Beban Moral Sepanjang 80 Kilometer

Saya mendapat cerita dari seorang teman. Dia berkata akan menceritakan sebuah kisah yang menarik jika saya mau ikut ke warung kopi, kemudian saya ikut saja ajakannya. Sampailah di warung kopi langganan, dia memesankan saya kopi. Hal barusan bukan tanpa alasan, teman saya itu gampang sange. Dia hanya ingin melihat dari dekat bagian-bagian tertentu penjaga warung kopi, dan saking sange-nya dia akan mencoba meraih jemari penjaga tersebut ketika membayar pesanan.

Wajahnya tampak tenang dan bahagia sekali saat kembali. Jika Anda bertemu dengannya, saya yakin dia tidak akan menyembunyikan hal tersebut. Sebab nama baik dan anggapan orang lain sudah menjadi nomor urut sekian. Intinya, teman saya itu sudah kebal dengan hinaan dan cibiran. Kekebalannya hanya bertahan di kota ini, jika sudah pulang ke rumah maka teman saya tersebut menjadi seorang moralis kental.

Dia mulai bercerita, bahwa kemarin lusa dirinya berada di rumah. Kemudian diminta untuk mengantar rombongan menuju luar kota. Jarak antara rumahnya dengan kota tujuan sekitar 80 kilometer, dan sepanjang jalan tersebut, dirinya menjadi amat lugu, pendiam, dan seolah-olah adalah manusia paling sopan sedunia. 

Dalam kendaraan roda empat tersebut hanya dirinyalah yang paling muda. Sedangkan penumpang lainnya, selain dirinya sebagai supir, sudah tua bahkan ada yang tua sekali. Artinya, semua ocehan dari orang-orang yang --lebih tua-- di sana itu, harus dia dengar dan amini meski sebenarnya amat goblok dan berisik dan tidak ada artinya selain omong kosong belaka. Setidaknya dalam anggapannya.

Ocehan yang tiada arti, membicaran orang lain yang merupakan obrolan paling berengsek, membahas mengapa pengendara motor menyalip, dan ada ribuan kalimat lain yang seharusnya tidak dikeluarkan. Teman saya bercerita dengan wajah masih menyimpan murka, dia mengatakan bahwa hanya bisa berdiam dan mencoba senyum terus. Tidak baik menyanggah apapun yang diucapkan oleh orang lebih tua. Apalagi dari keluarganya.

Saat perjalanan, pikirannya terus mengingat kisah seseorang yang menjadi batu. Dia meyakini bahwa hal tersebut bisa saja terulang kepada dirinya jika mulai menyela. Maka teman saya itu lebih memilih diam, berbicara seperlunya jika ada pertanyaan yang ditujukan kepadanya, dan tidak menambahi omong kosong dalam kendaraan selama perjalanan dengan jarak 80 kilometer.

Bibirnya hanya akan menjawab pertanyaan tertutup. Jika ada yang meminta dijelaskan terkait suatu hal, atau menggunakan kalimat tanya terbuka, maka dia akan memilih menjawab dengan tidak tahu dibarengi tawa kecil yang kaku. 

Selama waktu tempuh itu, teman saya menyimpan beban moral. Dia ingin menggila, namun posisinya di belakang setir kendaraan tidak baik untuk gila, hatinya sudah dipenuhi dengan kata-kata kasar, kotor, dan cabul. Hendak ditumpahkan kepada seisi kendaraan tersebut. Namun dia elus dadanya, dan menahan beban moral sekuat tenaga.

Dia masih bercerita dan tidak membiarkan saya menyela atau berpendapat. Sekarang dia tumpahkan semua yang masih tertunda. Bukan kepada seluruh isi dalam kendaraan, tetapi kepada saya seorang di warung kopi ini. Barangkali memenuhi ajakan ngopi orang ini, yang terkekang dalam kehidupan di keluarganya, kemudian melampiaskan segalanya ketika di luar, adalah pilihan yang tidak tepat. //

Beban Moral Sepanjang 80 Kilometer
Image by OpenClipart-Vectors from Pixabay

Tinggalkan Komentar

2 Comments

  1. Dia orang paling sabar sedunia. Artinya tokoh 'saya' juga menjadi orang paling sabar sedunia.

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)