DAPUR: Kursi Kayu

“Kau diam dulu! Kau yang membuat segalanya tambah buruk!” umpat sebuah Kursi Kayu kepada Wajan.

Tampaknya memang benar demikian, raut wajah penggorengan itu benar-benar berubah menjadi ketakutan. Sedangkan saya melihat si Kursi Kayu dan menyadari bahwa dirinya melihat lebih banyak kejujuran kejadian dalam dapur ini.

Saya mengiyakan saja permintaannya untuk berbicara sebentar. Sebenarnya Kursi Kayu itu sekarang ini sudah tidak tampak seperti bentuk kursi. Tetapi lebih mirip dengan bekas kayu pembakaran, atau kayu usang yang ditumpuk anak-anak Pramuka sedang kemah, atau kayu lapuk yang menunggu rayap memakan seluruh badannya. Dia tidak bergeming dan mirip sedang bertapa, si Kursi Kayu mengatakan bahwa semua hal di dunia ini ada yang baik meskipun dalam kondisi paling tidak baik sekalipun.

“Mengapa kau menghalangi Wajan berbicara, Kursi Kayu?” tanya saya kemudian.

“Tidak perlu mendengar terlalu banyak pendapat dari kelompok yang sama,” katanya. “Panci dan Wajan berasal dari satu kelompok, kau hanya akan mendapatkan data jenuh yang membosankan. Mereka akan dengan mudah menceritakan betapa si perempuan buyut lelaki ini sinting. Sebab Panci dan Wajan itulah yang menjadi pelampiasan atas depresi si perempuan dan mereka berdua tidak bisa menerimanya.”

“Apa maksudmu dengan tidak bisa menerima? Jangan-jangan kau—“

“Benar!” potong kursi kayu. “Aku juga menjadi pelampiasannya. Bahkan lebih parah dibanding Panci dan Wajan. Mereka berdua masih mendapat wujud dan bisa dikenali sebagai panci dan wajan. Sendangkan aku, yang semula diduduki oleh pantat montok dan mulus perempuan itu, digempur keras ke tanah dan hancur. Tidak hanya berhenti di sana, aku juga dibakar dan buru-buru dimatikan kembali. Menjadikan wujud kursiku menjadi semengerikan ini.”

“Dan kau menerimanya?”

“Bagaimana aku tidak menerimanya? Ini sudah takdir dari Sang Maha Tunggal. Andai tidak terima, aku tidak akan menuntut dengan cara menceritakan segala keburukan tentang si perempuan sinting itu seperti Panci dan Wajan.”

“Lantas, apa yang akan kau ceritakan kepada saya?”

“Aku akan memberitahumu, bahwa sebenarnya perempuan buyut si lelaki ini adalah korban. Kau tidak bisa menyalahkannya begitu saja. Jangan hanya lihat bagaimana perilakunya saat menjadi sinting dan mengamuk. Kau bisa melihat orang yang lebih brutal dan sopan tetapi sinting di negara ini, memakai baju rapi dan tentu saja dasi.

“Tetapi, tentang perempuan ini, kau jangan salah sangka. Dia menjadi demikian tentu dengan alasan. Perempuan ini adalah ibu yang baik, aku bisa merasakan kemurnian niat baiknya dari aliran darahnya di pantat montok dan mulus saat duduk di atasku. Yang dipermasalahkan sekarang bukanlah sikap yang bar-bar, namun mengapa sampai tidak ada satu orang pun yang mau membantunya keluar dari kegilaannya?”

Panci dan Wajan membuang muka. Sedangkan Pisau masih tertidur dan bisa saja siaga jika diperlukan. Saya merasakan emosi yang lain dari tubuh si lelaki. Emosi yang seperti hendak marah, sedih, atau menyesal. Kemudian beberapa saat kemudian saya tahu bahwa si lelaki sendang menyalahkan dirinya sendiri.

“Terima kasih, Kursi. Kau sudah memberi petunjuk kepada saya.”

“Terima kasihmu aku terima. Namun bisakah kuminta tolong sebelum kau berbicara kepada yang lain? Letakkan aku di luweng sebelah kananmu itu. Dan bakar aku sambil merapal doa keselamatan untuk si perempuan.”

“Bukan masalah besar.”

Saya merasakan bahwa si lelaki ini sudah mulai tenang. Pada sisi lainnya perempuan itu menjadi yang dikalahkan juga, sedangkan Kursi Kayu mulai disusun pada perapian. Sekarang sudah benar-benar tampak seperti api unggun dalam acara Pramuka, meski saya yakin si lelaki ini tidak pernah mengikutinya. 

Dicarinya korek api tetapi tidak ketemu. Dapur itu seakan merupakan dimensi lain, yang di dalamnya berisi hal-hal lain tentang masa yang sudah lalu. Kemudian dia ambil korek api di kamar bekas menyalakan rokoknya, dan ternyata dia ingat bahwa korek api berada di kantung celananya. Saat masih berbincang dengan pisau lalu, dia sempat pula menyalakan rokok.

Dilihatnya sekeliling, banyak daun kering yang bisa membuat api segera menyala. Dia ambil segenggam sembarang, kemudian ditaruh di atas tumpukan kursi kayu. Telah dipantik juga api di sana, dengan cepat api tercipta. Tidak perlu merapal mantera untuk meminta api dari neraka, cukup pakai pemantik yang murah saja. Sekarang api pertama setelah bertahun-tahun menyala lagi di dapur ini.

Ada gemericik mirip pembakaran kemenyan membumbung ke atas. Si lelaki melihatnya dan mulai berdoa untuk keselamatan si perempuan sinting. Sekarang, Kursi Kayu benar-benar menjadi kayu bakar semata. Hangat menguap memenuhi ruangan, kemudian bersamaan dengan api yang menghilang, abu bekas pembakaran menjadi sampah baru di dapur itu. Langit ternyata sudah pagi kembali, saya mesti istirahat begitu pula dengan si lelaki.

Cerita di dapur yang banyak misteri akan dilanjutkan setelah petang menjelang. Pagi ini hangat, seolah api yang tadi menghilang melebur jadi satu bersama mentari. Saya melihat matahari yang sama seperti ratusan tahun yang lalu. Serupa senyum kekasih yang jauh lama tak jumpa, dan saya –sepasang mata—ada untuk melihat matahari itu. //

DAPUR: Kursi  Kayu, seloki.com
Image by Larry White from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments