MEMBENCI DIRI SENDIRI

Jusuf Fitroh sedang berkumpul dengan teman-temannya. Kali ini tanpa anggur merah biasanya. Tidak ada seloki juga. Hanya ada obrolan cabul yang terlontar pada tiap kata-kata.
Ritual di warung kopi selalu sama: saling berkeluh kesah tentang kesedihan yang dilebih-lebihkan.
Orang-orang hanya diam. Jusuf memulai: "Bagaimana ini? Kita harus menghasilkan!"
"Anak?" tanya temannya.
"Bukan Cok!"
"Uang?" tanya teman lain di depannya.
"Betul! Kelihatan sekarang siapa yang mesum dan siapa yang mata duitan."
"Asu!"
"Cok!" sahut yang lain.
"Hmm, serius. Kita ini bagaimana? Hidup kok begini saja. Lama-lama aku benci dengan diri sendiri."
"Jangan benci dirimu," sela salah satu teman lagi dengan ramah, kemudian tersenyum amat manis --untuk tidak menyebut menjijikan. "Sebab banyak yang lebih membencimu."
Mendengar kalimat temannya, dirinya telah yakin menentukan besok pagi untuk bunuh diri. //
***

ORANG PINTAR

Selain saling mencaci yang benar-benar membuat yang lain memikirkan bunuh diri, obrolan saat itu juga membahas tentang hal paling konyol: cinta kepada perempuan.
Adalah empat lelaki di kedai kopi. Tidak ada perempuan yang berhasil mendekati mereka. Bukan karena standar para lelaki itu tinggi, tetapi karena sang perempuan tidak bisa mengatasi jijiknya.
Namun satu di antara mereka berempat telalu menyedihkan. Ketika wisuda dari universitas itu dia malah diputus pacar, sebulan kemudian gagal menikah, dan sekarang kabar buruk tentangnya sudah diketahui oleh nyaris seluruh perempuan di dunia ini.
Dia melihat ponsel, memerhatikan dengan berahi foto perempuan penjaga kedai itu di media sosial.
"Perempuan ini pintar," katanya.
"Jelas. Makanya dia selalu menolak saat kau ajak berkencan."
Sekarang ada dua orang yang ingin bunuh diri besok pagi. //
***

ORANG KETIGA

Orang ketiga ini selalu menceritakan semua keluh kesahnya kepada Jusuf Fitroh seorang. Tampak aneh, budaya kita memandang kurang wajar jika lelaki curhat dengan sesama lelaki. Tapi itulah yang terjadi.
Jusuf Fitroh yang sudah memutuskan bunuh diri tidak menganggap keluh kesah temannya. Dia cuek dengan berlembar-lembar sedih yang amat detail diucapkan.
Lelaki itu menyadari mimik tidak peduli Jusuf Fitroh. Kemudian seketika bersedih. Sedihnya jadi berlipat ganda banyak sekali. Amat sedih. Dan memutuskan ikut bunuh diri besok pagi. //
YANG TERAKHIR
Mengetahui ketiga teman gilanya akan bunuh diri pada besok pagi, dia murung. Memikirkan dengan amat dalam hingga timbul sebuah pertanyaan, "Jika mereka semua tidak ada, siapa yang akan menemaniku gila di dunia ini?"
Keputusan juga telah diambil. Lelaki terakhir ini akan ikut bunuh diri pada besok pagi. //
***

BESOK PAGI

Mereka berempat bangun kesiangan. //
Dari sebuah obrolan receh di kedai kopi tengah kebun belimbing (22092019)

MEMBENCI DIRI SENDIRI
Image by Ulrike Mai from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments