DAPUR: Panci

Setiap hari kau selalu berurusan dengan dua elemen kehidupan. Cair dan panas. Air dan api. Hampir seluruh kegunaanmu adalah memasak air sebagaimana kau ceritakan kepada saya. Setiap pagi dan sore hari. Kadang-kadang ketika subuh entah untuk apa.

Sekarang kau turun, memasang bagian hitam dari pantat di atas dipan bambu. Berada di samping pisau yang saya yakin juga mendengarkan. Bagian dalam tubuh panci lebih bersih daripada luarnya. Sedang di atas pantat yang hitam, terdapat debu tahunan.

Panci itu mulai bercerita dari mulut yang entah di mana. Suaranya begitu saja muncul. Percayalah, bahwa ketika mendengar suaranya yang yakin, kau tidak akan tahu bagaimana keadaan dunia luar. Andai saja saya sedang melamun, pastilah kesadaran saya bisa diambil alih olehnya.

“Aku barang baru,” katanya.

Dia bercerita bahwa sebelumnya keluar itu tidak pernah memasak air. Semua air selalu baik tanpa perlu dimasak, air yang berasal dari sumur. Setidaknya itulah kepercayaan mereka. Dan kepercayaan itu terlalu besar untuk tidak terjadi. Alam semesta merasakan kepercayaan yang serupa dan mengembalikannya sesuai yang dipercaya.

“Lebih baru dari pisau. Sehingga cerita dari si pisau hanya kuketahui setengahnya saja.”

Sehingga mulailah bercerita dia.

***

Matahari tampak muda. Sedang suasana seperti efek foto sepia. Panci merekamnya dengan gugup, tapi ketika dia sudah serius, lebih mengerikan dari yang orang-orang kira. Panci adalah barang yang kuat, memiliki bagian dalam yang lebih bersih. Meski luarnya tampak muram dan tidak meyakinkan.

Tidak seperti sebagian besar orang yang menunjukkan kebaikan abal-abal di luar. Sedangkan di dalam tubuhnya hanyalah keburukan yang sejati. Manusia macam begitu memang harus ada, untuk dihilangkan sikap jeleknya. Kata panci yang jujur, bahwa manusia itu sebenarnya murni dan bersih. Seperti halnya ibu sang bocah lelaki tadi, namun keadaan memaksa sifat jelek bangkit dan menguasai.

Katanya lagi, bahwa manusia harus mempunyai kejujuran dan pikiran positif. Bagaimana juga pikiran manusia mempunyai kekuatan luar biasa. Begitu pula dengan akal yang berada entah di mana. Panci bersikukuh semua hal terjadi bukan karena salah perempuan itu, sebab dia rasakan telah digunakan dengan lembut oleh jemari tulus sang perempuan.

“Tunggu,” sela saya. “Apakah aku boleh merokok?”

“Sial! Tidak ada yang melarangmu merokok, kawan. Asal kau mendengar saja. Bahkan kau boleh tidur jika telingamu masih berfungsi saat itu.”

Saya menylut kretek dan membumbungkan asapnya ke atas. Dapur ini sudah tidak menghasilkan asap sejak lelaki ini berada di sini. Bahkan puluhan tahun yang lalu, setelah para leluhur si lelaki meninggal dunia. Saya sebenarnya memiliki pertanyaan sendiri kepada si lelaki, sebenarnya berasal dari mana dirinya ini.

Panci itu bercerita bahwa dia dibeli dari orang yang berkeliling. Menggandeng sekian banyak panci di tangan, punggung, dan kepalanya. Kemudian dipanggil oleh nenek dari ibu lelaki ini kelak. Penjaja panci mendekati rumah, memasuki halaman yang luas sekali. Sang panci dipisahkan dengan kakak dan adik panci lainnya. Dibeli sang perempuan dengan tawar menawar yang melelahkan. Si tukang panci menyerah, kemudian memberikan si panci dengan harga separuh saja.

Tidak akan dijumpai halaman serupa di sini. Sekarang, halaman-halaman itu berubah jadi rumah-rumah yang berdesak-sesak. Orang-orang zaman dahulu selalu kuat, penjaja panci berjalan belaka. Dia mesti berjalan setidaknya sebelas kilometer dalam sehari. Seolah raut wajahnya ketika memasuki halaman berkata: bukan sesuatu yang berat.

Cukup lama. Bahkan terlalu lama untuk sebuah tawar menawar yang selalu terjadi. Akhirnya panci seukuran roda sepeda mini itu didapat oleh perempuan tersebut. Dibawa masuk dan langsung dicuci sebelum digantung untuk di tempat itu. Ekosistem dapur menjadi lebih ramai dengan kedatangan panci, sesekali si panci menjatuhkan diri untuk mengusir sepi. Dia melakukan hal itu karena sebenarnya takut dengan hantu, nahasnya kejadian jatuhnya panci malah dianggap sebagai hantu itu sendiri.

Orang-orang selalu tertarik dengan hal-hal baru, meski belum tahu sepenuhnya tentang kegunaannya, kata panci itu lagi. Pulang suaminya tidak menentu, sehingga pada hari-hari yang tidak menentu itu, dia tidak bisa memprediksi untuk apa panci yang dibelinya.

Setidaknya, sebelum dia membeli panci sudah memiliki rencana. Untuk memasak air untuk minum, meski akan dibantah suaminya bahwa air dari sumur selalu yang terbaik. Untuk memanaskan air dan mandi, meski akan dibantah lagi bahwa air dingin akan lebih sehat. Maka dia tetap membelinya hanya karena harganya sangat murah.

Untuk waktu-waktu yang telah berlalu, panci itu hanya dipinjam oleh para tetangganya. Jika suatu waktu ada acara selamatan maupun tahlil maupun acara lainnya, seseorang akan datang ke rumahnya dan mengambil panci begitu saja lewat pintu belakang. Saat itu sang perempuan tidak berada di sana, dia selalu di rumah tetangganya ketika ada acara. Bantu-bantu yang sering disebut sebagai rewang.

“Ada panci di rumahku, ambil saja,” begitulah katanya kepada seseorang itu sebelum datang ke rumahnya.

Sang panci juga merasa bermanfaat. Namun acara di rumah tetangga tidak datang setiap hari. Dan hari-hari penantian panci dihabiskan pada gantungan di atas dipan. Sebuah panci tidak akan mati jika digantung, manusia zaman dulu bisa mati jika menggantungkan diri dengan tambang pada lilitan leher, sedangkan manusia zaman sekarang mudah mati hanya karena digantung hubungannya.

Beberapa waktu, mungkin satu kali dalam seminggu. Panci itu ingat selalu digunakan oleh perempuan untuk memasak air. Bukan waktu yang wajar untuk memulai memasak, pikirnya. Namun dia hanya menurut. Tidak mungkin berubah wujud menjadi tank dan menembak kepala sang perempuan dalam jarak 10 senti, tidak, dia hanya panci dan tetap berperan sebagai panci.

Air yang sudah mendidih dituang ke dalam bak. Pagi itu masih gelap saja. Kemudian diisi air dingin ke bak yang sama. Seorang lelaki telanjang dada yang ternyata adalah sang suami datang. Sang perempuan akan berkata bahwa airnya sudah siap. Lelaki itu masuk kamar mandi dan panci yang masih teronggok di sana memperhatikan.

Ada bagian menggantung yang tampak lelah. Lelaki itu membasuh ujung kepala tiga kali dengan air hangat di bak sambil mengucap mantra samar-samar. Setelah mandi yang aneh dari lelaki itu, dia keluar. Bergantian dengan sang perempuan masuk. Melakukan mandi aneh yang serupa. Panci melihat, jika tadi dari lelaki ada satu bagian menggantung yang tampak lelah, dari perempuan ini dia melihat dua, meski beda tempat.

Kebenaran dari yang dikatakan pisau memang nyata adanya. Namun si panci hanya menyaksikan cerita dari pisau itu setengah saja, ketika hari perubahan itu terjadi. Jika boleh, sebenarnya dia tidak mau menyaksikan sama sekali. 

DAPUR: Panci di seloki
Image by Esi Grünhagen from Pixabay

Angin mengalun dari pintu dapur masuk ke dalamnya. Ada cerita pisau yang terlewat, si suami pernah melakukannya dengan kembang desa di dapur itu, di dipan yang sekarang digunakan mendekam oleh si pisau. Aku sebenarnya ragu, pasti ada alasan tertentu sampai pisau ini tidak mau menceritakannya. Kata panci itu kepada saya.

Angin masuk lewat pintu depan, menyapu lembut rambut si lelaki dengan lemah sekali. Kemudian si panci minta diri agar digantung kembali di tempat semula. Satu-persatu misteri mulai terkuak dengan mudah meski tidak ramah. Saya merasakan sekarang ada air mata yang keluar. Rasanya panas, saya tahu bahwa lelaki ini sedang marah. Sangat marah.

***

Saat yang sama setelah panci dikembalikan. Sebuah wajan yang rompal dan tinggal separuh itu turun. Suaranya berisik dan memenuhi dapur yang sunyi.

“Akulah sebenarnya hantu-hantu itu!” katanya dengan keras dan sombong.

Saya mengira itu adalah waktu yang salah untuk mengagetkan lelaki ini. Tanpa peduli dengan kalimat yang dikeluarkan wajan, lelaki ini ambil wajan rompal dan dilemparkan ke dalam luweng. 

“Bangsat! Ini adalah hal tidak kebendaan paling buruk yang pernah kuterima setelah yang dilakukan leluhurmu.”

Lelaki itu mendekatinya, saya hanya menjadi mata dan itu membuatnya bisa melihat warna lainnya. Dia mengatakan dari mulut kata-kata yang sangat singkat, juga jelas, “Ceritakan sekarang atau kubuat sisi lainnya rompal juga!”

Wajan berhenti sombong, dan merundukkan wajah tanda menyerah. Dia bersiap untuk bercerita. //

Tinggalkan Komentar

0 Comments