MAKAN AYAM

Jusuf Fitroh sudah lama hidup miskin. Makan hanya sekali dalam sehari bahkan dua hari. Jika ada uang, lauknya tempe. Jika tidak ada, sering kali hanya kerupuk. Pagi itu membahagiakan. Temannya datang membawa makanan.

“Rasanya ayam sudah berubah ya, sekarang begini?”

“...” temannya diam saja tetap melanjutkan makan.

Jusuf Fitroh amat lahap. Tetap melanjutkan makan seperti temannya, sebungkus nasi dengan tahu goreng itu tinggal setengah. //

SEHARI SEBELUM AKSI

Semua tampak fokus mendengar arahan korlap termasuk dirinya. Dia sendiri mencatat semuanya. Diikuti isu nasional dari surat kabar sejak seminggu lalu.

Besok adalah waktu turun ke jalan. Dia ingat Sajak Sebatang Lisong, dan hatinya sudah membara. Suasana hari ini tidak baik-baik saja.

Ponsel di tas kecil miliknya terus berdering. Setelah arahan selesai, dilihatnya ponsel itu.

Ternyata teman-temannya yang lain menyebarkan instruksi rektor bahwa perkuliahan Kamis, 26 September 2019 tetap berjalan. Kampusnya tidak mau mendukung apa-apa terkait aksi. Instruksi semacam itu tidak akan menghentikan dirinya.

Pada pesan lain yang belum dibaca, ada 16 pesan dari ibunya. "Jangan ikut aksi!" begitulah. Isinya semua sama.

"Iya, Ibu." jawabnya kemudian.

Dia seketika minta izin pulang. Mengambil semua risiko stigma dari teman-temannya. Hatinya yang terlanjur membara terlalu membara, dan gosong jadi abu. //

GAJI PERTAMA

Akhirnya keempat lelaki tersebut bisa berkumpul kembali.

Suatu malam di warung kopi tengah kebun belimbing yang sama, mereka bertemu.

"Sekarang aku sudah mendapat pekerjaan, jadi guru. Ya, meski gajinya tidak sampai 300 ribu, harus dipakai untuk tujuan baik. Aku gunakan 250 ribu di kotak infak masjid. Sisanya untuk hidup sebulan lagi."

"Sedangkan aku juga bekerja," kata yang lain. "jadi pengajar les privat freelance sekota ini. Lumayan. Bisa mencapai 500 ribu jika mau lelah. Uang itu yang 450 ribu kuberikan kepada orang tua."

"Aih, kalian ini biasa saja," kata yang lain lagi. "uang gaji kalian kurang mulia, semua gajiku dari Kantor Desa semuanya kuberikan pada para gembel di pasar! Jumlahnya satu juta 500!"

Dua orang sebelumnya memberi tepuk tangan kepada orang barusan. Kemudian ketiganya memandang Jusuf Fitroh yang diam saja sejak tadi. "Kalau kau bagaimana?"

"Nggak mulia amat. Gaji pertamaku cuma 2 juta. Kupakai semua untuk membelikan hadiah buat pacar yang wisuda."

Semua sujud mencium kaki Jusuf Fitroh. Kemudian memukul wajahnya setelah dia mengatakan, "Tapi bohong, aku kan belum bekerja. Mana dapat gaji. Goblok kalian semua!" //

MAKAN AYAM
Image by Sharon Ang from Pixabay
Baca juga:

Tinggalkan Komentar

0 Comments