Monumen Besi Slokicom Reborn

Sebenarnya monumen besi atau monumen apapun lainnya juga tidak terlalu diperhatikan. Terutama untuk situs web pribadi yang kini saya namai dengan seloki.com ini. Namun seperti postingan Maret 2019 lalu berjudul Monumen Besi Selokicom, saya kemudian ingin (kembali) sekali lagi membuatkan.

Monumen yang hanya berupa pemantik api bergrafir tersebut, hanya sebagai pengingat ketika hendak merokok, bahwa ada anak ideologis tempat sampah di mana tulisan-tulisan yang sama-sama sampahnya bersua. 

Memang dalam situs web pribadi ini tidak hanya berisi tulisan saya saja, ada beberapa tulisan dari teman dan musuh, yang dengan sekonyong-konyong saya terbitkan dengan penanda pada bagian paling akhir sesuai yang diinginkan mereka.

Namun sekali lagi, semua tulisan di situs ini --tentu saja selain tulisan teman dan musuh-- tidak menjadi panjangan lidah siapa saja. Hal ini merupakan disklaimer bahwa semua tulisan tersebut tidak mewakili siapa pun kecuali diri saya sendiri. 

Monumen itu berupa pemantik api.

Seperti kebanyakan --dan umumnya memang demikian-- bahwa pemantik api adalah hal gaib sekali. "Barang siapa meletakkan korek api di meja warung kopi sekian detik, kemudian melepaskan pandangan daripadanya (korek api) maka niscaya korek api tersebut akan tiada (hilang)." Bukan Ayat Suci.

Hal demikian terjadi pula pada monumen besi pertama saya, korek api tersebut hilang, dijarah oleh seseorang yang tidak tahu betapa penting benda tersebut bagi saya. Saya tahu pelakunya, namun bagaimana juga saya mempunyai hati yang lembut dan murni, saya memaafkan perbuatan hina dan tercela yang sudah dilakukan olehnya kepada saya. Namun saya tidak akan melupakannya.

Kali ini, rasa rokok yang seharusnya dipantik oleh monumen besi tersebut sudah hambar. Hadirnya rokok elektrik menyerobot rasa sejati dan sebagian besar kenikmatan dari merokok Surya 12. Saya tidak sepenuhnya meninggalkan rokok Surya 12, tetapi sudah berkurang drastis. Membeli rokok Surya 12 merupakan hobi, dan berhubung saya lumayan kehilangan rasa nikmatnya, maka rokok tersebut saya berikan kepada para kaum fakir rokok seperti biasanya.

Dari hal di atas mau tidak mau saya menyimpan monumen besi tersebut, sehingga korek api yang seharusnya menemani dalam hari-hari membosankan saya, benar-benar hanya menjadi sekadar monumen belaka di dalam almari kaca. 

Setidaknya, dengan menyimpan korek api itu, meminimalisir kemungkinan tangan-tangan jahil dari para pelaku pencurian keji dan hina tidak bisa mengambilnya. Korek api (bagi saya) tetap sebagai filosofi nyata yang mewakili dunia. 

Baca juga:

Monumen Besi Slokicom Reborn
Dokumen pribadi jmbt

Tinggalkan Komentar

0 Comments