Pelajaran dari Pemuda Pemurung 2

Pemuda itu ternyata datang juga di warung kopi janjian kita. Dia langsung berkata bahwa silakan berbuat buruk kepada saya. Namun percayalah, saya tidak akan melupakannya. Kalimat tersebut saya dengar ketika dia memesan kopi, penjaga warung kopi mengira pemuda teman saya itu adalah gembel yang sedang sinting.

Penjaga warung kopi berang dengan wajah marah penuh amarah dan api dan gelisah yang sangat menjijikan. Penjaga itu memaki kepada si pemuda karena penampilan yang amat jorok dengan bau badan seperti belum pernah mandi seumur hidup dan membisik bahwa dia tidak mungkin mampu membayar kopi segelas. Sebelum pertengkaran terdengar para wartawan kemudian beritanya ditulis dan diperjualbelikan, saya bangkit dari duduk.

Saya mengatakan bahwa pemuda tersebut adalah teman saya, kemudian saya bayarkan kopi sebagaimana keinginan dua hari lalu. Meski pada kenyataannya situasi dan kondisi tidak benar-benar mendukung hal tersebut. Saya pasrah saja, sebab pasrah memang membutuhkan hati yang lapang. 

Kami bersalaman sebelum dia mulai memperkenalkan nama. Saya tahu namanya sebagaimana dia tahu nama saya. Saya memperkenalkan diri sebagai Jusuf. Nama tersebut memang bukan nama asli di akta saya. Pemuda tersebut langsung memuji bahwa nama itu memang benar-benar cocok dan serasi untuk saya. Katanya saya ini orangnya tampan seperti arti nama yang diberikan.

Pemuda tersebut mulai menceritakan kisah hidupnya selama sekian tahun ke belakang. Saya menyadari bahwa kehidupannya mirip dengan saya, kemudian menerka-nerka alasan mengapa dia bisa bertahan sampai sekarang. Saya bertanya tentang hal itu, setelahnya dia menjawab bahwa kuncinya cuma sabar dan pasrah, tentu saja dibarengi dengan usaha meski pada beberapa saat harus memaki pakai kata-kata kotor.

Saya pun juga demikian, menceritakan beberapa kisah yang amat menyebalkan. Bahkan saya sendiri malas untuk mengingatnya. Ketika bertemu dengan pemuda itu, saya merasa bebas dan lega menceritakan apa saja tanpa takut cerita memalukan tersebar. 

Pemuda itu pertama-tama bercerita tentang beberapa temannya yang apatis. Hanya datang ketika butuh dan pergi tidak bisa dihubungi atau dimintai tolong. Dia kemudian juga menyanyikan sepenggal lagu Iwan Fals. Saya tidak tahu dari mana dia menghafal lagu Bunga-Bunga Kumbang-Kumbang tersebut.

Orang-orang datang dan pergi, silih berganti dari waktu ke waktu. Saya dan pemuda tersebut semakin akrab saja. Daftar rentetan temannya, beserta kebusukan dan sikap berengsek yang dihadirkan para teman tersebut untuknya, semakin panjang angkanya. Pada pukul sembilan malam dia pamit hendak pulang.

Saya berdiri kemudian menjabat tangannya. Jujur saja, bertemu dengan seseorang yang benar-benar membuat kamu bebas bercerita itu langka. Saya menjanjikan untuk mengobrol lagi jika diberi waktu hidup lebih panjang. Meski ada banyak sekali alasan untuk bunuh diri, bertemu satu orang yang jujur dan murni membatalkan semua alasan belakangan. Saya pernah membaca tentang contra-example dalam matematika dan tidak salah jika diterapkan sekarang.

Setelah pemuda tersebut pergi saya baru menyadari dirinya tidak mempunyai bayangan. Bahwa saya memesan dua kopi untuk diri saya sendiri. Cerita ini benar-benar membuat saya bingung, namun saya sendiri merasa nyaman dengan pemuda tersebut. 

Kelanjutan cerita tentang saya dan pemuda itu memang masuk pada ranah abstrak. Meski begitu ada satu hal yang jelas: ketika pemuda itu muncul, bayangan saya menghilang. //

Pelajaran dari Pemuda Pemurung 2
Image by Free-Photos from Pixabay

Baca juga:

Tinggalkan Komentar

0 Comments