ORANG TUA PAGI HARI

"Jus, posisi?"

"Warkop, enek opo? (warkop, ada apa?)"

"Ndek o kontrakan. Penting. Saiki. (segera ke kontrakan. Penting. Sekarang.)"

"Munio. (bilang ada apa.)"

"Digoleki wong tuwek. (dicari orang tua.)"

"Sopo? (siapa?)"

"Wes to. Gek ndang rene! Wes dienteni. (sudahlah. Segera ke sini! Sudah ditunggu.)"

"10 menit nkas. Ngopi karo senior soale. (10 menit lagi. Ngopi bersama senior soalnya.)"

"Gek ndang pokoke. (secepatnya pokoknya.)"

20 menit kemudian.

"Jangkrek, kowe ra ngomong leg wong tuwek seng iki! Tak kiro Mas Hari. Ngerti ngene langsung budal aku cok! (Jangkrik, kamu tidak bilang kalau orang tua yang ini! Kukira Mas Hari. Tahu begini langsung berangkat aku cok!)"

"Wes to. Gek ndang diunyerne. Wes dienteni ket maeng kok. (sudahlah. Segera diputar. Sudah ditunggu dari tadi kok)"

"Isek isuk. Jan mantap. Tapi aku mek nggowo Surya. (masih pagi. Sungguh mantap. Tapi aku cuma bawa Surya.)"

"Lossss..." //

***

Tragedi Mandi di Sungai

Ada dua anak lelaki. Mereka suka mandi di sungai. Tetapi yang satu hanya menonton temannya mandi karena sedang demam. Temannya yang tadi segera meloncat ke sungai setelah melepas kaus dan celana.

Sejam kemudian terjadilah hal itu. Ini bukan cerita lucu. Melainkan cerita sedih dua bocah mandi di sungai. Sang bocah yang mandi tadi mati dan terseret arus. Kejadian tersebut membuat gempar seluruh desa.

Dua hari kemudian jasadnya ditemukan. Para penduduk menghubungkan dengan hal-hal mistis penunggu sungai. Para pemburu berita berkumpul sejak subuh. Mulai menulis di ponselnya masing-masing, meski berita yang ditulisnya belum utuh.

Polisi juga datang ketika desa gempar. Datang juga ketika jasad itu ditemukan. Satu-satunya saksi mata yakni bocah yang demam, sekarang demamnya makin parah tetapi seorang polisi tetap mencoba mewawancarai.

“Nak,” katanya memulai. “jadi kamu berada di sana waktu kejadian?”

“I..i..iya Pak,” kata si bocah gugup.

“Jawab yang tegas!” polisi malah membentak.

“Iya Cuk! Eh Pak maksudnya,” si bocah merunduk.

“APA KAU BILANG?!”

“...”

“Baik, baik. Kembali lagi. Kamu melihat kejadiannya. Ceritakan kronologinya.”

“Em, teman saya ngajak mandi, Pak. Terus saya nggak mau ikut—“

“Karena tahu sungainya dalam?”

“Eh, bukan, Pak. Saya lagi demam—“

“Kamu tahu sungai itu sedang banjir dan dalam, tapi kenapa kamu tidak menghalanginya mandi?”

“Sungainya nggak dalam, Pak—“

“Bagaimana kamu tahu sungai itu tidak dalam?! Sedang banjir begitu!”

“Saat itu ada segerombol bebek sedang mandi juga.”

“Kenapa kok malah bebek? Jangan bercanda ya!”

“Anu Pak, kaki bebek kan pendek. Mereka nggak tenggelam.”

Si polisi pergi begitu saja. Begitu pula awak media. Sementara itu suasana duka makin riuh. Anak itu ditinggalkan dalam keadaan kebingungan. Sedangkan sang mati tetap mati dan tidak hidup kembali, setidaknya untuk saat ini. //

Image by AY_91 from Pixabay

Baca juga:

Tinggalkan Komentar

0 Comments