ENGKAU LUMAYAN BERENGSEK

Setiap hari rasanya sama warna
Engkau tiada di manapun jua, bahkan bayangmu menolak diketahui 
Sebuah liang antah-berantah masuk bumi, barangkali tempat engkau sembunyi
Tiada manusia tahu sebagaimana engkau menutup kalbu

Doaku selalu ada, khusus buatmu seorang tanpa dua
Setiap hari --meski rasanya sama warna-- engkau menjadi dominan dalam kepala
Sungguh keras tahanku, agar tidak selalu mencacimu
Tapi engkau berbuat, sebagaimana diktator melepas syahwat

Engkau berkata seolah aku adalah batu
Tiada ampun tiada celah, tiada kemanusiaan
Tiada harapan agar diri bisa menemui tanpa terhalang
Engkau adalah langit, sedang aku rumput kering menunggu air berkah turun darimu

Sekarang mari kita berdamai
Letakkan kesibukan masing-masing
Aku sudah menunggu empat jam di depan kantor jurusan
Menunggu setiap hari dan berharap engkau tiba dengan sigap

Kutarik lagi kata-kataku yang lalu
Tidak ada perdamaian tanpa perang pertama
Aku mahasiswa, kutantang engkau dosen pembimbing skripsi keji!
Teruslah sembunyi, sebab aku tidak takut molor lagi!

171019

ENGKAU LUMAYAN BERENGSEK
Image by Ryan McGuire from Pixabay

Baca juga:

Tinggalkan Komentar

0 Comments