DAPUR: Pisau

Sepasang mata melihat pisau di sela apitan bambu dipan. Seperti manusia, pisau itu tampak tua, dengan noda kecoklatan nyaris pada seluruh tubuhnya. Saya mengamatimu dengan ragu-ragu. Terpancar warna abu-abu pucat dan gelap. Saya ingatkan padamu, bahwa cerita tentang dapur di sini lebih lekat dan kental tentang kesedihan, bahkan mungkin saja tidak akan dijumpai candaan. Sebab pisau --bagaimana pun bentuknya-- digunakan untuk mengiris dan memotong.

Pisau yang kecil dari besi kualitas rendahan dan gagang kayu murahan itu menunjukkan diri. Kau keluar dari sela bambu tempat berdiam selama ini. Berada di genggaman tangan lelaki ini. Menyapa pada sepasang mata saya yang sekarang menjadi mata sang lelaki.

“Kau inginkan aku bercerita?” Tanya pisau itu.

“Tentu saja?”

“Tapi kau hanya sepasang mata.”

“Tidak salah. Aku akan mendengar dengan telinga lelaki ini sebagaimana aku berbicara menggunakan mulutnya.”

Pisau yang dilupakan mencari posisi duduk paling nyaman. Dia kembali ke sela bambu dan mengatakan bahwa di sanalah tempat yang seharusnya. Tangan lelaki yang tadi menggenggam kemudian melepaskan, saya amati semua suasana di dapur. Tidak ada yang jauh berbeda, hanya dapur biasa yang sederhana, kumuh, dan tentu saja: kotor. Satu-satunya yang bakal terjadi dengan dapur demikian hanyalah dilupakan.

Namun saya mempunyai rencana lebih baik untuk itu. Dapur paling tradisional akan ditulis ceritanya oleh si lelaki, tubuh ini lebih baik melakukan kegiatan menulis --meski tidak dibaca-- daripada hanya rebahan mirip kerbau. Manusia sama sekali bukan kerbau, hanya binatang kerbau itulah yang tidak akan bergerak jika tidak dicambuk. 

***

Dahulu, pisau ini telah digunakan oleh nenek dari ibu lelaki yang sedang bersama sepasang mata. Seperti kebanyakan pisau, dia dipakai mengiris dan membelah. Diasah kembali meskipun membuat tubuh yang kecil makin kecil saja. Di sisi lain, tubuhnya yang makin ramping menambah ketajaman sehingga bahan-bahan masakan semakin mudah dibelah.

Perjalanan pisau ini tidak mudah belaka. Sebelum jadi pisau dan sebelum dimiliki seseorang, tubuhnya yang masih balok mentah dipanaskan dan dipukul, dipanaskan lagi dan dipukul lagi. Begitu seterusnya seribu kali, sehingga dibentuk menjadi yang sekarang. 

Pelajaran dapat diperoleh dari mana saja, termasuk pisau ini. Seratus sepuluh hari yang lalu, saya melihat seseorang yang mengeluh tentang kehidupannya. Kemudian dia gunakan pisau yang nyaris sama untuk memangkas hidup sial melalu tenggorokan. Dia sama sekali tidak belajar dari pisau.

Sedangkan tangan pertama yang memakainya begitu halus dan sadis dalam waktu yang bersamaan. Dia gunakan pisau sebagai alat pembunuh atas ikan-ikan hasil memancing. Juga bumbu-bumbu yang perlu diatur dengan cara dipotong-potong.

Ikan yang sekarat karena dipukul pakai batu hitam menjadi benar-benar mati ketika kepalanya terpenggal. Kali pertama pisau itu merasa ngeri, menyadari bahwa dirinya bisa dipakai untuk keperluan luar bisa menyangkut nyawa. Sekaligus khawatir, jika keperluan tentang nyawa itu adalah milik manusia.

“Tapi nenek dari ibu lelaki ini begitu baik,” kata pisau itu selanjutnya.

Dia mengaku tidak pernah dipakai untuk hal-hal di luar kewajaran sebagai pisau. Untuk beberapa masalah dia mesti melakukan pekerjaan yang seharusnya milik pisau yang lebih besar.

Anak lelaki dari perempuan itu mengambil dirinya. Memakai untuk memotong bambu yang kering dan keras. Peran itu dijalani dari pagi hingga sore. Masih sedikit anak-anak yang sekolah, mereka akan belajar di sebuah bangunan jika memiliki uang. 

Sore hari perempuan itu mencari dirinya, kemudian menanyakan pada anak yang ternyata anaknya. Ayah dari kakek buyut lelaki ini.

Kuping lelaki itu dijewer hingga memar dan tidak sembuh selama tiga hari. Tidak hanya itu, sapu lidi yang diambil tiga batang diayunkan dengan keras ke pantatnya yang telanjang. 

Perempuan itu marah, sebab pisau barunya digunakan untuk hal-hal di luar batas kekuatan besi. Menjadikan sisi tajamnya bergelombang. Perempuan itu mesti mengasahnya lagi di batu yang didapat dari bagian selatan desa, yang artinya membuat pisau itu semakin kecil dan ramping.

Ya, ya, ada sebagian penyesalan pada diri sang perempuan. Esoknya, dengan kuping anaknya yang tampak memar, dia melihat lelaki itu riang di halaman yang masih luas menaikkan layang-layang.

Perempuan itu tahu benang yang dipakai anaknya adalah gulungan untuk menjahit miliknya. Dia tersenyum manis, cantik, dan memukau. Bahkan perempuan itu juga tahu, bahwa bambu kemarin yang diiris memakai pisaunya hingga bergelombang, sebagai rangka dari layang-layang.

“Perempuan itu berbalik padaku, memegangku dengan lembut seperti biasa.”

Dia mengiris bawang merah dan putih. Membagi tomat merah menjadi empat bagian dari pohon tomat sebelah tembok rumah. Juga cabai merah dan hijau. Hari itu bukan pekerjaan berat untuk sang pisau. 

"Dahulu kala, semua bahan-bahan mudah didapatkan. Jika tidak dari halaman sendiri, kau bisa meminta dari halaman tetangga. Itulah gunanya pintu belakang di rumah ini," jelas pisau selanjutnya.

Tiba-tiba dirinya diletakkan di sebelah bahan-bahan yang telah terpotong-potong. Perempuan itu bergegas pergi, kembali dengan buru-buru pula setengah berlari. Berjalan ke arah sumur dan mencuci sesuatu di sana.

Si pisau yang menunggu dipergunakan kembali menimbang-nimbang apa yang hendak dibuatnya. Dia mendekatinya dan mengiris dua wadah ikan pindang.

Jelas saja nanti sore adalah pesta. Keluarga itu tidak pernah makan dengan bermacam-macam begitu. Kemudian ditambah dengan sambal yang dibuat di atas batu teman si pisau. Digoreng juga empat telur ayam dari pekarangan belakang dapur dalam wajan yang pisau kenal.

Pindang yang telah dibersihkan duri dan dihilangkan kepalanya dengan pisau, dimasukkan ke wajan yang telah ditumis bumbu-bumbu dan ditambah air. Dia hanya akan menunggu hingga airnya meresap dan membuat pindang itu matang. Keluarga itu menyebut masakan dari pindang dan bawang dan cabai dan tomat sebagai sarden.

Semuanya disiapkan di meja makan. 

Siang hingga sore hari itu tidak terik seperti hari-hari lainnya. Melihat langit akan menyenangkan. Ditambah menaikkan layang-layang. Hal-hal menyenangkan membawa pelakunya pada kelupaan waktu. Itulah yang terjadi pada si anak.

Sang perempuang yang mengambil tiga batang lidi kemarin datang mendekat dari belakang. Membawa tiga lidi yang sama. Menampar betis lelaki yang kaget dan meringis. Semua kejadian itu dapat dilihat dari pintu samping dapur. 

“Cepat mandi! Terus salat! Sudah petang!”

Kalimat itu masih diingat oleh pisau. Tiga kalimat yang diucapkan secara dua kata-dua kata dan dalam kegeraman yang luar biasa.

Layang-layang yang telah melambung menjadi mungil di langit ditali pada ranting pohon mangga. Berlari ke kamar mandi dan benar-benar mandi. Ibunya hanya melihat anaknya sebelum tersenyum. Ada rasa tenang di hati ketika anaknya menjadi penurut dan tidak bermacam-macam.

Anak itu tidak akan kebingungan, pun tidak menuntut jika kedinginan. Dengan handuk kecil menutupi pusar, kelamin, dan sebagian paha, lelaki itu berlari ke kamar. Segera pakai baju dan celana panjang, dia benar-benar salat.

Ibunya mengatakan untuk segera makan. Begitulah hari-hari indah dan tenang terjadi di rumah itu. Tanpa kecurigaan apapun, si anak mengambil sendiri nasi, tampak girang ketika melihat lauk sarden kesukaannya berada di meja. 

Sepiring yang penuh dan bakal memenuhi perutnya yang kecil itu dibawa ke depan rumah. Duduk di sana sambil menanti bapak pulang. Dimakannya masakan ibunya dengan lahap. Lagi-lagi, perempuan itu tersenyum melihat anak lelakinya dari pintu dapur.

***

Cerita senang dalam kemiskinan bukan tidak tanpa akhir. Cerita itu berakhir setelah sebuah kabar. Desas-desus yang berusaha ditolak telinganya. Bahwa sang lelaki dewasa sering bermain perempuan.

Setiap perempuan tidak akan terima jika suaminya tertarik selain dirinya, jika tidak semua perempuan, setidaknya perempuan itu. Sang anak lelaki meletakkan layang-layangnya di belakang sepeda butut. Dia berusaha berlindung dari atmosfer yang makin berat.

Dirasainya seakan langit akan runtuh. Kamarnya menjadi pengap. Udara menghilang. Dia berlari ke rumah teman sebaya, tidak didapati kesenangan yang biasanya. Dia berusaha sampai di kali depan rumah. Airnya kering karena musim jagung. Dia kembali pulang dengan lemas. Melihat tepat lima meter ketika bapaknya menampar ibunya.

Itulah kali terakhir cerita senang dalam kemiskinan menjadi cerita sedih dalam kemiskinan. Perubahan yang cepat. Pisau yang diasah untuk makan sekeluarga nyaris digunakan untuk menggorok leher manusia. Hampir saja. Perempuan itu menangis karena memiliki niat buruk. Keadaan yang salah ketika anak lelaki itu datang.

“Aku melihat perubahan itu. Kehidupan anak lelaki menjadi rumit dan mengerikan. Terlalu sedih untuk disebut paling menyedihkan. Aku sempat yakin, bahwa kesedihan itulah satu-satunya kesedihan yang paling sejati.”

Dapur: Pisau seloki.com
Image by Michi-Nordlicht from Pixabay

Kau membalikkan punggung. Seakan hendak menangis tapi tak ada air apapun yang keluar dari tubuh. Tapi saya tahu, ada sebuah empati yang amat besar. Kau rasai kesedihan anak lelaki itu, meski tidak semuanya. Bahkan hanya secuil saja.

Hari-hari berikutnya seperti kiamat. Ibunya menjadi galak. Lebih barbar dari binatang kelaparan. Setiap hari, anaknya selalu mendapat tamparan. Paling beruntung jika hanya maki. “Kau anak sial! Tidak berguna! Aku menyesal telah melahirkanmu!”

Itu tidak seberapa. Sungguh. “Kau kira bagaimana tembok di dapur itu berwarna pucat?” tanya pisau.

Pisau itu menjelaskan, bahwa –setidaknya empat kali— kepala sang anak dibenturkan dengan keras ke sana. Tentu saja sambil terus memaki. Ibunya menganggap semua lelaki seperti sang suami. Dia tidak rela ada perempuan sakit hati, selain dirinya, karena lelaki anaknya.

Sebelum perubahan itu menjadi raksasa, seorang tetangga datang ke rumah. Dia sedikit takut. Berkeringat. Dan tampak habis dikoyak. Dia seorang kembang desa, tidak cantik, tapi montok. Perempuan itu mengadu, tanpa peduli dirinya belum dibuatkan kopi, maupun teh. Lelaki sang perempuan yang didatangi rumahnya telah melakukannya, berkali-kali. Dia katakan itu sambil memegangi perut.

Perempuan yang lain belum terlalu paham. Sebenarnya dia sudah memikirkan kemungkinan paling buruk. Tentu saja kau bisa melihatnya dari dapur. Raut wajah yang aneh itu. Hingga semua benar-benar berubah. Sang suami pulang dan melihat kembang desa berada di ruang tamunya, kaget seakan seluruh kemaluannya berada di depannya.

Sesuatu terjadi begitu cepat. Senja menjadi sesuatu paling dibenci sang anak. Dia berhenti bermain layang-layang. Menaruhnya di bagian rumah belakang. Tanpa tahu apa-apa, naluri anak memang selalu saja baik. Dia berlari menjauhi rumah setelah mencoba mendekam di kamar. Ada suatu perasaan yang tidak bisa dijelaskan olehnya. Oleh pikirannya yang masih sebesar biji kedondong. Tapi dia  merasakannya!

Itulah yang sebenarnya terjadi. Pisau itu melihat ketika sang anak pulang. Berada pada satu garis lurus, dan di antara pisau di dapur, dan anak laki-laki di pintu, tepat di ruang tamu kedua orang tuanya bertengkar. Salah satu menampar muka. Satunya lagi memaki tiada henti.

Perempuan tamu itu entah ke mana. Padahal belum diberi jamuan yang layak. Dia seakan hilang begitu saja. Sebuah kabar tidak bisa diterima, yang disampaikan langsung ke rumah tangga itu. Barangkali dia menyadari, dirinya datang bukan sebagai tamu. Tapi sebagai bencana, yang telah dirawat oleh lelaki dewasa.

Sang anak menangis tujuh hari enam malam. Begitulah kebenarannya, anak itu malu menangis untuk menggenapi tujuh hari tujuh malam, sebab pada malam terakhir dia dibawa oleh kakak dari ibunya. Menjauhi rumah yang penuh kenangan. Tentu saja, kenangan yang sama sekali tidak mau dia ingat. Kenangan yang berusaha dia lupakan dengan keras kepala. Paman yang penolong.

Untuk beberapa waktu, sang pisau menganggap bahwa ibu sang anak telah gila. Dia menangis pada kesendirian, kemudian tertawa tidak terkira. Dia benar-benar sendiri di rumah itu. Tidak ada dua polisi yang mencoba memperkosanya. Desa itu tidak memerlukan polisi, yang mereka butuhkan hanya ahli agama yang tidak menceritakan tentang neraka.

Pamannya yang sabar mengobati luka di kepala sang bocah. Setidaknya dia masih hidup, meski pernah punya keinginanan untuk lupa ingatan permanen. Sedangkan pada waktu yang sama di tempat yang berbeda, ibunya meratapi tembok yang sempat menjadi pembentur kepala anaknya, juga kedua telapak tangannya, juga foto keluarga yang dibeli dari uang simpanan keluarga yang sekarang teronggok di dalam sisa-sisa kayu bakar.

Perempuan itu tidak mati. Hanya sinting. Meski setelah sebelas tahun kemudian dia tetap mati. Anaknya bingung hendak bersedih atau biasa saja. Sedangkan sang suami sudah tidak pernah terlihat sejak perubahan yang lalu. Rumah itu kosong untuk waktu yang lama, pisau sudah tidak dipergunakan, diapit dipan bambu sama ketika saya datang.

Sebelas tahun itu digunakan untuk bertemu anaknya. Menyelinap dari pengawasan kakaknya, bukan untuk memberi sekotak nasi atau menanyakan kabar. Perempuan itu akan mengguncangkan tubuh mungil anaknya pada bagian bahu, dilakukan sambil memaki, mengatakan bahwa dirinya adalah anak paling menyedihkan dan tidak berguna. Anak yang hanya menyusahkan. Serta berkali-kali mengakui penyesalan telah melahirkannya. Semua dilakukan tepat di depan mata anaknya.

Setelah sekian menit melakukannya, dia akan menampar. Membanting. Dan menggedorkan kepala bocah itu ke pintu sehingga semua penghuni rumah berdatangan. Saat itulah penderitaan sang anak berhenti sebentar. Ibunya diseret menjauhi, meski demikian dia masih sempat meludahi. Benar-benar ibu yang gigih.

Kau tidak mendapatkan cerita itu dari pengamatan. Sebab kejadian berada di rumah paman. Kau mengatakan bahwa cerita itu dari pisau lain. Pisau yang digenggam sang perempuan dan nyaris digunakan untuk menusuk anaknya.

Sebelas tahun berlalu. Kematian perempuan itu sunyi saja, seperti TAS. Tapi percayalah, perempuan itu bukan manusia yang berpengaruh. Selain menghancur-leburkan hidup seorang bocah yang merupakan anaknya.

***

Saya mengalihkan pandangan dari pisau. Dia tampak risau. Meminta izin bertapa kembali. Pada sisi bilah atas, tergantung panci yang pantatnya hitam busuk bukan main. Panci itu menatap ragu pada saya, juga pada pisau yang telah tertidur, dia kemudian turun. Menimbulkan suara gemuruh yang selalu dikira hantu dapur.

“Jadi kau penyebab hantu-hantu dapur muncul?”

“Omong kosong. Aku tidak terima dengan cerita si pisau.”

“Lantas?”

“A-aku…”

“Kenapa?”

Saya merasakan pribadi yang lemah dan ragu. Tubuhnya ternyata lebih ringkih daripada yang saya kira.

“Aku mau bercerita juga.”

“Benarkah—“

“Tentu saja!” jawabnya cepat.

“Cerita ini tidak akan menarik. Mungkin. Setidaknya aku akan bercerita, dan kau mendengarkan. Kau tahu maksudku? Setelah kau mengerti, kau memiliki tanggung jawab atas ceritaku.”

Sekarang, saya yang merasakan diri ini sebagai pribadi yang lemah dan ragu. Dengan tidak yakin, saya menjawab: baiklah. //

Tinggalkan Komentar

0 Comments