Apakah semua penulis hidupnya hancur?

Saya berada di Tulungagung, melihat beberapa penulis yang hidupnya hancur. Setidaknya, para penulis tersebut masih bertahan. Belum bunuh diri, meski beberapa pernah mencobanya. Lantas pertanyaan tersebut muncul, apakah semua penulis hidupnya hancur?

Tulisan ini tidak akan menjadi representasi kehidupan para penulis. Juga tidak akan mendefinisikan kehidupan mereka secara sederhana. Setiap kehidupan manusia selalu kompleks dan tidak akan tuntas meski ditulis biografinya sampai sekian jilid. Satu-satunya yang mau menulis semua yang dilakukan seorang manusia secara detail, tanpa pernah minta bayaran, hanya Rokib dan Atid.

Ternyata tidak semua penulis hidupnya hancur lebur. Anda pasti sudah bisa melihat para penulis yang mulia dan sejahtera, mendapat nama baik dan akan tersinggung jika disebutkan, maka saya tidak akan mengatakan nama-nama itu. 

Tentu berbeda dengan penulis seperti Asri S, Natasya P, H. Niskala. Atau ambil saja yang sudah mati: Kafka, Kawabata, Descartes, Mas Marco? Atau Hemingway yang menarik pelatuk ketika moncong pistol berada di dalam mulutnya, sungguh apes sekali. Atau C. Bukowski sampai-sampai nisannya bertuliskan Don’t Try: kira-kira berarti ‘jangan berusaha’ jika dalam bahasa Indonesia.

Dari contoh yang menyebutkan, bahwa ADA penulis yang hidupnya baik-baik saja, sudah membatalkan anggapan ‘semua penulis hidupnya hancur’. Kita perlu menarik definisi dari ‘hancur’ itu sendiri, maka harus ada patokan yang jelas bagaimana kehidupan dikatakan sebagai ‘hancur’.

Karena tidak ada kajian teori dalam tulisan ini untuk menjelaskan tiap variabel, artinya tulisan ini tidak akan memiliki bobot apa-apa. Anda bisa selesaikan membaca sampai di sini saja. Saya tidak keberatan sama sekali karena memang tulisan ini ditulis dalam keadaan sadar 70%.

Pertanyaan lain muncul di kepala saya, apakaah mereka menulis karena kehidupannya hancur? 

Pertanyaan di atas lebih mengerucut lagi, sebab langsung menempatkan mana yang menjadi sebab dan akibat. Kehidupan hancur di sini tidak menjadi akibat, melainkan sebab mereka menulis. Saya teringat dengan kutipan Tahar Ben Jelloun di novela Dalam Kobaran Api yang diterbitkan Circa.

“Sastra tidak akan tertarik dengan sebuah dunia yang semuanya berjalan baik-baik saja” (Hlm. 62)

Maka ada saja orang yang malah sengaja membuat hidupnya berantakan, hancur, dan lebur agar sastra  datang untuk menyelematkannya. Namun apakah jalan bebal tersebut benar adanya? Bukankah tanpa diundang pun, masalah akan selalu datang dalam kehidupan? Dan tanpa disuruh pun mereka akan beranak pinak untuk membuat hidup manusia makin runyam?

Hilangkan masalah dan beban. Caranya sangat mudah sekaligus sangat sulit, masalah tidak akan jadi masalah jika tidak dipermasalahkan, tidak akan jadi masalah jika sudah ditemukan jalan keluar dan penyelesaian. Beban pun tidak akan jadi berat tanpa materi, maka niatkan semua kehidupan ini untuk akhirat yang tidak mempunyai massa materi. 

Aih, pertanyaan lain datang lagi, apakah kita hidup memang untuk menulis?

Apakah semua penulis hidupnya hancur?
Image by Free-Photos from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments