Semoga Ulasan Semusim dan Semusim Lagi Karya Andina Dwifatma

Perlu saya katakan. Saya mendapat buku ini dari membeli dengan uang halal. Pagi itu iseng-iseng saya main –mencoba akrab dengan penjaga—di bazar buku dalam kampus. Penjaga itu tidak mau saya tawari rokok, mungkin karena masih mengukuhkan anggapan bahwa perempuan tidak merokok. 

Saya alihkan pandangan ke rak buku yang dibiarkan berantakan. Ada satu buku dalam tumpulan ‘Serba 25.000’ apalagi terdapat cap ‘Pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012’.

Begitulah muara uang yang mestinya saya pakai untuk membeli rokok dan kopi, hilang untuk menebus karya mengesankan ini. Berjudul Semusim dan Semusim Lagi. Diterbitkan GPU pada 2013. Sekian bulan setelah sayembara bergengsi itu final.

Benar saja saya tertarik. Sebab dua orang teman –salah satunya guru saya—pernah mencoba masuk dalam arus besar kesusastraan tersebut. Namun kalah. Saya senang. Dia senang. Agak kurang waras seperti tokoh utama dalam Semusim dan Semusim Lagi.

Terlebih sampul depan menggunakan gambar ikan. Saya suka ikan, juga air, juga buku, apalagi leher orang itu. Rasanya nyaman, sejuk, dan amat menyenangkan. Penjaga yang tidak mau saya tawari rokok ternyata mau saya tawari uang sebesar 25.000. Buku ini berhasil saya miliki.

Kesibukan saya sebenarnya padat. Meski kesemuanya tidak menghasilkan uang. Saya mesti menyiapkan waktu di sela hari hampir fajar, di tengah kelelahan, untuk sedikit demi sedikit membaca lembar demi lembar. 

Oleh faktor tersebut sangat mungkin resensi ini tidak lebih dari opini subjektif belaka. Tidak objektif dalam penilaian. Sebab saya bukan dewan juri sayembara novel DKJ, bukan siapa-siapa. Namun saya bisa katakan bahwa perlu seribu tiga ratus empatpuluhtiga tahun belajar menulis tanpa henti agar saya bisa menghasilkan karya seperti milik Andina Dwifatma ini.

Berisi 232 halaman ukuran kertas 20 cm yang dibagi jadi 14 bagian. Tetapi perlu waktu 12 hari agar saya selesai sampai halaman terakhir. ISBN 987-979-22-9510-8. Untuk Sheila Putri, tulisan pada lembar pertama. Halaman selanjutnya adalah kutipan puisi ‘Dengan Apa Petualangan Tepat Ditimbang?’ dalam buku antologi puisi Bangsat!, 1975, oleh Darmanto Jatman.

Saya tidak tahu siapa Darmanto Jatman sebagaimana saya tidak tahu siapa nama saya sendiri. Juga siapa Andina Dwifatma selain pemenang sayembara novel DKJ 2012. Kutipan itu –jika boleh saya tulis di sini—begini:

Semua anak ada ibu ada bapaknya, kecuali impian

Semua pasangan ada jantan ada betinanya, kecuali kenyataan

Saya baru paham bahwa dua kalimat di atas ada sangkut-paut dengan isi cerita setelah selesai membaca. Secara –amat—ringkas, menceritakan tentang seorang anak gadis, mau masuk kuliah. Mencoba bertemu ayahnya. Dan berakhir di rumah sakit gila.

Hehe, tentu saja ceritanya tidak semudah itu. Jangan terkecoh dengan deskripsi sederhananya, ceritanya rumit. Saya nyaris gila meski sebenarnya sudah –agak—gila. 

Ada undangan dari ayahnya –yang jika dikira-kira dari deskripsinya malah mirip SGA—dan undangan dari universitas. Ada 4 kali tusukan yang dilakukan tokoh utama (gadis tadi) terhadap seorang lelaki. Ada ‘adik-kakak’ yang saling meniduri. Ada asmara. Ada magis. Ada penjara dan rumah sakit gila. Dan tentunya ada ikan mas koki sebesar manusia yang bisa bicara.

Pakai alur maju. Kental dengan unsur musik, film, dan buku. Tokoh utamanya kutu buku, kutu musik, dan jika boleh saya bilang juga kutu film. Ada 27 halaman yang saya lipat, kalimat-kalimat penting yang amat potensi quotable.

Ada juga unsur-unsur jenaka. Hal ini sebagai indikasi bahwa penulisnya benar-benar paham dengan apa yang ditulis. Berpengetahuan luas dan entah tidak bisa melupa seperti H Niskala atau tidak.

Kukira alasan pertama, dan utama, anak-anak wajib menghormati orangtuanya, adalah karena orangtualah yang membayar internet mereka. (hlm. 41)

Agak seperti dark joke, tapi saya tertawa hebat karenanya. Meski dalam waktu yang sama juga miris. Kemudian mengaca ke dalam diri, bahwa tidak semua orang tua itu baik dan bijaksana. Sebab kata Unggun dalam Sastrawan Salah Pergaulan, “Orang tua yang adil dan bijaksana hanyalah anggur cap orang tuaaa!” (Sastrawan Salah Pergaulan. Hlm. 33)

Baca buku ini halaman 42. Anda akan menjumpai seorang gadis membodohi pembina Pramuka dengan anggun dan amat jenaka.

Beberapa bagian lekat akan kutipan musik, dialog dalam film, bahkan kutipan tokoh, dan tentu saja kutipan puisi. Seperti judul Semusim dan Semusim Lagi, merupakan satu baris dalam puisi Sitor Situmorang berjudul Surat Kertas Hijau (1953).

Kutipan tokoh misalnya Yoshida Kanemoto, tokoh peletak dasar agama Shinto di Jepang. 

...Jepang adalah akar-akar dan batang, China adalah dahan dan daun-daun, sedangkan India adalah bunga-bunga dan buahnya...” (hlm. 46) dari buku John Bowker, Beliefs That Change The World.

Begitulah novel ini, banyak terdapat catatan kaki sebagai penjelas dari mana tulisan itu diambil atau disadur.

Ayahnya –yang hendak ditemui tersebut—dideskripsikan sebagai pengusaha, suka mengarang, berambut panjang warna abu-abu, dan memiliki perut agak buncit. Ayahnya dianggap sebagai orang yang keren, kemudian dinamai sendiri oleh tokoh utama sebagai Joe, sebab melihat banyak sekali –dalam film—orang keren dengan Joe. Mungkin Joesoef Fitroh tidak masuk dalam ‘Joe’ tersebut.

Deskripsi ayahnya, dan sebuah paragraf di halaman 62, membawa ingatan saya pada sosok SGA. SGA juga memberi pengantar di bagian sampul belakang, di samping puisi Sitor Situmorang. Saya tidak paham apa hubungan Andina Dwifatma dengan SGA.

...Ada sesuatu yang magis dan romantis tentang senja, sehingga aku tidak heran bila seseorang ingin mempersembahkannya sebagai hadiah untuk kekasih tercinta. (hlm. 62) 

Ingat dengan Sepotong Senja Untuk Pacarku?

Hal serupa juga saya temui ketika membaca Cantik Itu Luka. Ada bagian yang mengingatkan saya kepada The Old Man And The Sea karya Hemingway. “Ibarat seorang nelayan tua yang menangkap ikan marlin besar di hari yang tenang...” (Cantik Itu Luka. Hlm. 211)

Cantik Itu Luka di halaman 464 juga mengingatkan saya dengan Pramoedya, “Kalian tak akan mungkin menemukan pembunuhnya di rumah ini,” katanya jengkel, “kalian telah bodoh sejak dalam pikiran.” (Cantik Itu Luka. Hlm. 464)

Sehingga bukan masalah ketika saya membaca buku dan ingat akan tokoh lain di sana. Misalnya Semusim dan Semusim Lagi kemudian mengingat SGA.

Aku tidak pernah punya ponsel sebab kuanggap orang lain adalah neraka (Sartre pasti juga tidak punya ponsel) (hlm. 88)

Murakami pernah bilang begini dalam novel Hear The Wind Sing: dua hal yang tidak seharusnya ada dalam cerita adalah kematian dan hubungan seks, sebab cepat atau lambat orang pasti mati, dan pria akan tidur dengan wanita. Tidak ada gunanya menulis sesuatu yang niscaya. (Hlm. 93)

“Hemingway bisa menceritakan tentang cinta tanpa sekalipun menyebut kata cinta, dan itulah yang kusuka darinya,” kataku. (hlm. 96)

Aih, jika Anda ingin kutipan hebat dari tokoh penulis hebat, filsuf hebat, tokoh film hebat, pemusik hebat, cobalah membaca novel Semusim dan Semusim Lagi. Ditulis dengan serius tanpa bercanda. Tidak ayal memenangkan sayembara bergengsi itu.

“Dan dari segi kepribadian pun Shakespeare tidak bagus-bagus amat. Dia kan neurotik yang jarang mandi.” (Muara, hlm. 99)

...Mereka memandang seks sebagai sesuatu yang hina, yang justru menunjukkan apa isi kepala mereka sebenarnya. (hlm. 114)

Oma Jaya mengibaskan tangan seraya berkata itu bukan masalah, sebab bersikap baik pada tetangga termasuk di antara sepuluh hal pertama yang diperintahkan Tuhan. Aku bilang, aku tetap ingin membalas perbuatan baiknya meskipun itu tidak ada di sepuluh hal pertama yang diperintahkan Tuhan. (hlm. 119)

Mohon maaf sebelumnya. Saya kutip beberapa kalimat agar tidak lupa. Sebab saya berjanji memberikan buku ini kepada seseorang.

Novel ini berisi banyak hal. Kaya raya dengan pembahasan. Mulai dari agama hingga persetubuhan. Keluarga hingga asmara. Hal paling serius hingga paling jenaka. Dan saking banyaknya saya tidak mampu menuliskan satu-satu. 

Akhir novel tokoh utama bertemu dengan ayahnya. Ada bagian mirip dengan Lelaki Harimau. 

“Aku tidak pernah mencintaimu.” (Muara yang menjadi Sobron, atau Sobron yang menyamar sebagai Muara. Hlm. 225)

Satu hal lagi, judul ‘Semusim dan Semusim Lagi’ ditulis pada halaman terakhir. Mirip Dalam Diam-Diam Kehidupan Terus Berjalan tetapi tidak lolos ketika diikutkan Sayembara Novel Basabasi 2019. Semusim dan Semusim Lagi ini merupakan karya hebat. Jelas dan tidak ambigu. Siapa pun cocok membacanya, bahkan balita yang belum bisa membaca boleh membacanya. Sekian.

Semusim dan Semusim Lagi - Seloki

“Halo,” Izrail memberikan senyum manisnya padaku.
Aku menggulingkan badan memunggunginya, lantas berbisik lirih, “Shalom.” (hlm. 118)

Baca juga:

Tinggalkan Komentar

0 Comments