Film Mantan Manten: Kaya Raya Unsur

Mantan Manten (2019). Saya tahu film ini dari seorang teman. Menarik, saya kira. Setidaknya pada cerita teman saya itu, dia mengatakan bahwa film ini tentang budaya Jawa.

Sejak awal diceritakan bahwa tokoh utama tersebut seorang wanita karir. Hidup di lingkungan pebisnis raksasa. Menguasai perusahaan yang besar. Serta budaya yang benar-benar menggambarkan formalitas perkotaan.

Selama 30 menit tersebut saya mulai berpikir. Bahwa teman saya telah mengatakan judul film yang salah. Tapi kehidupan di kota dengan segala budaya dan ketololan itu habis juga. Tokoh utama dijebak oleh calon mertua. Hartanya habis untuk mengganti kesalahan yang diperbuat oleh calon mertuanya tersebut.

Saya tidak menyebut nama. Ingatan saya tentang nama buruk sekali. Jika Anda tahu nama saya, tolong kasih tahu saya. Terima kasih.

Akhirnya tokoh utama itu ingin menyerang balik calon mertuanya. Dia kumpulkan investasi yang masih ada. Harta yang mungkin terselip di balik kuping gajah. Sebenarnya ceritanya cukup rumit, kemudian dia menemukan bahwa dulu pernah membeli rumah dari seseorang di Solo.

Kata pengacara –yang ternyata kaki tangan calon mertuanya—dia mesti mempunyai harta/investasi sebelum melakukan serangan.

Baca juga:

Baik, itu lain cerita. Keseluruhan bagus. Saya mencoba objektif di sini, meski saya sendiri amat muak melihat kehidupan dan budaya kota yang formal penuh main politik. Kalau kata Rendra: peradaban yang dangkal!

Tokoh utama hidup lama bersama pemilik rumah (yang mau diambil olehnya). Namun terhambat sebab orang yang disebut sebagai Budhe itu nanti tidak memiliki rumah lagi. Gejolak bathin terjadi. Tokoh utama tidak tega mengusir Budhe yang sudah 50 tahun hidup di rumah tersebut. Lantas dia dan Budhe hidup bersama selama 8 bulan.

Lama kelamaan saya tahu di mana letak kejawennya. Tokoh utama tersebut hendak dijadikan penerus Budhe. Budhe sendiri seorang dukun nikah (rias pengantin). Ingatan saya berlari ke sana kemari memikirkan hal-hal lain.

Saya ingat pada teman saya yang memberi tahu judul ini, bahwa dirinya hendak dijodohkan seperti di film. Saya ingat pula pada naskah novel seorang teman yang membahas tentang penurunan ilmu. 

Tokoh utama tersebut mempelajari adat Jawa dalam urusan pernikahan. Melakukan tapa dan puasa mutih. 

Perpindahan budaya yang amat formal berubah menjadi amat kultural begitu mengesankan! Bahasa yang semula keminggris, menjadi campur Jawa. Baju yang metropolis menjadi kebaya setiap hari. Banyak sisi mistis misalnya tokoh imajiner yang mengajak Budhe untuk kembali atau ketika perias pengantin meniupkan asap rokok sehingga pakaian pengantin bisa muat dipakai. Sisi spiritual. Dan masih banyak lagi.

Meski demikian tetap ada unsur-unsur seperti percintaan yang membuat berbedar.

Masalah mulai berlanjut. Ternyata tunangan tokoh utama yang (pada awalnya) berniat membantu, meninggal sang tokoh utama untuk menikahi perempuan yang dibawa ayahnya. Calon manten itu menemui Budhe untuk meminta restu. Bertemu dengan mantan manten (tokoh utama).

Anda pusing. Jika iya, saya akan akhiri cerita dari sini. Baik. Anda perlu mengetahui jalan cerita dari filmnya sendiri. Selamat menonton.

Terakhir kali, saya mau mengatakan. Bahwa buku harian Budhe ketika dibacakan begitu terasa adem. Akhirnya tokoh utama menjadi perias untuk calon suaminya, yang sekarang menikah dengan perempuan lain. 

Bukan melulu kesedihan. Ceritanya lebih tepat tentang keikhlasan. Anda harus menontonnya sebelum memutuskan membunuh mantan karena pengkhianatan.

Tinggalkan Komentar

0 Comments