Tahun Baru dan Catatan yang Ditulis Pukul 2 Dini Hari

Saya pun tidak menyangka bisa hidup bahkan sampai tahun 2020. Sebab kebosanan, dan kejenuhan, yang belakangan sedemikian panjang ini benar-benar menyiksa. Seperti kata orang-orang yang sempat menasihati saya, hidup mesti dinikmati. Wahasiswa lapuk kurang kerjaan di kampus mempunyai cara tersendiri untuk menikmati serta bersyukur atas hidup panjang melampaui 2020.

Sampai catatan ini dimulai, beberapa orang masih asyik dan khusyuk mengobrol di halaman luar. Mereka menggelar tikar dan tidak peduli dengan bau apek tikar basah. Beberapa mahasiswa lapuk lainnya melingkar di gazebo kampus. Sedangkan sebagian kecil yang lain berada di salah satu ruang organisasi dan duduk melingkar untuk urusan berbeda.

Beberapa masyarakat sipil --termasuk saya-- seharusnya sudah tidak berada dalam lingkaran tersebut. Namun bagaimana lagi, ini merupakan salah satu cara dan usaha dalam rangka mengusir bosan serta jenuh guna menikmati hidup dan menyukurinya.

Hitam bukan hanya malam
Minyak wangi lebur, aroma rokok tiada luntur
Semua berpadu-padan sempoyongan di ujung jalan tahun lama
Melaju pada jalan terjal tahun berikutnya

Hitam juga adalah hati
Dendam dan sesal berpilin menjalar
Dasar menerka hidup tidak tertera
Kekosongan tak ada arti dan kata-kata

Malam ini saya melihat para musuh amat dekat
Hitam itu lenyap dengan tetes terang di tengah pekat
Para musuh akrab sebentar sebelum mencaci lagi di belakang
Kekang dan debar mekar dalam malam biasa saja

Tahun baru tidak benar-benar ada
Semua hari baru dan tidak ada yang peduli seperti tahun baru
Semua bulan baru windu baru abad baru zaman baru
Kita pernah melalui semua ruang dan waktu yang baru itu di tempo lalu

//

Tahun Baru dan Catatan yang Ditulis Pukul 2 Dini Hari
Gambar oleh Alex Prykhodko dari Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments