru seperti pisau, kemudian orang-orang akan mengira dia malaikat yang memberi rezeki hari Natal dan hari tidak Natal. //


Telah ditolak ideide(dot)id 1 Januari 2020

Penjaga Rel Kereta Tak Bernama
Image by Martin Winkler from Pixabay


Tinggalkan Komentar

0 Comments