Dongeng Pulau Tak Dikenal, José Saramago [ULASAN]

Judul: DONGENG PULAU TAK DIKENAL
Judul Asli (Portugis): O Conto da Ilha Desconhecida (1998)
Judul (Spanyol): El Cuento de La Isla Desconocida
Penulis: JOSÉ SARAMAGO
Penerjemah: Ronny Agustinus
Jenis: Novela
Jumlah halaman: 51 hlm. 11x17 cm
Penerbit: Circa
Cetakan pertama: April 2019
ISBN: 978-623-9008-74-1

Dongeng Pulau Tak Dikenal merupakan Seri Novela Penerbit Circa.

Secara pribadi, saya suka buku seperti ini. Aih, maksud saya: buku kecil, tipis, dan bercerita tentang air, serta tanpa ada nama tokoh. Terlepas dari unsur intrinsik maupun ekstrinsiknya.

Sayangnya isi di dalamnya tidak mengecewakan juga. Terutama pada belokan alur di bagian akhir. Tentu saja saya tidak akan menceritakan kejutan-kejutan sehingga --jika kalian membacanya-- kadar ledak yang kalian terima berkurang.

Baca juga:

Secara ringkas novela ini menceritakan seorang lelaki yang ingin mencari pulau tak dikenal. Oleh karenanya, lelaki tersebut mengetuk pintu istana meminta kapal kepada raja. Ada kisah jenaka antara raja dan bawahan-bawahannya.

Kejenakaan ini bisa dianggap sebagai satire yang anggun atas pemegang kekuasaan. Perintah dari raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, dilempar oleh penerima perintah itu untuk dilaksanakan bagi pejabat di bawahnya, dilempar lagi, dan lagi, dan berhenti pada seorang babu.

Sehingga lelaki itu dipertemukan dengan seorang babu. Sebab raja yang diminta menemui mengutus menteri, menteri kepada menteri dua, kepada asisten, kepada, dan seterusnya panjang sekali sampai kepada babu yang tidak memiliki babu lagi untuk diperintahkan menemui lelaki pemohon itu.

Saya tidak mau mengulas terlalu banyak. Novela tidaklah panjang. Kalian akan menyelesaikannya dalam sekali duduk, dan/atau jongkok. Yang jelas, tidak lebih lama dari kegiatan kalian berkirim pesan dengan pacar padahal 100% kesia-siaan belaka.
...kakekku biasa berkata bahwa siapapun yang pergi ke laut mesti mempersiapkan diri di darat terlebih dulu (hlm. 39)

Saya mengira yang dimaksud kakek pada kutipan di atas adalah Santiago. Dan perkiraan saya sirna setelah membaca selanjutnya:
dan ia bahkan bukan pelaut.

Kita tahu, bahwa Santiago adalah seorang kakek, namun dia pelaut.

Keseluruhan ceritanya menarik, tidak membuat jenuh. Setidaknya bagi saya. Sebab menggunakan penyampaian yang unik dibanding narasi-narasi secara umum. Tidak terlalu banyak deskripsi, fokus pada kejadian, dan yang paling jelas adalah penulisan percakapan yang tanpa tanda petik dan tanpa enter. Antar percakapan hanya dibatasi oleh tanda koma.

Sebenarnya penulisan kutipan tanpa tanda petik pernah juga saya jumpai pada buku Sekali Peristiwa di Banten Selatan, namun pada buku tersebut masih dienter ke paragraf baru.

Walau demikian, (lagi-lagi) saya suka cara menyampaikan percakapan tersebut. Keanggunan cerita tidak luput karena tulisan ini aslinya memang bagus, sehingga kita perlu berterima kasih pada Saramago. Dan alih bahasanya, seorang penggandrung sastra dan kajian Amerika Latin dan Iberia, Ronny Agustinus, sehingga bisa dibaca dalam Bahasa Indonesia. Serta Circa yang telah menerbitkannya.

Bagian sampul belakang ada ulasan dari Washington Post Book World, bahwa, Kisah manis tentang percintaan dan pencarian identitas pribadi.

Seperti yang saya katakan di atas, menceritakan kisah dan kejutannya membuat kadar ledak berkurang. Tapi kalian ini selalu memaksa, baiklah, tapi jangan salahkan saya. Kisah cinta yang dimaksud adalah lelaki itu dan babu istana. Kelak mereka berdua tidur satu dipan di dalam kapal, saling berpelukan.

Sedangkan pencarian identitas yang dimaksud adalah --seperti judulnya-- mencari Pulau Tak Dikenal. Yang dimaksud pulau tak dikenal adalah kapal itu sendiri, pemberian raja, yang belum memiliki nama, diberi nama sebagai Pulau Tak Dikenal.

Bingung? Cari bukunya, baca tiap kejadian, dan temui sendiri titik-titik menarik, yang mungkin mengubah hidup kalian jadi kaya raya, punya tempat tinggal, berhenti makan batu dan arang, sehingga... segera masuk surga, lantas mengadakan pesta seks dan miras di sana.

Baca juga:

Akhir yang menarik, saya kira.
...dengan huruf-huruf putih lelaki dan wanita itu mengecat di kedua sisi haluan nama yang belum dimiliki kapal tersebut. Hampir tengah hari, bersama arus, Pulau Tak Dikenal akhirnya melarung ke samudra, mencari dirinya sendiri. (hlm. 50)

Selain novela ini, seri novela Penerbit Circa misalnya:

1. Yang Telah Tiada (James Joyce)
2. Ajari Kami Melampaui Kegilaan Kami (Kenzaburō Ōe)
3. Dalam Kobaran Api (Tahar Ben Jelloun)
4. Maut di Vanesia (Thomas Mann)

Nanti malam saya mau mengembalikan novela Dongeng Pulau Tak Dikenal (José Saramago) kepada orang itu. Dia bukan pemiliknya, saya yakin, dia adalah perempuan. Dan yang paling membuat saya yakin buku ini bukan miliknya: nama peminjam buku ini bukan Agus T sebagaimana tertulis di balik sampul lengkap dengan tanda tangan yang lebih mirip sebagai kacuk belum sunat.

Beda lagi jika buku ini pemberian. Tentu saja itu urusan mereka berdua. Asal saya dipinjami --kalau bisa-- empat novela lainnya dari Circa.

Terakhir kali, saya mau mengatakan bahwa buku ini bisa dibaca oleh siapa saja. Tentunya yang berani mengabaikan sebentar kegiatan berkirim pesan dengan pacar. Sekian.
Tabik.

Dongeng Pulau Tak Dikenal, José Saramago [ULASAN]

Tinggalkan Komentar

2 Comments

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)