LPM DIMeNSI: Dari Mahasiswa Baru Sampai Warga Sipil

Kantor LPM DIMeNSI dapat ditemui dalam kampus IAIN Tulungagung, tepatnya sebelah utara musala. LPM DIMeNSI juga dapat diundang krunya, caranya sangat mudah, tinggal singgung sedikit terkait apa saja yang ada di dalamnya. Niscaya krunya –setidaknya beberapa—akan ikut tersinggung dan mencoba menemui Anda.

Dulu, sekitar 5 tahun yang lalu saya masih menjadi mahasiswa baru. Sebelum mendaftar di sana, saya melihat kumpulan orang-orang besar (badannya), hitam, gondrong semua, dan bau ketiaknya sudah tercium dari jarak 10 meter. Ditambah lagi aura di depan kantornya seperti kematian. 

Namun sialnya, dan hidup ini memang sialan sekali, saya mendaftar kemudian masuk. Tidak ada alasan yang spesifik mengapa saya melakukan hal itu. Bahkan sampai sekarang, jika ditanya mengapa masuk LPM DIMeNSI, maka jawabannya adalah EMBOH COK RASAH TEKOK!

Saya mendaftar sendiri, tidak mengajak siapapun sebagaimana saya tidak diajak siapapun. Tidak ada yang saya harapkan dengan menjadi bagian dari lembaga tersebut, dan ternyata itu menjadi kenyataan. Tidak ada satu pun keahlian yang benar-benar saya kuasai. Tetapi, dalam ruang kumuh seburuk apapun itu, tetap ada sisi positifnya. Misalnya: betemu dengan orang-orang tidak berguna lainnya.

Pada waktu yang sudah lalu saya sempat merasa bahwa sayalah satu-satunya manusia yang paling tidak diinginkan oleh semesta. Ternyata tidak demikian dan anggapan di atas terlalu egois belaka. Masih banyak orang yang tidak diinginkan lingkungannya berasal, orang-orang itu sebagian berada di LPM DIMeNSI. Semakin menyedihkan cerita kehidupan yang disajikan, maka saya akan semakin semangat untuk merangkulnya.

Selama proses empat tahun itu tidak terjadi apa-apa. Saya tetap menduduki jabatan strategis sebagai pembuat kopi dan tukang menstaples koran menggantikan Mas Arif R.A.. Bahkan sampai sekarang saya masih mendudukinya, setelah setahun lepas dari struktur kepengurusan. Tentu saja di samping jabatan sebagai dewa mabuk setelah Mas Udin dan Mas Rizal.

Alasan saya menulis ini sederhana saja, saya bertanya haruskah setiap demisioner merasa malu untuk datang kemudian menumpang tidur saja? Seperti halnya orang-orang yang sudah lama lulus, sebut saja H Niskala, Si Morfo Biru, dan seluruh orang lainnya?

Jika demikian, maka saya belum menemukan rasa malu itu. Belum punya pekerjaan membosankan seperti milik Gustave Aschenbach yang memakan lebih banyak waktu. Sehingga sebagai penganggur bijaknya disyukuri terlebih dulu, karena punya kelebihan waktu luang yang tidak dimiliki para manusia lainnya.

Adanya istilah warga sipil tentu saja merupakan cerita baru. Saya yakin sebelum ini tidak ada penyebutan demikian. Warga sipil sebagai candaan belaka, ucapan yang ditujukan kepada seseorang yang sudah lulus kuliah dan demisioner dari organisasi. 

Saya sangat menantikan hal itu, terutama ketika warga sipil angkatan saya berkumpul kembali, merayakan kebebasan dari tekanan yang dirindukan. Namun tampaknya mereka sedang sibuk semuanya, barangkali hanya saya yang menganggur dan menjadi lebih tidak berguna dibanding sebelumnya. //

LPM DIMeNSI: Dari Mahasiswa Baru Sampai Warga Sipil
Sumber

Tinggalkan Komentar

0 Comments