Mengapa Jamur Enak? [Transkip Wawancara Imajiner yang Dinarasikan]

Saat itu presiden negara ini sedang di sebuah kampus untuk melakukan pengesahan gedung baru. Agendanya di kota ini ada 3. Sehingga mau tidak mau, saat itu saya buru-buru masuk kampus untuk wawancara padanya.

Hanya satu pertanyaan yang terstruktur, Mengapa jamur enak?

Baru dua langkah masuk kampus, saya didatangi jurnalis kampus. Dia meminta waktu sebentar. Berhubung saya orangnya tidak enakan, saya mau-mau saja.

Dia membawa saya ke gazebo sebelah barat perpustakaan. Tempatnya rindang --untuk tidak menyebut angker.

Jurnalis kampus itu langsung memperkenalkan diri, menyampaikan tujuan, dan meminta izin merekam. Saat itu pula saya melihat arak-arakan mobil presiden keluar. Saya sedikit menyesal karena belum sempat bertanya padanya Mengapa jamur enak?. Tentu saja, gara-gara jurnalis kampus ini.

Sebelum dia bertanya, saya ajukan pertanyaan. Mengapa jamur enak?

A--apa?

Jangan tampak goblok begitu, saya tidak bisa menyembunyikan marah. Jawab saja.

Hmm--apa ya? Apa karena kau menggorengnya setengah matang? Sehingga rasa dan aroma asli jamur tidak hilang?

Bukan.

Apa karena kau menyantapnya bersama sambal yang resepnya kau dapat dari ibunya pacar. Sambal yang terbuat dari bawang merah goreng yang banyak, cabai dan bawang putih yang digoreng setengah matang, kemudian kauulek, kau campurkan semuanya dan kauberi kecap yang banyak?

Bukan.

Apa karena kau menyantap jamur tiram goreng, sambil membaca naskah novel. Berjudul Semusim dan Semusim Lagi, yang menjadi pemenang, dari sayembara novel DKJ 2012?

Bukan.

Apa karena kau mengira, bahwa namamu adalah Joe yang keren seperti yang ditulis Andina Dwifatma. Sehingga berubah jadi Joesuf si keren dan hebat?

Bukan.

Apa karena kau sedang makan dan membaca, sambil menulis transkip wawancara, yang kau dapat ceritanya dari kepala?

Bukan.

Apa karena kau khawatir. Ada telescreen yang mengawasi semuanya, seperti pada puncak karya Orwell? 1984?

Bukan.

Hmm--apa ya?

Cobalah lagi!

Apa karena kau mengira, deskripsi 'ayah' di Semusim dan Semusim Lagi mirip SGA?

Bukan.

Apa karena kau baru saja menghabiskan uang, untuk membeli semua seri novela dari penerbit Circa, dan sekarang kelima-lima bukunya hilang dibawa setan?

Bukan.

Apa karena kau berjanji kepada pacarmu, untuk segera berkencan, tapi kau malah merokok setelah makan, sambil menulis transkip wawancara abal-abal?

Bukan.

Apa karena kau marah kepada dosen pembimbing skripsi, kemudian meminta dia diganti, dan sekarang dosen pembimbing skripsimu adalah sang rektor sendiri?

Bukan.

Apa karena kau gagal, membakar ruang organisasi, karena takut orang-orang di sana mati, kemudian kau kabur ke gedung rektorat dan melakukannya di sana secara sendiri?

Bangsat. Itu bukan aku. Jelas bukan.

Apa karena kau meminjam O, dan dicari-cari oleh pemiliknya, dan pemiliknya tahu bahwa bukunya kaubawa, kemudian merelakannya begitu saja, sebab mengerti buku yang kaupinjam tidak mungkin kembali?

Bukan.

Apa karena kau bingung cari uang, sedang biaya kuliah mesti dibayar? Sehingga kau menjadi pengemis di perempatan dan pertigaan, di sebelah pasar Boyolangu?

Bukan.

Apa karena kau mendapat kabar, naskah novel seorang teman, ditolak lagi oleh penerbit besar?

Meski itu kabar baik. Tapi bukan itu.

Apa karena kau terpukau dengan cerita yang ditulis Rabindranath Tagore, ketika tokoh utama itu membuktikan bahwa dirinya masih hidup?

Bukan.

Apa karena kau makan sambil mendengar lagu dari radio, yang dinyanyikan oleh seorang teman, yang bukunya berjudul Dongeng Rukmini kau tawan, hingga sekarang?

Bukan.

Apa kau khawatir, Ziarah Iwan Simatupang diminta dengan kasar oleh pemiliknya?

Dia bukan orang yang kasar. Tapi bukan itu.

Apa karena kau mendapat buku asli, cetakan lama tahun 1963, yang sampulnya dijahit dengan benang, dan diketik pakai ejaan dahulu dari perpustakaan di Surabaya?

Bukan.

Apa karena kau ingin hidup di zaman nabi, kemudian menghadiahi Rosulullah Saw. dengan ikan-ikan yang berhasil kau pancing dari Laut Merah?

Bukan.

Apa karena kau tahu, para juniormu akan baik-baik saja. Kemudian kau tenang dan makan jamur goreng dengan nyaman?

Bagaimana aku tahu mereka akan baik-baik saja, jika sikapnya sepertimu? Ayolah tebak, belajar apa saja kau ini?

Jangan marah-marah. Mari, merokok dahulu.

Apa rokokmu?

Kesukaanmu. Surya 12.

Menarik! Mari merokok dahulu.

Saya dan dirinya menantikan azan isya yang hampir selesai. Seseorang datang membawa dua gelas kopi. Menaruhnya di depan kami. Kopi ini bisa bertahan sampai subuh, ucapnya sebelum berlalu. Rokok gratis memang lebih enak dari rokok manapun juga.

Begini, sudah kucoba tebak dengan semua ingatanku tentangmu. Tapi aku sama sekali tidak bisa menebak mengapa jamur itu enak.

Kau memang harus menjadi anak-anak untuk tahu apa yang dipikirkan anak-anak.

Bukan begitu. Aku sama sekali tidak menganggap pertanyaanmu kekanak-kanakan. Sebenarnya, anu--

Apa?!

Aku tadi juga mau menemui presiden untuk bertanya mengapa jamur itu enak.

Jadi? Kau memiliki pertanyaan yang sama denganku! Hahaha!

Benar!

Mau kukasih jawabannya?

Benarkah kau mau melakukannya?! Tolong jawablah sekarang dan miliki semua sisa rokok Surya 12 dalam bungkus ini!

Setuju!

Lantas mengapa jamur itu enak?

Jawabannya cuma satu. Karena jamur  itu mushroom. Orang-orang biasa menyebutnya sebagai masrum. Aku juga bahagia, sebagaimana kau bahagia ketika mengingat orang itu.

Haa?!!!
Mengapa Jamur Enak? [Transkip Wawancara Imajiner yang Dinarasikan]
Gambar oleh skeeze dari Pixabay

Baca juga:
1. Cerpen
2. Buku [ulasan]
3. Artikel

Tinggalkan Komentar

2 Comments

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)