Jeda

Kau melihat rak-rak buku dan bertanya, "Apa benar tidak ada ojek di bawah Menara Eiffel?" 
Tidak berjawab.
"Apa benar cantik itu luka?"
Kau tidak tahu jawabannya karena laki-laki, itu sudah cukup membuatmu bertanya kepada perempuan di depanmu. Pun dengan Paris, kau tidak pernah pergi ke sana, sejujurnya, tidak tertarik dengannya.
Sepagi itu seorang perempuan datang, kau baru bangun tidur. Belum merokok, belum juga memberi makan ikan di kolam belakang rumah.
Halaman rumah masih banyak daun-daun, ruang tamu masih kotor, tapi perempuan itu tetap masuk. Tersenyum seperti dalam mimpimu semalam. Begitu cantik.
Kau minta diri untuk mencuci muka di belakang dahulu, yang sebenarnya membuatkan dia teh manis. Kemudian kalian mulai berbicara. 
Ada banyak cerita yang belum sempat tersampaikan selama sekian bulan itu, kalian berdua tidak pernah berjumpa. Beberapa hal memang demikian, dibuat lebih rumit ketimbang kenyataan. 
"Minum dulu," katamu.
Dia meminumnya. Mengusir canggung yang mestinya tidak datang. 
"Sepasang kekasih mestinya tidak malu-malu," katamu lagi seolah tahu apa yang sedang dipikirkan.
Dia bercerita bahwa sekarang ada jalan yang lebih mulus menuju rumahmu. Kau tahu tentang itu sejak setahun lalu. Dia juga bercerita di bawah jembatan Halimunda banyak yang memancing, kemudian menyanrankan agar kau liburan di sana, tentu saja itu rencanamu dahulu. Sebelum disibukkan dengan tuntutan dari sana dan sini, darinya.
"Wah, menarik," katamu seolah-olah tertarik.
Selama tidak bertemu, kau telah mengalami masa-masa paling tidak menyenangkan. Hidupmu jadi gelandangan di kotanya. Sedang dia masih menata hidup agar jadi lebih baik lagi. 
Dia membawa sebotol anggur kesukaanmu, tapi setelah mabuk dua botol pada hari-hari sulit kemarin, kau tidak berniat untuk menenggaknya. Dia meletakkan botol itu di bawah meja, teronggok di sana hingga percakapan kalian berakhir.
"Nggak usah repot-repot," kau tersenyum saat ini. "Aku sudah terbiasa dengan kesibukanmu yang tanpa celah itu."
"Apa maksudmu?"
"Hmm," kau berdiri. "Kau sibuk, Sayang. Dan aku sudah terbiasa tanpamu."
Kau berjalan menuju rak-rak buku. 
Kita tahu apa yang selanjutnya terjadi. Kau bertanya tentang ojek di Paris dan tentang cantik. Sementara dia sedang menahan tangis di kursi yang sama. 
Itu bukan perpisahan yang pertama, tapi bakal jadi yang paling sakit.

Jeda - SELOKI
Image by Ryan McGuire from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments