DAPUR: Celana Dalam Bekas

Ada kambing yang lepas, suara ramai itu membuat saya terbangun. Kambing menjadi korban yang dikejar-kejar. Para pengejar membawa tombak dan senapan. Satu peluru meletus, seorang pengejar tumbang. Satu tombak dilemparkan, membelah angin dan sinar emas sore, satu lagi pengejar tumbang.

Para pengejar menjadi murka. Si kambing benar-benar gesit luar biasa. Dan ketika kambing itu sudah terkepung, setiap senapan dan tombak diluncurkan kepadanya, nyatanya tembus semuanya. Peluru menyasar pengejar yang berhadapan, begitu pula dengan tombak yang dilemparkan. Tanpa berbuat apa-apa, si kambing memukul-jatuh setiap pengejar yang ingin membunuhnya.

Namun seorang lelaki muncul dari kejauhan, seolah-olah lelaki itu muncul dari matahari sore yang bulat dan tidak silau di ujung jalan desa. Saya tahu dia lelaki karena telanjang dada, kemudian ada beban di pundaknya. Beban itu diletakkan setelah melangkahi mayat-mayat para pengejar kambing buruan itu. 

“Kau melakukan pekerjaan berat hari ini,”kata si lelaki kepada si kambing.

“Benar,” jawab kambing.

“Kau tidak lapar?”

“Sebenarnya aku sudah lelah main kejar-kejaran, para pengejar tampak marah dan bukannya senang. Kemarahan membawa petaka untuk diri sendiri, kesenangan menebarkan sinar terang untuk semua orang.”

“Kau tidak salah. Ini makanlah, aku baru selesai mencari rumput.”

“Rumput mana ini tadi? Halal?”

“Tentu saja.”

Maka si kambing memakannya. Semua beban yang tadi dibawa lelaki di punggung tuntas sudah, rumput itu dilahap habis oleh kambing. Langit yang kuning menjadi agak merah, matahari tampak semakin besar dan bulat saja. Sedangkan si kambing telah mengelap mulutnya setelah menghabiskan semua makanan.

“Aku kenyang, sekarang aku mengantuk.”

“Tidurlah.”

Si kambing menutup mata. Tubuhnya menjadi berpendar percik cahaya, kemudian menghilang. Seorang polisi datang dan langsung menembak mati si lelaki. “KAU PEMBUNUH MASAL!!!” umpat polisi itu. Dia akan mudah membuat laporan tentang sebuah pelor yang hilang dari sarangnya.

Semua orang desa tahu cerita itu, tentang kambing suci dan seorang lelaki yang datang dari matahari. Begitulah yang diceritakan oleh si celana dalam bekas. Celana dalam laki-laki yang terinjak-injak, tertutup debu puluhan tahun, digigit tikus dan dibuat sarang kelabang. Celana dalam itu masih tampak seperti celana dalam pada umumnya, hanya saja sekarang memiliki puluhan lubang. Serta jika ditarik pelan saja, langsung robek dan hancur.

“Kau benda yang tahan lama rupanya,” kata saya kepada celana dalam bekas itu.

“Tentu saja, sesuatu yang melindungi benda yang tahan lama haruslah benda yang tahan lama pula.”

“Kau bangun hanya untuk menceritakan kisah kambing dan lelaki dari matahari?”

Si celana dalam bekas tampak berpikir. Meski saya tidak yakin dia sedang berpikir.

“Tidak, saya ingin bercerita tentang bersetubuhan.”

Saya manggut-manggut, bahwa otak celana dalam tidak akan jauh dari selangkangan, apalagi celana dalam yang bekas. 

Dia menceritakan bahwa dulunya dipakai oleh seorang lelaki, dan sialnya lelaki itu adalah suami si perempuan. Bapak dari anak yang kepalanya bocor sebab benturan dengan tembok dapur. Si bapak itu pernah melakukannya, membuka semua pakaian dan celana dalamnya, juga semua pakaian dan celana dalam milik perempuan lawannya.

Perempuan itu, kata si celana dalam bekas, bau selangkangannya tidak sama dengan milik istrinya. Nahasnya, tidak sama juga dengan bau selangkangan milik kembang desa yang datang waktu itu. Ini perempuan yang berbeda, yang masih lugu dan baunya pesing saja. Bahkan saat dibuka, si celana dalam bekas mengintip dari atas, semua sisi liang farji milik si perempuan masih bersih tanpa jembut.

Si celana dalam berdiam seolah sedang mengingat sesuatu kemudian mengatakan bahwa dirinya yakin benar-benar belum tumbuh bulu jembut. Aku sudah pengalaman dan tahu betul, mana yang masih polos natural dengan polos yang dicukur, katanya.

Saya mau bertanya siapa sebenarnya perempuan itu, kemudian si celana dalam bekas tampaknya tahu apa yang hendak saya suarakan itu. Dia menjawab bahkan sebelum saya bertanya, dia mengatakan tidak tahu siapa perempuan itu. Suaranya masih ragu-ragu, dan benar saja, kala torpedo pengalaman itu mulai menembus liang sempit itu, si perempuan menjerit bukan main. Si celana dalam bekas mengatakan melihat semua kejadian itu dari bawah. 

Namun sebelum torpedo pengalaman si lelaki meledak-muntah, si perempuan melemparkan pelukan. Semua kejadian itu dilakukan keduanya sambil berdiri saja. Dan si perempuan merapikan roknya warna abu-abunya, baju putih itu dipakai lagi tanpa mengetakan bra sebagaimana pertama datang. Kemudian berlari pergi, melewati pintu belakang seperti maling yang ketahuan.

Lelaki itu kaget, mungkin juga khawatir, sebab si perempuan berlari dari dapurnya sambil menangis. Maka si lelaki mengejar, dan melupakan celana dalam. Itulah alasan mengapa dia berada di sini, berpuluh tahun lamanya, berdiam diri dan tidak pernah dicuci lagi. Apalagi digunakan untuk mengurung torpedo pengalaman agar tidak nakal.

Saya kemudian benar-benar bertanya, apakah lelaki empunya  si celana dalam bekas adalah lelaki yang sama yang muncul dari matahari? Kemudian dijawab mantab, bahwa kedua lelaki tersebut sangat berbeda dari segala sisinya. Bahkan si celana dalam bekas menambahi, bahwa ukuran torpedo milik lelaki yang muncul dari matahari belum tentu lebih besar dan panjang, apalagi jika dibandingkan dari segi pengalaman. //

DAPUR: Celana Dalam Bekas
Image by adamkontor from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments