HANTU-HANTU JURNALIS YANG TERSESAT DAN PENASARAN

Saya akan menulis (cukup) panjang. Mengingat bahwa senior-senior itu jelas telah melepaskan identitasnya yang dibangga-banggakan kepada para penerus-penerus dengan berbusa-busa ribuan kata. Sekarang dianggap tak berarti.
Sehingga jika saya menulis dengan tidak jelas, membosankan, dan panjang. Bisa dipastikan bahwa mereka semua tidak akan membacanya. Sebab tidak ada budaya membaca yang dianjurkan kepada tiap penerus-penerus yang mereka lakukan.
Cerita ini dimulai dari hantu. Begitulah hantu-hantu jurnalis berkeliaran di bawah pohon belimbing. Di sana berdiri sebuah kedai kopi murah yang dijaga perempuan berkaus putih. Orang-orang sering ke sana, menikmati kopi dan hal lainnya.
Orang-orang sudah kebal dengan hantu. Hingga semua hantu di kebun belimbing itu mengintip dari malam pukul dua dini hari. Seekor kucing berwarna kuning masuk kamar mandi, hanya satu orang yang melihat. Namun mereka tidak peduli. Kucing itu hilang entah ke mana sebagaimana tidak diketahui dari mana datangnya.
Sebuah bra dengan warna yang sulit ditebak menjadi penanda semangat telah muncul. Satu-persatu akan bergantian menyebutkan tebakannya, “Merah!” atau “Merah muda!” dan seisi dunia akan berbahagia jika tidak ada warna yang bisa ditebak. Menampakkan isi dalam kaus putih secara jujur dan tidak dibuat-buat. Kejujuran itulah yang mereka banggakan.
Dan darah akan digilir dari jantung ke seluruh tubuh dengan kecepatan penuh. Hal belakangan selalu terjadi pada tiap-tiap orang-orang yang semuanya adalah laki-laki. Sebab itulah, jurnalis-jurnalis yang telah mati, membaca data yang didapat ketika masih hidup dahulu kala. Kemudian hantunya bergentayangan, mengintip dari sisi kegelapan kepada para laki-laki yang darahnya sedang dipacu-pacu.
Dari kesemuanya data tidak ada yang membahas bagaimana tentang kesenangan menebak warna bra. Oleh karena itu mereka semua berkumpul di sini. Mereka penasaran. Begitulah kehidupan bodoh yang paling bisa diharapkan oleh hantu-hantu itu. 
Jika kita melihat ke atas, pada langit yang hitam dan seolah tak terdapat apa-apa di sana, sebenarnya ada gumpalan awan-awan tebal dan keras. Awan tersebut menahan matahari untuk beranjak. Sehingga pagi semakin lama datang. Hal bagus bagi para pecinta darah muda, hal baik pula bagi para hantu-hantu dan kelembapannya.
Binatang-binatang malam tidak lagi bersuara. Hanya sunyi dan hitam yang telah ditelan dan dimasuki. Semuanya terasa wajar saja setelah masuk ke sunyi dan hitam. Tidak ada kesalahan yang bisa dilihat hanya dari perbuatan yang seolah-oleh bersalah. Pun tidak ada kebaikan yang bisa dilihat dari perbuatan yang seolah-olah benar. Semuanya perlu pendalaman, hingga pada titik tidak ada yang benar-benar salah dan benar-benar benar.
Sepulang dari sana mereka pergi memancing. Masih pukul 3 dini hari, di depan rumah yang telah mati lampunya. Mencoba mempraktikkan salah satu cerita pendek di buku dengan gambar kover sebuah lubang jamban. Tentunya mengendap-endap, mereka adalah tiga orang dengan pakaian hitam dan tangan terampil.
Dilihatnya arloji yang hitam, mereka mendekat pada air untuk mendapat cahaya dari pantulan bulan. Nahasnya, bulan tidak tampak sama sekali. Mereka berada di dalam hitam. Tidak ada apa-apa selain suara bisik-bisik dari mereka sendiri. Sedangkan hantu-hantu jurnalis masih mengintip seorang perempuan mencuci piring dan gelas bekas kopi, melihat tiap lekuk pahanya, membayangkan rupa dan aroma daripadanya. Mereka onani di sana. 
Saya sendiri, kalau boleh jujur, akan berpihak pada salah seorang yang telah pulang dan tidur duluan. Orang-orang itu sebenarnya berjumlah empat, tapi yang hendak maling hanya 3. Dia mengatakan telah mengantuk, sebab kelemahan manusia hanya ketika mengantuk, tidak bisa melakukan apapun dengan benar. Sehingga dia pulang dan tidur.
Mereka bertiga berada di sana hendak maling. Perbuatan itu sama gelapnya dengan malam. Ada penantian yang tak pasti, salah satunya melipir pergi, dan salah satunya bertanya hendak ke mana? Tapi orang yang pergi itu tetap berjalan menjauhi kedua yang lain, mendekati jalan raya yang lebih terang.
Dilihatnya arloji yang masih aktif, dan bergumam mengapa sekarang masih pukul sepuluh. Dia kembali lagi dan mengabarkan bahwa sekarang masih pukul sepuluh. Sehingga mereka bertiga memutuskan untuk menunggu lebih lama lagi hingga pukul setengah empat.
Masih saja setengah jam jongkok di sana, di tengah hitam di sebelah rumah yang hendak dimaling hartanya, di pinggir kali yang airnya tidak terlihat sama sekali. Tidak ada yang boleh merokok. Tapi satu orang sangat ingin merokok, maka satu yang lain menghentikannya, sedang satu yang terakhir menyarankan untuk kembali ke kedai kopi.
Mereka memesan kopi, menghabiskan tiga ribu yang mestinya untuk malam besok. Tapi mau bagaimana lagi, keinginan untuk merokok dari mereka bertiga sudah sampai puncaknya. Ketika motor diparkir, sebelum mereka memesan, hantu-hantu jurnalis itu menutup kembali celananya. Memasukkan selang kecil mungil mirip batang korek api yang sangat sulit disebut sebagai kontol.
Itulah milik mereka, hanya kacuk belaka. Kecil, mirip cacing, paling besar hanya mirip ular air, yang hanya bisa menyemburkan racun sedikit saja. Maka mereka –hantu-hantu jurnalis— yang sedang bersembunyi di bawah pohon belimbing malu menunjukkan milik mereka. Bahkan mereka malu untuk memperlihatkan wajahnya.
Lampu-lampu di kedai kopi itu berwarna terang kuning. Ditutup dengan jala ikan dari bambu, membuat bayangan temaram. Dua batang sudah habis untuk masing-masing orang. Salah satu bertanya pukul berapa sekarang? Orang yang memakai arloji menjawab bahwa sekarang masih pukul sebelas. Orang yang bertanya tadi mendengus panjang, melihat kenyataan menyedihkan dari hidup mereka, dan bersyukur tidak menjadi hantu-hantu jurnalis yang kemaluannya kecil dan sedang bersembunyi di balik pohon belimbing.
Orang yang selalu diam, dan tampaknya telah menempuh jalan kesia-siaan yang panjang berkata, bahwa mereka sebenarnya tidak direstui oleh alam untuk maling malam ini. Dia juga menambahkan buktinya waktu diputar. Alam menolak mereka melakukan kejahatan.
Orang yang paling beringas menantang, dia berdiri dari duduknya, menunjuk pada orang yang menasihati bahwa dia hanya takut belaka. Dia hanya khawatir dengan risiko dan tidak sanggup akan kebahagiaan yang besar! Bahkan orang ini membawa-bawa kata-kata Bob Sadino untuk menutup argumennya.
Azan subuh terdengar, orang yang memakai arloji melihatnya, ternyata sekarang sudah pukul setengah lima. Ketiga-tiganya mengutuk dan memaki untuk sesuatu yang entah apa itu.
Mereka berbarengan buru-buru ke rumah di pinggir kali. Seperti seorang komandan yang memberi semangat kepada prajuritnya, orang paling depan dan paling garang berkata bahwa mereka harus menuntaskan tugas mulia tersebut untuk membanggakan si penulis cerita pendek yang sedang tertidur karena pulang duluan. Dua orang di belakangnya yang berperan sebagai prajurit mengangguk penuh kepastian.
Tiba-tiba ada ponsel berdering. Mereka mencari-cari di mana suara yang mengganggu tugas mulia tersebut. Di sanalah terdapat cahaya kotak mencolok pada malam yang legam, di pinggi air sungai, komandan sendiri yang turun mengambilnya. Dia melihat di seberang kali, teronggok mayat seseorang.
Setelah dia ambil ponselnya, dia gunakan cahaya dari sana untuk melihat lebih jelas. Seorang dengan seragam dan celana jeans. Memakai kartu pengenal yang dikalungkan, dibacanya kartu itu, “JURNALIS” maka dia tinggalkan dan naik kembali.
Orang yang pakai arloji bertanya mayat siapa itu, dengan ketenangan yang luar biasa orang tadi menjawab bahwa di bawah mungkin saja mayat jurnalis dari hantu-hantu jurnalis di bawah pohon belimbing.
Mereka berdua yang mendengarkan komandannya mengangguk mantab. Ponsel yang didapat barusan dibuka, dibaca pesan yang tampil di layar, dari kontak bernama “REDAKTUR KONTIL” isi pesannya singkat saja, “INGAT DEADLINE!!!” yang diketik pakai huruf kapital semuanya.
Mereka bertiga merasa tersiksa membaca pesan tersebut. Kemudian membayangkan betapa sulit ujian mayat di bawah sana ketika masih hidup. Tapi mereka tidak goyah, tetap pada tujuan mulia yang tanpa pamrih kepada temannya yang sedang tidur itu. Sehingga dibukanya ponsel itu sekali lagi, tampak pukul 1 dini hari. Sehingga ponsel itu dibuang ke sungai dan tenggelam tidak kentara. Hanya ada suaranya ketika masuk air.
Sebenarnya kesadaran mereka telah hilang. Terjebak dalam lingkaran setan yang memuakkan. Pada cerita yang dibaca, mereka harus bertamu ke rumah tersebut lewat jendela. Tidak ditulis pada pukul berapa, namun mereka tahu, itu adalah waktu 20 menit sebelum azan subuh pertama berbunyi. Tak ada pancing, oleh karenanya, dibunuh dahulu jurnalis yang sedang menghibur diri dengan memancing. Kemudian diambil jorannya, dibiarkan di sana di samping mayat jurnalis sehingga menyerupai cerita yang mereka bacai.
Sekarang mereka kembali lagi ke kedai kopi. Memesan susu hangat, mengganggu tidur penjaga kedai yang sedang wik-wik di semak-semak ditonton hantu-hantu jurnalis yang sedang onani. Orang paling pendiam kembali bekata bahwa rencana mulia itu tidak direstui alam. Tapi orang yang mengaku dianggap sebagai komandan karena banyak bicara itu menantangnya lagi, dia berkata dengan nada tinggi bahwa tidak ada tugas mulia yang bisa dilakukan dengan mudah. Keyakinan mereka makin bertambah. Semangat mereka menggebu-gebu seakan hendak dapat hadiah luar biasa. Komandan maling berhasil membangkitkan jiwa perlawanan para prajurit maling.
Orang yang pakai arloji melihat penunjuk waktu itu. Mengatakan bahwa sekarang sudah pukul tiga. Mereka harus bersiap hendak ke rumah yang tadi, yang lampunya telah hitam dan tampak tidak akan mendapat masalah berarti. Sehingga susu hangat yang baru saja dipesan langsung dihabiskan. Satu rokok telah sampai gabusnya. Mereka beranjak, menyibak hantu-hantu jurnalis yang penasaran dengan tetek karena selama hidup tidak mengenal cinta dari lawan jenis.
Seorang jurnalis pemberani datang dari arah selatan. Melewati rel kereta yang memotong jalan, mendekati mereka dan mengatakan ingin meliput tentang tata cara maling yang baik dan benar. Mereka tidak keberatan asal nama mereka disamarkan, dengan pertimbangan jurnalis itu mendapat sedikit dari hasil jarahan.
Baca Juga:
Jurnalis itu setuju, begitu pula dengan mereka. Ketika waktu-waktu menunggu itu mereka menjadi kenal lebih dalam, banyak wawancara tidak terstruktur terjadi atas jurnalis tersebut. Dia ditanya tentang kehidupannya, kemudian bercerita panjang bahwa pekerjaannya tidak ada uangnya, dilarang main perempuan dan fokus pada kerja kerjurnalistikan, dan harus berani berhadapan dengan bahaya apapun juga asal punya data. Hal itu bukan sesuatu yang mudah dicapai, jurnalis itu menambahkan bahwa kajian-kajian diberikan untuk bekal paradigma.
Dia terus bercerita seperti mendongeng, ketiga maling itu terpukau dengan caranya menyampaikan pengalaman. Jurnalis itu juga mengatakan bahwa harus memegang teguh identitasnya sebagai jurnalis, sebagai penyampai kebenaran, juga tentang banyak temannya yang telah menyesatkan diri sendiri dan bermesraan dengan kekuasaan, melupakan independensi karena tidak tahan dengan kesulitan dan tidak ada yang bisa dibanggakan.
Komandan maling memalingkan wajah, meludah tanda muak dengan sikap jurnalis-jurnalis teman jurnalis itu. Kemudian bertanya apakah ada jurnalis seperti itu dan menambahkan bahwa jika pun ada pasti kemaluannya hanya sebesar pentol korek api.
Orang yang pakai arloji menyarankan agar jurnalis macam begitu menjadi maling dan ketahuan sehingga digebuki hingga mati. Jurnalis pemberani tidak terima teman-temannya dikatakan demikian, sehingga dia mengatakan bahwa tidak akan menyamarkan nama dan tidak akan menerima pembagian jarahan sedikitpun, serta menyampaikan kebenaran dengan sebenar-benarnya.
Komandan maling murka kemudian membunuh jurnalis tersebut. Dia dibuang ke sungai di mana sebelumnya telah terdapat mayat jurnalis yang suka memancing. Sekarang dua mayat itu teronggok di sana, arus sungai tidak kuat membawa mereka ke hilir.
Komandan maling yang resah bertanya pada orang yang pakai arloji tentang waktu. Kemudian orang yang pakai arloji berjalan ke jalan raya, mencari tempat yang lebih terang untuk melihat penunjuk waktu murahan yang dipakainya tersebut.
Dia segera kembali dan mengatakan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat. Komandan maling menginstruksikan untuk memakai penutup wajah sebagai salah satu poin dari 9 Elemen Kemalingan. Mereka mendekati rumah sasaran. Mencongkel jendela di sebelah kanan, dan ketika hendak masuk, pintu utama dibuka.
Seorang perempuan dengan baju tidur melihat mereka bertiga dan mengajak untuk masuk lewat pintu saja. Mereka bertiga menerima tawaran baik itu karena tidak sopan jika menolak. Tujuan utama mereka bukanlah untuk berbuat jahat, melainkan untuk menyenangkan penulis di cerita pendek itu.
Komandan berjalan di depan para prajurit, di belakang perempuan pemilik rumah, dan bertanya apakah tidak ada lampu di rumah ini? Kemudian perempuan itu mengatakan bahwa jika ada lampu maka mereka bisa dengan leluasa melihat isi dari baju tidur yang dikenakannya sebab hanya terbuat dari kain yang tipis sekali. Perempuan itu juga berpesan untuk menutup pintu agar hantu-hantu jurnalis tidak mengintip mereka.
Sementara itu, pada tidur yang terganggu, penulis cerita terbangun. Dia membuka ponsel dan menemukan potret memuakkan. Dia hendak menulis cerita tentang jurnalis-jurnalis itu sebagai hantu-hantu jurnalis yang tersesat dan penasaran.
Meja ruang tamu sudah dipenuhi makanan dan minuman. Mereka tidak bisa melihat karena terlalu gelap, sebagaimana mereka tidak bisa melihat perempuan pemilik rumah. Dengan ketenangan mirip Dewi Ayu, perempuan itu bertanya apakah mereka akan maling sesuatu? Komandan itu menjawab iya. Ada sedikit jeda sebelum dilanjutkannya bahwa hanya untuk menyenangkan penulis yang sedang tidur.
Perempuan itu meminta mereka untuk memakan dan meminum yang sudah dia siapkan sejak tadi. Mereka meminumnya, air merah itu terasa tidak asing bagi lidah mereka. Sehingga mereka langsung saja menghabiskan karena ketagihan. Orang yang pakai arloji bertanya apakah boleh merokok di sini? Perempuan itu menjawab tentu saja boleh sebab di sana bukan kantor Korp Suka Rela.
Setelah mereka menyulut rokok, perempuan itu mengatakan bahwa penulis cerita telah bangun dari tidur. Komandan maling bertanya apakah dia tertanggu dengan sesuatu? Perempuan itu menimbang-nimbang di dagunya dan menjawab bahwa dia bangun karena kebelet pipis.
Mereka bertiga menjadi tenang. Perempuan itu menyarankan kepada mereka untuk pulang dan tidur, dan datang maling kembali setelah dunia tidak sehitam ini, sebab akan sangat sulit menemukan sesuatu yang berharga dalam kegelapan.
Mereka memahaminya sebagai ungkapan baik, dan menyadari bahwa tugas mulia tidak boleh dilakukan dengan terburu-buru. Mereka kemudian berpisah di depan pintu, perempuan itu melambaikan tangan meskipun tidak terlihat. 
Sebelum mereka berpisah, perempuan pemilik rumah berpesan kepada ketiganya agar tidak melupakan identitasnya sebagai maling. Komandan sebagai juru bicara prajuritnya bertanya bagaimana jika identitas sebagai jurnalis? Perempuan itu tersenyum tapi tidak terlihat, kemudian berkata lagi bahwa indentitas sebagai jurnalis sangat boleh dilupakan dan tidak perlu dibanggakan sama sekali.
Komandan bertanya pada orang yang memegang arloji tentang waktu. Dijawab bahwa sekarang pukul satu dini hari. Mereka kembali lagi ke kedai kopi, memesan wedang jahe, dan merasa bangga sebagai maling dibandingkan sekumpulan hantu-hantu jurnalis di sekelilingnya. //
HANTU-HANTU JURNALIS YANG TERSESAT DAN PENASARAN

Tinggalkan Komentar

1 Comments

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)