Fisherman’s Friends: Pertemanan Lebih Dulu, Musik Kemudian

Jika Anda menyukai film dan musik dan laut sekaligus, cobalah luangkan waktu satu jam 52 menit untuk menonton film Fisherman’s Friends. Besar kemungkinan Anda akan menyukainya. Pun dengan orang yang tidak suka film dan musik laut sekaligus, cobalah dengan kerja keras tetap luangkan waktu satu jam 52 menit untuk menonton film ini. Besar kemungkinan tiba-tiba Anda akan suka film dan musik dan laut sekaligus.

Meski tidak jarang Anda setelah membaca artikel ini, kemudian mencari film Fisherman’s Friends di situs web bodong gratisan, menonton sampai habis selama satu jam 52 menit. Kemudian memutuskan untuk memblokir seloki secara permanen dari peramban. Atau meninggalkan komentar yang sama sekali tidak manusiawi. Tentu saja semua itu sama sekali tidak apa-apa.

Latar film sebagian besar di Desa Port Isaac. Didasarkan dari kisah nyata. Mungkin ada tambahan-tambahan yang sedikit, namun tetap saja, film ini berdasarkan kisah nyata.

Setidaknya, jika Anda melihatnya akan mengetahui bahwa beberapa lagu –terutama yel-yel—di Indonesia diadopsi dari Sea Shanties.

Terkait identitas dari Fisherman’s Friends banyak Anda temui di internet. Ulasan ini akan lebih condong –dan mungkin jatuh—pada opini subjektif semata. 

Menurut saya, Fisherman’s Friends adalah film yang menyehatkan! Pada titik tertentu akan menjadi jenaka dan sangat mengharukan!

Kuncinya saya kira ketika produser rekaman dari kota datang ke pesisir tersebut. Kemudian mendengar nyanyian dari para nelayan. Salah satunya menjadi korban dari bercandaan mereka –yang lainnya. Sehingga terpaksa tinggal di Port Isaac dan merayu para nelayan untuk mau menandatangani kontrak rekaman.

Ya, rencana kontrak rekaman itu hanya bercandaan semata. Produser rekaman meninggalkan satu orang krunya sebagai bahan lelucon semata. Kemudian melalui telepon mengatakan bahwa dirinya tidak benar-benar mau merekam boyband usia lanjut tersebut.

Baca juga:

Ada prediksi dari saya  untuk kelanjutan ceritanya. Orang itu akan akrab dengan nelayan-nelayan, menyukai salah satu anak dari mereka, tinggal di sana.

Meski dugaan saya benar, ada kejadian-kejadia kompleks yang seharusnya –dan memang mestinya— hanya Anda dapat dari menonton filmnya. Bukan membaca ulasan.

Kejadian umum disajikan dengan baik. Misalnya soal benturan budaya orang kota dengan orang desa pesisir. Di sinilah romantisme itu terjadi. Kejadian yang mengharukan.

Saya sendiri merasa terharu. Sehingga mengantuk saya di hari ini tiba-tiba lenyap juga. Kemudian secara tiba-tiba pula menyukai yel-yel laut (Sea Shanties). Saya begitu menikmati film, terutama ketika nelayan-nelayan tersebut bernyanyi bersama-sama. Aroma dari nyanyian –meminjam kata H Niskala— riang-riang sedap.

Jika Anda ingin membaca lebih banyak tentang boyband orang jompo itu, bisa cari buku Fisherman's Friends: Sailing at Eight Bells. Uniknya, buku tersebut ditulis sendiri oleh para pemainnya. Bagaimana? Tidak memiliki uang seperti saya? Coba lihat situs web resmi milik Fisherman’s Friends ini: https://thefishermansfriends.com/.

Percayalah! Bahwa genre Fisherman’s Friends adalah komedi. Banyak sekali hal-hal lucu. Oleh sebab itu, saya menganggap film ini sebagai menyehatkan.

Saya ingin menyampaikan banyak informasi terkait produsen, pemain, latar, hingga dampak ketika film keluar, atau bahkan berapa biaya yang mesti disiapkan ketika produksi. Atau membandingkannya dengan film lainnya. Sayangnya, oh sungguh sayang… pengetahuan saya terkait film sama buruknya dengan pengetahuan saya tentang musik.

Anda sangat diperbolehkan mencari informasi-informasi yang alpa saya paparkan dari internet atau langsung menemui Fisherman’s Friends. 

Yang jelas, saya amat menyukai, sekaligus menikmati, dan terbawa oleh film Fisherman’s Friends dan Sea Shanties yang dibawanya di film. Saya akan membocorkan bahwa akhirnya adalah bahagia. Artinya: tidak akan mengakibatkan bunuh diri.

Satu hal lagi, seperti kebanyakan film yang didasari kisah nyata, ada deskripsi pada akhir yang merupakan etos Fisherman's Friends: pertemanan lebih dulu, musik kemudian. Saya percaya sepenuhnya dengan kalimat itu, para pemancing dan nelayan selalu saja orang baik.

Fisherman’s Friends: Pertemanan Lebih Dulu, Musik Kemudian
Sumber: https://www.folkradio.co.uk

Baca juga:
1. Ulasan Film
2. Ulasan Buku
3. Daftar Isi (Semua Postingan di Seloki)

Tinggalkan Komentar

0 Comments