Pelajaran dari Pemuda Pemurung

Dua jam lalu saya bertemu dengan seorang pemuda. Wajahnya sendu saja, tidak bahagia tetapi untuk disebut sedih juga tidak bisa. Dia berjalan malas seperti kebanyakan pemuda bangun tidur, setelah itu memberi saya sebuah onde-onde.

Dalam hati saya bertanya, sebenarnya apa motivasi pemuda tersebut memberi jajanan pasar yang minyaknya sudah sepenuhnya bergabung dengan keringat tangan, apakah dia benar-benar sudah yakin kalau saya hendak mengambilnya kemudian memakannya dengan segera? Tentu saja tidak. Saya menolak dan mengatakan sudah kenyang.

Pemuda itu tersenyum dan mengatakan bahwa saya terlalu lembut. Saya yang fokus dengan pembicaraan tersebut langsung merespon dengan mimik (bukan memeek) bertanya-tanya. Saya bertanya apakah sikap menolak pemberian seperti ini benar terlalu lembut.

Kemudian pemuda tersebut tersenyum lagi. Saya mulai ngeri melihat seorang lelaki tersenyum kepada lelaki lainnya dalam konteks apapun juga. Dia kemudian menceritakan bahwa sikap orang-orang, terutama teman-temannya, kepadanya, jauh lebih berengsek daripada penolakan pemberian onde-onde tersebut.

Dan kalimat yang paling membuat saya ingin segera mengambil kembali onde-onde yang sudah saya tolak tadi, adalah ketika pemuda itu mengatakan bahwa silakan berbuat buruk kepada saya. Namun percayalah saya tidak akan melupakannya. Dua kalimat tersebut benar-benar diucapkan dengan tenang, bibir tersenyum, dan mata seolah menyimpan dendam raksasa. 

Atmosfer di sana menjadi amat tidak nyaman. Saya mulai dengan gerakan tidak baik: menggaruk sesuatu di belakang kepala saya, menoleh ke kiri dan kanan, dan ternyata sikap tersebut dilihat serta disadari olehnya. Pemuda tersebut berkata menyuruh saya supaya lebih tenang, dia melanjutkan perkataannya bahwa dia tahu kalau saya tidak punya maksud buruk.

Saya langsung meminta maaf kepadanya, entah siapa yang menggerakkan saya minta maaf. Kemudian dia tersenyum yang seperti tulus dan murni. Kemudian kami berjabat tangan, berjanji bertemu lusa di kedai kopi ini lagi. Saya tidak sabar menunggu lusa agar bisa segera membelikan pemuda yang saya belum tahu namanya itu --setidaknya-- segelas kopi. //

Pelajaran dari Pemuda Pemurung
Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments