DAPUR: Prolog

Tidak ada rumah yang selalu baik-baik saja selamanya. Satu-satu persatu menemui waktu rusak. Sedang matahari sore terlihat jingga dari jalanan depan suatu rumah. Bagian belakang tempat tinggal itu menjulang, seolah menusuk matahari sore yang jingga dan tidak menyilaukan.

Sepasang mata datang bertamu. Rumah itu sepi saja. Wilayah itu kini menjadi kota hantu. Tidak ada kegiatan manusia yang berisik sebagaimana ikan-ikan bercengkerama di dalam air. Anggap saja tempat tinggal itu sekarang tidak memiliki penghuninya. Meskipun di sebuah kamar tengah, seorang lelaki selalu rebahan tanpa peduli dengan dunia luar.

Bocah-bocah tidak sekolah karena satu-satunya guru di SDnya hamil. Mereka bermain gundu di halaman rumah kosong. Rumah yang tidak memiliki nama. Hanya ada kesuraman yang nyata. Orang tua mereka segera datang satu-satu, mengambil anaknya dari tempat itu. Seolah akan terjadi bencana yang mengancam keselamat negara ini.

Kesuraman yang benar-benar itu sedikit terurai. Seorang pahlawan bukan datang dari bangsa manusia, dia adalah suara aliran air di belakang rumah. Sungai yang airnya digunakan untuk mengairi persawahan seluruh kota, serta sungai yang selalu dipancingi orang-orang nekat. Para pemancing percaya, ikan selalu tersedia lebih banyak di tempat-tempat yang dianggap angker.

Sepasang mata yang bertamu mengintip lelaki yang entah hidup atau mati. Dia melewatinya dan langsung ke belakang. Di sanalah dia sekarang, di dalam ruangan yang ujung bangunannya menjulang seolah menusuk matahari sore.

Selama beberapa saat dia terdiam. Melihati setiap bagian dan benda-benda di dalam sana. Sepasang mata tahu bahwa para manusia menyebut tempat semacam itu sebagai dapur. Penampakanya berantakan saja, di ukurannya yang tidak lebih luas dari lapangan voli, dipenuhi benda-benda seperti pisau, ulekan, panci, luweng, bahkan celana dalam bekas yang terinjak-injak di alas tanahnya.

Dia berpikir pastilah ada sesuatu yang pernah terjadi di sini. Tidak ada dapur yang sepi. Oleh karenanya, sepasang mata berharap memiliki mulut agar bisa bercerita, atau telinga yang bisa mendengar, atau tangan yang bisa meraba, atau hidung yang bisa membau.

Sepasang mata itu menangis. Keluarlah air mata sebagai kesungguhan ingin tahu yang jadi raksasa. Keajaiban datang tanpa diduga, sepasang mata merasuk dan kini menjadi mata lelaki di dalam kamar. Dia mengajak tubuh lengkapnya untuk ke dapur, kemudian mereka bercengkerama dengan barang-barang. 

Lelaki yang memiliki mata baru itu tidak berbahagia, pun tidak bersedih. Seolah emosinya telah hilang bersama kenangan-kenangan di rumah itu, di dapur itu. Kemudian dia mulai menangis, air mata dari sepasang mata yang telah memiliki tubuh utuh. 

Kenapa, aku menangis? Batin lelaki itu. 

Dia mengusap mata barunya dengan ujung telunjuk. Menyadari bahwa benar-benar menangis. Tapi yang lebih penting adalah menyadari bahwa ada sukma lain di dalam tubuhnya. Yang –barang kali—merasakan kesedihan serupa dengan lelaki itu. Yang membuatnya jadi kerbau kamar yang hanya rebahan. Yang tanpa semangat dan selalu dipenuhi kesuraman. Yang menjadi sebab rumah itu sepi. Yang merusak pemandangan matahari sore sepasang mata.

Kau, siapa? Batin lelaki itu lagi.

Sesuatu membisikkan di perasaan. Sehingga percakapan itu telah dimulai.

Melihat keindahan matahari sore adalah impian bagi sebagian orang. Saat itulah matahari tidak menyilaukan. Dapat ajak bicara, kemudian matahari itu akan menyampaikan, ada semesta lain yang lebih besar daripada dunia yang kau anggap hanya satu ini.

Sepasang mata yang langsung jatuh cinta pada keramahan matahari sore seketika itu jatuh cinta padanya. Sebuah keyakinan untuk membuktikan bahwa dia benar-benar cinta adalah sepasang mata akan menggunakan matanya untuk selalu menatap matahari sore. 

Hari berlalu, tahun berganti, dan seratus tahun adalah satu minggu setelah hari ini. Siapapun yang mendengar kisah cinta sepasang mata dan matahari sore akan meneteskan air mata. Sebab keyakinan sepasang mata mulai terusik.

Belantara rimba yang menjadi tempatnya selama ini hilang. Satu-persatu rumah didirikan. Semakin tinggi, semakin jelek, semakin rapuh. Mengancam sepasang mata menatap kekasihnya. Bencana datang silih berganti, kesedihan dan kemuraman selalu datang, kebahagian enggan menetap untuk waktu yang lama.

Pada akhirnya eyakinan meredup. Jika sebelumnya dia harus menatap matahari sore, maka sekarang dia setidaknya harus merasakan sinar hangatnya. Tidak perlu berbohong, semua kekasih juga demikian. Terlalu lama terbiasa akan membuatmu berpikir bahwa kau bukan yang terpilih.

Kau melihat sepasang mata itu bersyukur. Setiap matahari terbit, dia merasakan semangat yang tiba-tiba terbakar. Cinta itu menjadi benar-benar karena jika salah satu tiada, satu lainnya tidak berarti. Sepasang mata akan sia-sia tanpa matahari, sebab dialah api yang menyinari sepasang mata yang buta. Matahari lebih baik tidak ada jika sepasang mata tidak melihatnya.

Saat itu kau masih memperhatikan. Kemudian tertarik dengan sepasang mata itu, dan dia telah masuk ke sebuah rumah sebelum kau sempat melihatnya. Namun sekarang ini, sepasang mata itu sudah berada dalam semesta dirimu.

dapur prolog, seloki.com
Image by Peter H from Pixabay

Kau berdiri di tempat sepasang mata itu tadi. Menatap apa yang dilihatnya, dan mendapati bahwa dirimu sedang ditusuk bagian belakang yang menjulang dari rumah di depan itu. Sekarang adalah waktumu bersiap untuk pamit, sebab tidak ada matahari yang muncul pada malam, kau berencana untuk menjemput sepasang mata ketika pagi nanti. 

Aku tidak sendirian, bisikmu seolah kau sedang berada dengan sesuatu. 

Pandanganmu kini berubah. Setiap benda dan suara memiliki warna. Dan rumah itu --terutama pada bagian dapur-- memiliki warna kematian. Warna yang lebih muram dari apapun warna yang pernah kau bayangkan. Kau menutup mata di malam itu, namun kenyataan semakin jelas dalam kegelapan. Bahwa ada cerita di dapur yang mesti kau cari tahu kelanjutannya.

Tinggalkan Komentar

0 Comments