Laki-Laki, Kerja, dan Mertua

Telinga saya belakangan ini sering mendengar tentang pernikahan –lengkap beserta keluh-kesah di dalamnya. Usia teman-teman saya waktu kuliah dulu, sekarang ini terutama yang perempuan, (dianggap) sudah waktunya untuk menikah. Sedang teman-teman saya yang lainnya, terutama yang laki-laki, sedang sibuk berkeluh tentang mencari pekerjaan yang mensejahterakan.

Saya benar-benar tak habis pikir, kekhawatiran tentang materi menggerus semua pedoman serta pondasi yang sudah dibangun. Mereka tetap mengambil pekerjaan misalnya menjadi anjingnya birokrasi agar sejahtera. Itu semua terserah kepada mereka.

Hal yang saya bingungkan lainnya tentang pekerjaan itu sendiri. Mengapa sebelum menikah, khususnya untuk laki-laki, harus mempunyai pekerjaan? Saya pun pernah disambati oleh seorang teman semalaman, bahkan teman saya itu menangis dipermainkan keadaan. Bahwa lamaran yang dia lakukan ditolak hanya karena dia belum bekerja. itu yang para mertua cari: pekerjaan. 

Bayangkan jika semua orang mencari kerja hanya untuk meyakinkan para calon mertua, bahwa jika anaknya menikah dengannya tidak akan –setidaknya—kelaparan. Jangan sampai hal demikian bergeser menjadi: mencintai pekerjaan calon menantu bukan mencintai orangnya.

Meski saya mengatakan itu semua, saya ini menganggur. Menjadi gembel di kota orang dan dianggap intelek di desa berasal. Tidak semua orang tahu kehidupan saya yang sebenarnya, saya bebal dan miskin. Memiliki hati yang lemah dan gampang terombang-ambing, tidak kenal dengan dunia perpolitikan, tidak punya banyak teman, dan yang paling jelas terlihat adalah saya ini menyebalkan.

Terlepas dari itu semua, mungkin Tuhan merencanakan sesuatu entah apa untuk kehidupan saya. Teringat kembali dua baris kalimat di pembatas buku Brida. Kata-katanya sangat saya sukai.

Tidak ada hal yang betul-betul salah. Bahkan jam rusak pun benar dua kali dalam sehari. (Paulo Coelho)


Laki-Laki, Kerja, dan Mertua seloki
Dokumen pribadi


Tinggalkan Komentar

0 Comments