Tentang Kehidupan yang Semakin Membosankan

Tulisan ini saya maksudkan sebagai surat untukmu, bagi jiwa dan batinmu, bagi seluruh saja tentangmu. Sebab saya tidak bisa secara spesifik menyebut bagian mana yang memerlukan surat ini darimu. 

Bacalah dengan sangat tenang dan perlahan, sebab saya akan meminta kamu mengingat kembali tentang kehidupan yang sudah lalu. Bagaimana sebuah kehidupan berjalan dinamis, dari rasa bergairah menjadi biasa dan datar tanpa gejolak lagi. Kehidupan yang kau dambakan ternyata hanya sebatas gurauan di putaran gelas anggur waktu-waktu tertentu.
Ingatlah sekarang ini, kau sudah melalui semua sisi kehidupan.

Kau sudah merasakan dilahirkan.
Kau sudah merasakan berkembang menjadi bonsor seperti ini.
Kau sudah merasakan bermain dengan kelaminmu saat remaja.
Kau sudah merasakan menikah dan menjajal liang farji terbaik milik istrimu, dengan gaya bagaimana pun juga.
Kau sudah merasakan tamparan super panas istrimu saat kau bercanda tentang menikah lagi, lalu kau dan istrimu tertawa bersama.
Kau sudah merasakan bagaiman kehilangan anak yang belum terlahir.
Kau akhirnya sudah merasakan menjadi seorang ayah untuk orok terkasih itu.
Kau sudah merasakan kematian dari orang-orang yang tersayang.
Kau sudah hidup layaknya manusia pada umumnya. Dan sialnya kau tidak puas dengan semua itu. Kau ingin sesuatu yang lain, dan besar, dan tidak akan bisa dilupakan.

Mungkin seperti Plato atau Aristoteles, mungkin juga seperti Soe Hok Gie atau Kartini, boleh juga laiknya Soekarno dan TAS. Entahlah bahkan mungkin tidak seperti siapa-siapa. Kau hanya agak kecewa, hidup yang benar-benar sebentar sudah lalu, dan tidak kau maksimalkan untuk banyak kegilaan lainnya.

Kau sudah merasakan bahwa menolong orang lain itu membahagiakan.
Kau sudah merasakan menyusahkan orang lain itu membuat sesuatu yang mengganjal di hati.
Kau sudah merasakan melakukan pekerjaan kriminal di internet, dan syukurnya sudah taubat sebelum menikah dengan istrimu. 
Kau sekarang ini sudah saatnya istirahat, harusnya tidak ada ingin lagi, sudah tidak berambisi melakukan apapun meski itu baik. Pun tidak berambisi pada kejahatan model bagaimana juga. Sebab baik dan jahat --di matamu sekarang ini-- sudah nyaris tiada beda.

Istirahatlah, sudah waktunya, bahwa sesuatu yang hidup akan mati pada kelaknya. Kemudian seorang bayi lahir yang akan kau sebut dengan cucu, kau bahagia atasnya. Juga miris membayangkang bayi sekecil itu mendapat hukuman mati atas kelahirannya. Ingatlah Pramoedya --penulis yang namanya kau grafir pada armor korek api milikmu. Yang suaranya ketika membaca buku membekas di gendangmu. Lihatlah! Betapa konyolnya, kau sekarang sudah serenta Pramoedya 70 tahun lalu. 

Kau sudah merasakan bahagianya lahir sebuah kehidupan.
Kau sudah merasakan sedihnya kematian.
Kau sudah merasakan dikejar-kejar anjing penjaga karena mengintip pemiliknya mandi.
Kau sekarang sedang merasakan dunia hendak berganti.
Kau sudah merasakan sesosok datang, wajahnya cukup bengis namun tersenyum kepadamu. 
Kau sudah merasakan semua sisi kehidupan yang semakin membosankan.

Sekarang ini kau duduk di kursi seorang diri, memang demikian, apa lagi yang hendak dilakukan seorang renta selain menunggu, merenung, tanpa gairah apapun. Sosok itu semakin dekat denganmu, kau tidak bisa melihat tanaman bunga di bagian bawah karena silau, juga asbak di meja sampingmu karena hal serupa.

Sosok itu membawamu, sialnya kau tahu bahwa diri sedang tertidur di kursi yang sama. Kau makin menjauh dari tubuhmu, dan berharap tidak merasakan masalah di sendi dan tulang sebab sadar, tidur dengan posisi duduk demikian pada usiamu sekarang bukan hal baik sama sekali.

Kau sudah merasakan kematian.
//

241219

Tentang Kehidupan yang Semakin Membosankan
Image by S. Hermann & F. Richter from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments