Mengalir

Mengalir

Dia marah kepada temannya karena air selalu mengalir. Dia sedang tidur dan mendapati bahunya basah. Dilihatnya ke atap, padahal tidak ada hujan sejak 3 bulan lalu.

"Kenapa setiap pagi kau selalu marah-marah, Temanku?"

"Jika yang mengalir padaku adalah uang seperti pada anggota DPR, tentu aku tidak akan marah! Satu hal lagi, jangan panggil aku teman jika saban pagi selalu ada air di pundakku!"

"Hal ini cuma terjadi di pagi hari, Teman. Agak siang juga sudah enggak." jawab temannya sambil mengusap hidung pilek dengan sarungnya.

"AGAK SANA, BERENGSEK!"

Akhirnya dia sendirian. Sore yang sama di hari itu temannya memutuskan keluar dan mencari indekos lain. Saat-saat menakutkan datang, ketika Ibu Kos mengetuk pintu depan tidak sabar.

***

KNALPOT

Dia sudah terlatih. Baik dalam keadaan sadar atau tidur. Hebat! Suara keras knalpot selalu keluar dari mulutnya.

***

Rindu Teman

Bagaimanapun ada masa-masa ketika dia rindukan temannya. Bahkan dia juga rindu air liur di pundak pada tiap pagi.

Malam itu listrik mati. Pintu diketuk dari luar. Dia segera beranjak dari kamar dan membukanya.

Dia pikir yang datang adalah temannya. Ternyata bukan. Seorang perempuan berdiri di sana, cukup cantik. Dan, tampak tidak asing.

"Apa kita pernah bertemu?" tanyanya masih di depan pintu. Dia ingin memberi sambutan yang baik kepada tamu. Tetapi listrik sedang mati, memasukkan seorang perempuan ke indekos berarti mengundang semua penduduk desa.

"Pernah, kita teman sekelas waktu semester 5"

"..." Lelaki itu mulai gusar.

"Ada keperluan penting, Nona?"

"Aku dengar kamu sendiri," katanya malu. "Aku...em... Berniat menemanimu."

Dia sama-sama malu seperti perempuan itu.

"Boleh, Nona. Eh, tunggu, jika kita pernah sekelas, pasti aku tahu namamu."

"Tentu saja kamu tahu. Kita cukup dekat sebelum perempuan itu datang."

"Katakan, Nona." lelaki itu mendesak.

"Kamu benar-benar lupa, ya?" dengan raut murung, kemudian melanjutkan. "bahkan kamu juga hadir ketika pemakamanku."

Lelaki itu ingat namanya. Tetapi dia mematung saja.

"Halo, boleh aku masuk dan menemanimu? Ehm? Sebenarnya aku, merindukanmu."

Lelaki itu tetap mematung. //

Image by Free-Photos from Pixabay

Baca juga:

Tinggalkan Komentar

0 Comments