Kenali Dulu Siapa yang Hendak Kau Bunuh

Saya sebenarnya muak mendengar keluh dari orang ini. Dia begitu menyebalkan. Semua yang dikatakan mulutnya selalu melebihi kenyataan, melampaui khayalan kami sebagai manusia normal. Sayangnya, jika tidak didengarkan, dia akan menjadi makin gila dan anarkis.

Betapa mengerikannya ketika dia menendang tong sampah di keramaian, sebagaimana mengerikan pula ketika dia mabuk. 

Setiap bangun tidur dia geledah almari baju teman sekamar. Kadang juga tas. Tidak jarang saku jaket dan celana. Dia mencari rokok. Jika tidak didapati keinginan tersebut, akan diambil uang berapapun itu. 

Teman sekamarnya tidak memiliki banyak uang. Jika ada, itu hanya cukup beli sabun mandi dan sabun cuci. Uang yang terlalu lembut disebut sedikit itu tetap diambil. Pernah suatu kali tidak dijumpai apapun dari pencariannya setelah bangun. Hal yang lebih mengerikan terjadi.

Dia mengambil radio warisan ayah teman sekamarnya. Dijual begitu saja. Dan temannya itu menghabiskan malam di hari yang sama dengan menangis. 

Sekarang monster itu di depan kami. Sedang bercerita tentang betapa mengerikannya kerja dan kuliah. Yang belakangan itu tak jadi soal panjang, sebab bagaimanapun, sekarang dia telah lulus. Telah banyak juga telinga yang mendengar keluhnya yang nyaris tanpa akhir ketika masa-masa kuliah.

Banyak yang bedoa agar dia segera mati saja. Malah beberapa orang merencanakan pembunuhan terhadapnya, di depannya. Dia hanya tertawa, merangkul orang-orang itu, dan --tentu saja-- mengambil sebatang rokok di saku kemejanya. Niat membunuhnya sirna. Mereka ingin menyiksanya hingga menangis dan mengompol.

Saya kira cerita tentang dirinya hanya bualan. Ternyata tidak. Itu sungguhan dan kisah nyata. Sosoknya begitu lusuh, tidak terawat, lebih mirip ranting pohon meranggas daripada manusia. Namun itu, aduhai mulutnya, sial benar, mulut itu mengeluarkan kalimat-kalimat yang seakan tanpa koma dan titik. Terus berbicara tentang kesedihan yang dilebih-lebihkan. Tentang pekerjaan yang baru saja dia dapatkan, diceritakan kepada kami, kepada sarjana yang telah menganggur dua tahun. Percayalah, ini menyakitkan.

Baca juga:

"Sial benar hidupku! Anjing benar! Kerjaanku berat! Aku sampai tidak memiliki waktu luang yang cukup, tidurku terganggu, dan selalu mimpi buruk. Bahkan seminggu ini aku sama sekali belum onani. Bayangkan! Betapa sengsaranya diriku ini...

"Andai saja aku mendapat kerja yang lebih enak. Dengan gaji yang lebih banyak. Niscaya akan kukabulkan nasi goreng yang selalu kalian impikan itu. Tidak sebungkus! Melainkan dua! Sekarang tugas kalian adalah mendoakanku, tentu saja yang baik-baik...

"Ayolah. Kalian pasti memiliki posisi yang kosong yang bisa kukerjakan tanpa membuat kepusingan? Benarkan?"

Kami masih diam.

"Astaga! Aku bodoh! Kalian belum bekerja. Padahal sudah dua tahun lulus dari kampus itu."

Dia beralih menunjuk seorang dari kami, "Hei kau! Kau lulus cum laude, tapi mengapa kau menganggur! Hidupmu jadi sia-sia dan sangat tidak bermanfaat. Lihat, kau sama sekali tidak berguna, bahkan kau tidak bisa memberiku pekerjaan yang gajinya lumayan.

"Hidupku jadi begini gara-gara kalian. Mengapa kalian bisa setega ini. Sekarang aku tidak mau tahu, aku pusing dan butuh ketenangan."

Monster itu beranjak. Mengambil empat batang rokok teman saya. "Aku tadi hanya pesan susu hangat. Gorengan empat. Oh, sama sate yang bulat itu enam."

Sekarang dia menghilang. Menaiki motor teman saya yang dibawanya sejak seminggu lalu. Katanya, motornya sedang tidak sehat dan perlu dibawa ke bengkel untuk berobat. Tapi kenyataannya tidak demikian, motornya baik-baik saja, terparkir sempurna dan bersih habis dicuci, dengan bahan bakar penuh, di indekos.

"Bangsat! Kontol!" teriak teman saya. "Dia bilang tidak punya waktu! Aku tidak terima! Sial! Setiap bangun tidur, dia merokok di depan rumah. Tidak melakukan apa-apa. Merokok punyaku!"

"Punyamu, bagaimana?" tanya saya gagap.

"Goblok! Bukan punyaku itu! Rokok milikku!"

"Sabar, sabar. Setiap yang hidup akan mati, tidak terkecuali dirinya," teman yang lain menengahi.

"Tidak bisa--"

"Sabar."

"Jika yang mati kita dulu?!"

Suasana hening sebentar. Kami hendak merencakan pembunuhan kembali. Tidak ada keadaan yang baik-baik saja jika dia masih hidup. Keputusan malam itu adalah membeli racun tikus.

Tidak kami tuntaskan pada malam itu juga. Sebab dia sudah tertidur. Kami pun juga tidur. Saya melihat dirinya dan benci mengakui bahwa dia tampak anggun saat tidur. Tenang. Lelaki itu tenang yang benar-benar menenangkan. Akhirnya saya terlelap juga.

Pukul sepuluh semua sudah bangun. Tidak ada pembunuhan terjadi. Tiga ekor tikus masuk ke sarung teman saya yang sedang tidur. Dia merintih kesakitan gara-gara celana dalamnya berlubang, meninggalkan lecet di kepala barang yang dilindungi.

Sehingga racun tikus yang mestinya untuk monster itu digunakan teman saya pada nasi hampir basi. Ditebar di tiap sudut ruang, bahkan di kamar mandi juga.

Entah bagaimana dia selalu selamat dari niat membunuhnya.

Seperti biasa, dia mengambil sebatang milik teman saya. Mendekati saya dan berbisik, "Aku sendiri kesulitan membunuh diriku."

Saya mematung tidak percaya.

Kemudian berteriak keras kepada seluruh orang di indekos, "Nanti malam kita ngopi! Aku yang bayar!!!"

Kami semua tahu, bahwa itu adalah tidak mungkin, dia akan meminta dibayarkan dulu, dan tidak pernah diganti, dan kemudian hanya akan berkeluh tentang kesedihan biasa yang sangat dilebihkan.

Tapi malam itu kami tetap berangkat menuruti ajakannya. Dia orang yang aneh. Benar-benar menyebalkan. //

Kenali Dulu Siapa yang Hendak Kau Bunuh
Gambar oleh Myriam Zilles dari Pixabay

Baca juga:

Tinggalkan Komentar

3 Comments

  1. Setelah kenal, gak jadi bunuh. 😪

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak tahu. Yang nulis saja nggak paham sama yg ditulis. Soalnya suwung tinggal di kantor sendirian. Padahal sudah demisioner.

      Delete
  2. Sesama demisioner jangan saling membunuh ya, kakak.

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)