PEREMPUAN DAN PENYAIR PERSIMPANGAN JALAN

Seorang perempuan itu telah ditipu mentah-mentah oleh penyair jalanan sebuah persimpangan. Pada suatu hari celaka yang sudah lalu, mereka bertemu. Si perempuan dijanjikan kesenangan dengan segala puisi gombal. Entah sihir apa yang dibawa pada tiap bait puisi itu. Mereka berjumpa dan hari celaka terjadi.

"Aku sangat mencintaimu, dengan semua yang ada pada dirimu," kata penyair persimpangan.

"Aku pun begitu," jawab si perempuan malu-malu.

Manusia selalu lebih rumit. Penulis cerita perempuan dan seorang penyair persimpangan termenung. Mengingat beberapa kalimat yang diucapkan Ontosoroh.

Dia mengangguk, mengamini ketidaktahuan dari pengetahuan atas manusia. Dengan tololnya menyedot rokok tanpa peduli sekeliling, ada orang kebingungan mencari pemantik api. Kemudian terus menulis cerita di kepalanya.

Terdapat sebuah fakta menarik, bahwa dalam kehidupan sebelumnya, si perempuan dan seorang penyair persimpangan pernah bersua pada zaman kolonial. Mereka berdua adalah sepasang mahasiswa aktivis zaman baheula.

Mati dibedil peluru entah dari pistol mana, kemudian pada kehidupan selanjutnya bertemu kembali tanpa pernah sadar ada sebuah ikatan.

Zaman sudah berubah. Mengubah penyair persimpangan menjadi ganas dan penurut pada kehidupan. Tak ada sikap menantang. Syairnya berbelok arah meski masih soal kehidupan.

Penyair persimpangan menulis puisi romantis yang terlalu hiperbola dan malah membuat mual perut siapapun yang membaca. Kecuali perut si perempuan. 

Penulis cerita perempuan dan seorang penyair persimpangan jalan sebenarnya sudah muak sejak dalam pikiran. Namun mau bagaimana lagi, dia sedang menunggu seorang perempuan di kursi tunggu depan toko serba ada. 

"Menulis --sejelek apapun-- bukan sesuatu yang keliru saat menunggu," pikir lelaki itu. "Letak kekeliruan yang mungkin terjadi adalah pada orang-orang yang mungkin saja terpengaruh tulisan bodoh saya." Katanya.

Hari berganti lalu hubungan perempuan dan seorang penyair persimpangan jalan terus berlanjut. Bahkan lebih romantis dari biasanya. Puisi-puisi cinta super menjijikkan menjadi alat paling utama menyatukan mereka. Dan hari celaka kedua tidak lama datang juga.

Suatu siang yang terik dan kering dan gerah dan gersang baik di udara maupun dalam hati menjamah seluruh pikiran. Memunculkan tindakan tidak biasa, perempuan itu sudah mahir merokok dan mencaci kehidupan. Penyair persimpangan makin malas dijerat kebutuhan.

Sedang uang si perempuan sudah habis. Saat itulah dia (perempuan itu) tidak lagi percaya cinta. Juga menyadari segala puisi yang ditulis kekasihnya tentang cinta hanya bualan belaka.

Lelaki yang menulis cerita perempuan dan seorang penyair persimpangan jalan manggut-manggut lagi. Tampaknya tidak ada yang bisa dilakukan olehnya selain manggut-manggut. Dia ingin menyajikan akhir bahagia, dan sebuah ide tiba-tiba muncul.

Perempuan itu tidak lagi menerima puisi dari penyair kekasihnya itu. Dia menulis sendiri puisi pertama, dan ratusan puisi selanjutnya tentang penipuan sebab seluruh harta benda miliknya digondol penyair persimpangan, serta penyimpangan identitas penyair zaman sekarang. Tidak luput tentang kesedihan, kekecewaan, dan murung yang terlalu.

Dipandanginya pasar yang baru saja terbakar, setidaknya menjadi tontonan mengerikan untuk orang-orang itu. Dia tidak mengerti melanjutkan bunuh diri atau tidak. Yang jelas itu merupakan akhir hubungannya dengan penyair persimpangan dan awal kehidupan baru yang lebih kelam.

Lelaki penulis cerita mereka berhenti, sebab perempuan yang dinanti sudah datang. Wajahnya senyum, mengisyaratkan permintaan maaf karena terlambat. Mereka saling bermaaf-maafan tanpa kata-kata. Sama-sama tidak menyadari bahwa pada kehidupan sebelumnya juga memiliki ikatan. //

PEREMPUAN DAN PENYAIR PERSIMPANGAN JALAN
Image by Dimitris Vetsikas from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments