Catatan Sekolah

Cerita tentang ingatan nyaris tak ada batasnya, semua bisa diulik dan digali kembali. Seperti halnya sekolah. Saya pernah sekolah, dan semua anak di desa itu, semuanya sekolah meski pada tingkat lebih lanjut seperti SMA, beberapa memutuskan tidak meneruskan. Mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, madrasah tsanawiyah, dan seterusnya dan tidak terlampau berguna.

Saya ingatkan kembali, masa-masa sekolah ini merupakan pengalaman pribadi, dan kemungkinan besar sangat membosankan. Sebelum membaca lebih lanjut lagi tentukan pilihan, andai memutuskan lanjut saya tidak ingin Anda berhenti di tengah jalan. Sebab kemungkinan tidak menangkap apa yang hendak saya sampaikan, misal berani menantang diri membaca selanjutnya maka harus sampai akhir. Sekian.

Cerita ini tentu akan dimulai ketika saya taman kanak-kanak (TK), di sana adalah masa paling berharga selain sekolah dasar. Sebab pada TK dan SD saya merasakan sekolah yang memanfaatkan waktu luang untuk bermain semata. Saya masuk TK pada pergantian abad 20 ke 21. Seperti beberapa bocah penakut lainnya, saya meminta ibu untuk menemani dari mengantar sampai selesai. Dia di sana terus-menerus, tepatnya pada tempat duduk dari semen di mana seorang renta berjualan. Ketika tidak ada yang berjualan di sana, ibu biasanya menggunakan tempat itu untuk tiduran, menunggu saya sampai selesai bermain.

Sekolah TK memang sangat menyenangkan, ada beberapa hal yang tidak bisa saya lupakan. Terutama ketika para bocah-bocah seusia saya bermain, wajahnya yang polos tidak memiliki niat apapun selain bermain. Masa-masa TK dan SD akan saya tandai dengan masa bermain paling murni dan utuh.

Selepas pulang dari TK, saya selalu mandi, makan, dan duduk super tenang menghadap televisi. Itu pun setelah memakai kaus kaki dan sepatu meskipun di dalam rumah. Saya adalah anak yang penurut, setidaknya saat masih bocah.

SD mempunyai jarak lebih dekat dari rumah saya dibanding TK, hal tersebut membuat saya berani berangkat sendiri. Ibu tidak perlu susah payah mengantar, dan menunggu hingga selesai. Sampai sekarang pun, usia nyaris seperempat abad, saya masih ingat nama guru kelas 1 saya. Barangkali dia lah orang pertama yang mengajari bagaimana menulis tegak bersambung, huruf latin yang sampai sekarang saya pakai. 

Saya juga diajari berhitung, mulai penjumlahan dan pengurangan. Otak saya –kalau boleh sombong—bisa menerima semua yang diberikan. Sampai kelas 6 pun 3 peringat utama di SD selalu ada nama saya. Percayalah, saat itu saya sudah mulai tidak peduli dengan ranking atau apapun kelas mengukur standar kepintaran itu.

Masuk madrasah tsanawiyah (MTs) letaknya di kota sebelah. Saya mesti naik sepeda, mulai dari kelas 7 sampai berakhir, menempuh jarak kurang lebih 15 kilometer. Pergi pagi pukul setengah enam, dan sampai di sekolah tersebut pukul setengah tujuh. Pulang pun demikian, setelah salat zuhur berjemaah, memancal sepeda yang sama di bawah sinaran mentari siang, menempuh jarak serupa yang menanjak karena mengarah ke timur. Waktu tempuh lebih lama, saya tetap naik sepeda meski sedang puasa. Saat itu tidak ada keluhan sama sekali, jarak yang sedemikian itu saya sadari terlampau jauh ketika memasuki bangku SMA sederajat.

Saya ingin menulis tentang ingatan di sekolah formal ini karena bermimpi. Dan isi mimpi saya adalah di lantai dua ketika kelas 8. Di sana ada jembatan yang menghubungkan antara kelas saya dengan ruang komputer, saya duduk-duduk di sana, mengingat kembali masa-masa yang sudah terlewat. Kemudian menyadari bahwa itu hanyalah sekadar mimpi, dan saya melanjutkan berjalan-jalan turun ke lantai satu.

Melihat ruang ketika saya kelas 9. Sejak kelas 7 sampai kelas 9 tetap berada di B. Pada saat itu tingkat A berisi anak-anak paling cerdas, B cerdas kedua, serta C merupakan selanjutnya. Tapi hal tersebut tidak bisa dijadikan patokan, bahwa B sebenarnya adalah singkatan dari Bokeep. Itu singkatan yang saya munculkan sendiri karena lebih menarik dibanding klasifikasi kecerdasan siswa.

Saya ingat bahwa dulu ketika MTs masih pemalu, ambil saja contoh begini, ada kumpulan anak perempuan di depan kelas, padahal untuk masuk ke kelas saya tinggal melewati anak-anak perempuan itu. Tetapi tidak saya lakukan, saya lebih memilih putar balik, mengitari 7 kelas lewat parkiran sepeda daripada harus lewat kumpulan anak perempuan itu.

Ingatan yang tidak bisa dibanggakan itu memang biasa, terlebih saya tidak pernah ikut turnamen adu jotos ketika kelas 9. Saya hanya penonton saja, dan jujur, saat itu masih ngeri belaka. Ada suara seperti kayu patah ketika tinju seseorang mengenai hidung lawannya, setelah itu perkelahian langsung berakhir dengan korban pukul minta ampun berkali-kali. Mereka bersalaman sebelum dan sesudah dimulai, dan ada juga yang tidak mau diajak bersalaman karena kalah.

Turnamen adu jotos itu dilakukan dalam ruangan lantai 2 yang belum digunakan, selesai dibangun, kemudian guru tata tertib seorang diri datang, kemudian anak-anak langsung buyar. Saat ini memikirkan betapa goblok anak-anak di sana, hanya didatangi seorang guru dan puluhan anak jago gelud langsung melarikan diri semua. Jika mau mengalahkan seorang guru itu, pastilah bukan sesuatu yang sulit. Aih, saya senyum-senyum sendiri, meski nakal demikian, masih punya adab kepada orang yang lebih tua. Terlepas itu guru atau siapa pun juga.

Masih di MTs, saya tidak pernah tergiur seperti teman-teman saya saat berada dalam kantin, mengambil gorengan 5 bayar 3. Kalau di pikir-pikir saya amat polos, tampan, dan agak sombong. Hal demikian pula ada seorang perempuan yang tergila-gila, sampai datang ke rumah saya untuk hanya memberikan buku. Nahasnya perempuan itu tidak bertemu dengan saya, mungkin kecewa, dan memutuskan menikah setelah 3 tahun kemudian dengan orang lain.

Catatan Sekolah
Gambar oleh Igor Ovsyannykov dari Pixabay

Persetan dengan pacaran, saya tidak memikirkan hal tersebut sampai menginjak SMK. Ada seorang perempuan yang mengajak berfoto bedua, saat-saat SMK ini benar-benar berpengaruh banyak dengan kehidupan saya sekarang. Saya sudah mengenal perempuan, meski sekali pun tidak pernah membuka kancing bajunya. Saya dan yang lainnya meloncat pagar, duduk di warung kopi dan memesan rokok utilan. Aih rokok, rokok, rokok semua merek saya coba hingga bertemu dan menetap dengan Surya 12.

Hal paling menang dilakukan teman-teman sekelas adalah membuat guru pendidik berhenti dan tidak mau mengajar di kelas kami. Saat itu mendapat tugas, dan anak-anak malah tiduran di lantai, bermain gim, gitar, dan ramai tidak terkendali. Sampai pada semester selanjutnya wali kelas kami diubah kepada guru yang dikenal paling galak, ialah ketua jurusan. Namun kenyataannya berbeda.

Wali kelas galak yang gila malah senang jika kelas kami membuat semacam gebrakan untuk sekolah. Jika ingin gila jangan setengah-setengah, saya bantu! Ucap guru itu yang rokoknya sama-sama Surya 12. Maka pada dies natalis sekolah, kami membuat acara ramai, dalam artian di luar kendali pengada acara.

Dampaknya pada esok hari wali kelas kami dipanggil kepala sekolah, dan dia harus rela melepaskan pangkat ketua jurusan. Sebelum lulus SMK hubungan saya dengan seorang perempuan itu berakhir di SMS. Entah apa sebabnya, entah apa kelanjutannya, saya mulai merasakan ada sisi kompleks kehidupan yang akan terjadi selanjutnya.

Akhirnya anak yang nakal pun juga lulus. Saya masuk perguruan tinggi di kota lain, mengambil jurusan matematika. Kemudian cerita lebih lengkapnya tampaknya bakal terlalu panjang untuk dituangkan secara keseluruhan dalam catatan ini. Kemampuan dari lulus SMK, saya hanya bisa menyalakan komputer saja. //

Tinggalkan Komentar

0 Comments