Sastrawan Salah Pergaulan - Sebuah Ulasan

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuhu...
Marilah kita awali mengulas buku berjudul Sastrawan Salah Pergaulan karya Puthut Ea dengan membaca Albaqoroh kaping tigang ewu tigang atus tigang ndoso tigo.

Sastrawan Salah Pergaulan - Sebuah Ulasan
Dokumen pribadi je
Apa yang hendak saya tuliskan di sini? Sebenarnya beberapa kalimat (serta gambar) di atas tidak begitu perlu. Saya hanya khawatir, jika keduanya tidak ditampilkan, maka ulasan ini tidak akan ada isinya.

Saya bingung apa yang mesti diulas. Identitas buku? Sudah ada di buku ini. Isi? Bisa dilihat di daftar isi. Jenis? Unsur intrinsik? Ekstrinsik? Harga? Desain kover? Tukang mbungkusi? Sudah ada semuanya.

Tapi saya tahu Anda selalu memaksa. Saya akan tampilkan identitasnya.

Judul: SASTRAWAN SALAH PERGAULAN
Penulis: Puthut Ea
Ilustrasi sampul: Ong Hari Wahyu
Jenis: Kumpulan cerita? haha... CMIIW
Penerbit: Buku Mojok
Jumlah halaman: vi+106 halaman (12 x 18 cm)
Cetakan pertama: Agustus 2019 (eh buset baru kemarin)
ISBN: 978-623-7284-08-6
Harga P. Jawa: 42 ribu rupiah
Kisah dewasa: Nonfiksi 17+++

Sebelum saya akhiri, hendaknya saling mendoakan untuk kebaikan sesama. (amin).

Dan sebelum saya akhiri (lagi), saya jadi ingin menyampaikan beberapa hal yang mungkin kurang bermanfaat.

Satu-satunya yang saya pertanyakan dari Sastrawan Salah Pergaulan ini adalah, mengapa ada tanda Konten Dewasa di depan, dan di kover belakang ada 17+. Dan saya kebingungan mencari pada bagian mana konten dewasa tersebut.

Apa ketika mengintip pengantin ngentuy? Pasti bukan. Apa ketika mabuk-mabuk pakai Orang Tua di kampus, di indekos, di jalanan, di mana-mana mabuk terus? Mungkin bukan. Atau karena nama seorang tokoh adalah Katolik? Jelas bukan ini.

Setelah saya melakukan kontemplasi di atas mulut kakus, sambil merokok Surya 12, saya mengetahui di mana letak konten dewasa tersebut! Jawabannya adalah kover depannya!

Hahaha... begitulah saya dengan kecerdikan dan ketajaman analisis yang berpilin jadi trisula Poseidon. Menembus kebingungan di mana letak koten dewasa yang diperingatkan di nyaris semua sisi buku ini (yang belakangan hiperbola).

Kover depan karya Pak Ong menampakkan gambar tidak senonoh. Saya mesti mengamankan sesuatu di dalam celana dalam, mengunci jendela, masuk selimut dan tidur setelah membaca surat Albaqoroh sekian ribu kali.

Aih, saya bercanda soal itu semua. Saya tidak menemukan apapun. Tulisan Puthut selalu memukau --untuk tidak menyebut terlalu memukau. Mengalir serta tetap membawa esensi apa yang hendak disampaikan. Jika tidak demikian, saya tidak memasang https://www.puthutea.com/ di bookmark, dan mengeceknya setiap sejam sekali.

Dan andai ada beberapa kata atau kalimat yang saya tulis di blog ini, menyerupai kata-kata atau kalimat yang pernah ditulis Puthut, niscaya tulisan saya itu adalah hasil dari usaha meniru darinya yang gagal berantakan.

Hampir semua percakapan di buku Sastrawan Salah Pergaulan memakai bahasa Jawa. Mungkin akan agak bermasalah jika dibaca oleh orang-orang di planet Venus. Hehe

Saya percaya buku-buku tulisannya Puthut dibaca oleh semua makhluk hidup, entah di bumi maupun di matahari, entah di dunia maupun di alam baka.

Berisi 16 tulisan pendek yang terkesan seperti 3 novela. Sebab saya kira dari 16 tulisan tersebut didominasi oleh 3 orang korban. Pertama... Ah, lebih sulit menuliskannya daripada membaca, Junguk! Anda baca sendiri saja, ya. Tidak lama. 2-3 jam juga kelar.

Kehidupan tokoh yang dianggap korban, terutama Unggun saya kira masih elit. Tidak terlalu menderita. Tapi cukup bikin ketawa karena memang jenaka (atau sedikit gila?). 

Asal bisa dapat rokok, makan nasi padang, dan minum anggur Orang Tua, hidupnya sudah hepi. (hlm. 1)

Bagaimana tidak hepi. Lawong semua kebutuhan dunia dan akhirat terpenuhi begitu. Keinginan minum amer selalu terpenuhi, sedang kami di sini mesti nabung dulu, Bos!

Saya sebenarnya tidak mau mengulas apa-apa. Serius. Hanya saja khawatir melupakan bahwa saya pernah membaca buku Puthut lagi. 

Sampai sini saja. Maaf kalau nggak ada gunanya. Wasalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuhu. Saya minta diri, ini seloki sudah lama antre. Teman-teman saya sudah protes haus semua.

Oh, satu lagi, ada satu kutipan yang saya setuju 100%:
Orang Tua yang adil dan bijaksana hanyalah anggur cap Orang Tuaaa! (Katolik di hlm. 33)

Baca juga:

Ameerr.... oohhhh.... Ameerrrr...... 

Tinggalkan Komentar

0 Comments