Acara di Kementrian Agama Republik

Hari itu ada acara di Kementrian Agama Republik. Jusuf Fitroh ditugasi mengurusi hal-hal teknis karena dia CO bagian DPAT. Oleh karenanya, mikrofon dan sound yang baru datang dia coba satu-satu.
“Tes tis,” katanya ketika mencoba mikrofon. “Tes tis satu dua tiga.”
Orang-orang yang sibuk bekerja menyiapkan semua keperluan tetiba berhenti. Mendengar suara keras kurang enak dari sound.
Jusuf Fitroh tetap melanjutkan, “Tes tis, sek, sek, satu, dua tes tis.”
Acara diakhiri tanpa pernah dimulai.
“Ya Alloh! Kementrian Agama cabul!” umpat seorang tamu seraya keluar dengan kesal. //
 ***
Pagar listrik
Jusuf Fitroh terheran dengan rumah temannya. Dia hendak bertamu, temannya melihat dari dalam pintu. Seketika dia berlari keluar menghampiri Jusuf Fitroh.
“JANGAN DISENTUH!” teriaknya keras sekali menggema di seluruh desa.
Jusuf melonjak dua langkah ke belakang. Dia pegangi dada seolah ada yang rontok di sana.
“A-a-ada apa, teman?”
“NANTI KAU MATI!”
“K-k-kenapa?”
“PAGAR INI ADA LISTRIKNYA!”
“P-pagar depan rumahmu, a-a-ada listriknya? S-s-sudah berapa yang m-m-mati?”
“ADA SATU! JIKA KAU MENYENTUHNYA KALI INI.”
Temannya mendekat lagi. Kemudian membuka pagar kayu itu. Jusuf Fitroh masuk dan masih memegangi dadanya. “Kau hebat, teman. Tidak mati tersetrum.”
“Tentu saja, aku tuan rumahnya.” //

Acara di Kementrian Agama Republik
Image by Free-Photos from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments