ASMARADHANA

Mereka sepakat untuk berkencan di pinggir kali, memandangi keramaian dan lampu kota yang berpendar sebagai bayang-bayang luntur di permukaan air. Entah sejak kapan--tak satu serangga pun tahu--bahu si pemuda telah ditenggeri kepala si gadis yang mendadak manja dan berubah jadi anak manis. Sekali lagi, tak ada yang tahu. Sebab mereka memilih sudut yang amat gelap dan dianggap paling aman dari gangguan para pengamen dan peminta-minta yang biasa berseliweran di sekitar tempat itu, utamanya di malam mendekati pukul sembilan.

Keduanya membisu beberapa bentar, sesaat berdekapan, lalu diam-diam saling mengagumi kesembronoan di balik celana si pemuda. Dua menit lebih lima puluh sembilan detik kemudian si pemuda merasai sesuatu yang basah dan lengket di seputaran pangkal paha. Helaan napasnya terasa ganjil, dan ia buru-buru mengelap sisa kesembronoan itu dengan tisu.

“Mengapa cepat sekali?”, tanya si gadis.

“Entahlah. Mungkin tubuhku terlalu letih. Seharian aku belum istirahat.”, jawab si pemuda sebagai pembelaan atas perasaan resah dan malu yang sulit dibedakan.

Keduanya lalu meninggalkan tempat itu, menyusuri jalan raya yang lengang sambil gantian bersenandung atau saling sambung membunyikan lagu cinta yang mereka kenal satu sama lain. Si gadis dengan mengandalkan naluri dasarnya kemudian menggamit pinggang si pemuda, makin dekat, hingga menempellah bagian dada yang cembung dan hangat itu. Mereka bahagia, tentu saja, dan para lajang yang belum sempat membikin ikatan dengan lawan jenisnya akan dibikin iri dan melemas sepasang dengkulnya. Tanpa perangai yang memadai sekali-dua klakson truk menyerobot kemesraan mereka yang secara tak sengaja menyalahi marka jalan. Mereka terkejut beberapa bentar, dan tak lama kemudian kembali ketawa-ketiwi tanpa mengingat lagi semprotan klakson pengemudi truk.

Jam sebelas lebih beberapa strip mereka masih berkitar-kitar di bundaran taman kota, makan nasi goreng di pinggir jalan sambil bernostalgia mengenang masa awal perjumpaan di stasiun kota plat AG-R. Kala itu si gadis dengan wajah putus asa turun dari kereta api, menenteng barang-barang yang lebih berat dari bobot badannya. Ia berjalan terseok dan mengabaikan kanan-kiri hingga sesuatu tak dikenal membikinnya nyaris terjungkal. Di saat itulah si pemuda yang berparas lusuh datang sebagai penolong, membimbingnya berdiri, dan tanpa mereka tahu dewa Amor sedang membidikkan dua panahnya menuju jantung masing-masing. Mereka terpana beberapa saat sebelum perjumpaan kedua di kedai kopi membikin mereka dapat bertukar nomor ponsel, saling mengukur isi hati, dan membikin malam-malam mereka jadi insomnia penuh hantu. Ya, sebagaimana hantu, cinta adalah perkara pelik yang membikin keduanya merinding dan berkeringat dingin di waktu bersamaan. 

Di sebuah kesempatan yang tanpa diduga dan tanpa dinyana mereka bertemu lagi, kali ini di bawah pohon kersen di depan balai kota. Obrolan ngalor-ngidul dan penuh gaya mengunci mereka agar tidak beranjak. Dari pukul empat sore hingga pukul sembilan malam mereka hanya memperbincangkan periode filsafat yang jamak dibicarakan buku-buku, dari zaman Pra-Sokratik hingga zaman Supra-Post-Modern menunggu kritik bertubi-tubi dari para pemuda anarko (itu pun jika para pemuda anarko bersedia meluangkan waktu untuk tidak melulu bermain game online dari gawai). Itu saja yang mereka bicarakan dengan gairah meletup-letup, lain tidak. Baik si gadis maupun si pemuda berparas lusuh sama-sama menikmati obrolan itu layaknya menikmati kacang goreng di tengah-tengah perhelatan wayang kulit.

Baca juga:
1. Cerpen Lainnya
2. Puisi

“Tahukah kau? Beberapa minggu ini aku merasa sulit tidur.”, ucap si pemuda berparas lusuh seusai mengobrol perihal filsafat.

“Tidak.”, jawab si gadis sembari bercelingukan mengawasi sekeliling.

“Memang benar, aku sulit tidur, terlebih setelah mengenalmu.”

“Harusnya kau tak usah mengenalku.”

Si pemuda berpikir beberapa bentar sebelum menjawab,

“Bolehkah aku menyukaimu?”

Si gadis terperanjat hingga rahangnya terasa kaku. Ia tak mengira si pemuda berparas lusuh dapat menerobos demikian jauh dan jitu. Pedalamannya bergolak, dan ia menyimpan pertanyaan itu di tidur dan jaganya. Berhari-hari. Berminggu-minggu. 

“Jadi bagaimana?”, tanya si pemuda berparas lusuh di pertemuan ketiga di sebuah kedai kopi tak jauh dari kampus I.

“Aku belum tahu. Tapi aku sering memimpikanmu.”

“Sungguh?”

Si gadis menjawab dengan anggukan pendek. 

“Lalu mengapa kita tidak membikin ikatan saja?”

Si gadis mengangguk.

“Kau paham maksudku?”

Si gadis mengangguk lagi.

Dan demikianlah mereka kemudian melanjutkan hidup sebagai sepasang kekasih. Seperti Romeo Montague dan Juliet Capulet, kata si pemuda berparas lusuh suatu hari. Seperti Tristan dan Isolde, anggap si gadis. Seperti Beauty and The Beast, imbuh seorang kasir swalayan yang sedang menjumlah besaran harga dari keripik kentang dan minuman bersoda yang mereka sodorkan.

Penilaian yang terakhir itu membikin si gadis meradang. Sementara si pemuda berparas lusuh tak ambil pusing, bahkan dengan penuh percaya diri ia kemudian menggandeng tangan si gadis. Si kasir swalayan tinggal melongo, menggeleng-gelengkan kepala, dan mengelus dada sambil tak henti beristigfar. 

Sepulang dari swalayan itu si gadis mendesak si pemuda berparas lusuh menempuh perawatan kulit, paling tidak agar wajahnya terlihat segar dan tak mengundang cemoohan dari orang lain. Si pemuda berparas lusuh menuruti kemauan si gadis. Ia bersedia menggunakan krim dan masker yang dibeli si gadis jauh-jauh dari kota seberang. Keduanya lalu makin saling mencintai, bahkan nyaris tak terpisahkan, seperti air dan bejana yang digenanginya. Mereka sering lupa waktu, tentu saja, bahkan sering memamerkan kemesraan di hadapan orang-orang.  

Mereka seperti tak dapat hidup andai berpisah sehari saja, begitulah pengakuan masing-masing. Dan tiap hari mereka membuat janji untuk bertemu di rumah seorang kenalan yang berletak di Jalan Pemuda, sekira tiga kilometer dari pusat kota. Mereka merasa dapat melakukan apa saja di rumah itu, apalagi rumah itu cukup luas dan hanya dihuni oleh si kenalan dan ibunya. Rumah di Jalan Pemuda itu kemudian menjadi sarang pertemuan si gadis dan si pemuda berparas lusuh. Mereka dapat memulai kencan itu sekira pukul tujuh dan mengakhirinya pada jam satu dini hari. Sebulan lebih sembilan belas hari kemudian, tepatnya di suatu malam Kamis, si kenalan mengeluhkan hal itu pada sahabat yang biasa menemaninya mengobrol di kedai kopi.

“Entah aku harus apa sekarang. Bagaimanapun ia temanku, dan kami sama-sama sudah besar. Jadi kupikir bukan aku yang patut menasehatinya. Bisa saja ia hanya mencibirkan bibir dan menertawaiku sebagai manusia sok moralis.”

“Sabarlah. Sesuatu yang berdekatan, apalagi terlalu dekat, sering memicu risiko tak menyenangkan.”

“Maksudmu?”

“Kau harus merenung lebih sering, setidaknya bertanyalah, mengapa bumi dibikin berjauhan dengan matahari. Ini sekadar analogi, Bro. Pernahkah kau menduga-duga apa jadinya jika posisi bumi berdekatan dengan matahari?”

Si kenalan mengangguk, lalu terdiam sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.

---

”Lanjutkanlah ceritamu, Sayang!”, pinta pacarku kala berkencan denganku di sebuah kedai kopi.

Dengan senang hati kuturuti permintaannya. Sambil memandangi matanya yang indah, lidahku serasa menggelinding menceritakan apa saja yang terjadi di rumahku selama tiga bulan terakhir. Mengenai Mama yang meradang, mengenai jam tengah malam yang tak lagi dapat dijadikan pedoman bertamu, mengenai kehidupan yang terus berjalan ke depan. Hingga belakangan kulihat dengan mata kapalaku sendiri: mereka berselisih dan bertengkar hebat. Saling bentak, namun tak sekali pun menggunakan kekuatan tangan untuk mengakhirinya. Dan mereka tetap bertengkar, bahkan saat aku menutup kencan malam Minggu yang manis dengan pacarku itu. Hingga cerita ini kututup, sepasang muda-mudi itu masih berkutat dalam adegan saling jambak dan saling cakar tanpa peduli sedang berada di rumah siapa.

03:04
12102019
Ditulis oleh H Niskala
Katanya penggemar tim sepak bola Liverpool

Baca juga:

ASMARADHANA
Image by Bing N. from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments