Demisioner Tidak Memiliki Hak Menjalankan Roda Organisasi

Demisioner --secara sederhana-- bisa diartikan sebagai keadaan tanpa kekuasaan. Lihat KBBI.
Sebagaimana ketika pengangkatan, demisioner juga harus menyesuaikan dengan keadaan. Tak elok dan beretika rasanya, ketika demisioner tampak --seolah-olah-- enggan melepas sebuah jabatan.
Barangkali empunya sendiri tidak sadar, bahwa sikap-sikap yang ditunjukkan mencerminkan keberatan hati, masih merasa berkuasa, dan ingin mendominasi atas organisasi/lembaga yang --sebelumnya-- pernah dipegangnya tampuk kekuasaan tertentu di sana.
Kekuasaan memang menyenangkan. Orang yang memilikinya (kekuasaan) bisa mewujudkan kehendaknya sendiri, sehingga meningkatkan kontribusi yang tampak berpengaruh, sehingga orang-orang lainnya menjadi pengikut setia yang buta dan tuli.
Hal ini sejalan dengan anggapan Max Weber (1992), Macht beduetet jede chance innerhalb einer soziale Beziehung den eigenen Willen durchzusetchen auch gegen Widerstreben durchzustzen, gleichviel worauf diese chance.
Gibson juga mengemukakan bahwa kekuasaan adalah kemampuan seseorang untuk memperoleh seuatu sesuai dengan cara yang dikehendaki.
Baca juga:
Sayangnya, beberapa orang --setidaknya yang pernah saya temui-- menganggap kekuasaan yang didapat selama menjabat pada struktur fungsional sebuah organisasi tidak turut lepas seluruhnya setelah demisionernya.
Mereka terlalu cinta dan tidak mau kehilangan posisi itu. Sehingga merasa khawatir dan kurang percaya jika tampuk kekuasaan dipegang oleh penerus-penerusnya.
Atau, yang paling sering terjadi: merasa tidak rela jika sistem yang telah dibuat oleh mereka selama masa jabatan dirombak atau diubah. Padahal, para demisioner tidak memiliki hak menjalankan roda organisasi.
Baca juga:
Namun, perlu diketahui juga. Bahwa tidak semua demisioner merasa dirinya sebagai kunci yang tidak boleh hilang dalam kepengurusan.
Mereka telah menyadarai, dan tentunya juga tahu, demisioner tidak memiliki kekuasaan lagi terhadap organisasi. Dalam hal ini, perilaku-perilaku tidak terima masih bisa dilihat dan dirasakan.
Dalam bentuk apa? Tentu  saja intervensi dan intimidasi yang berkedok saran dan pertimbangan.
Para demisioner akan mencampuri hal-hal terkait struktur (atau yang lebih kompleks adalah kultur) dalam pengambilan kebijakan intern organisasi. Bisa juga berupaya menyetir kemudi hendak ke mana arah tujuan organisasi tersebut dalam bentuk saran-saran.
Tidak cukup sampai di sana, saran-saran yang dilemparkan dengan persuasif dan masif dibungkus retorika memukau yang telah dipelajari dalam waktu yang lama, akan dilanjutkan dengan intimidasi berbentuk pengungkapan dampak-dampak buruk jika saran-saran darinya tidak dilaksanakan.
Menarik, bukan?
Aduhai, saya lupa, bahwa tidak semua demisioner bisa berpikir panjang. Hal paling mudah ditebak oleh mereka yang terlalu cepat menyerang tanpa mengasah pedang, misalnya: ketika bertemu tidak menyalami orang yang dianggap bukan rekan yang sejalan. Dalam bahasa yang paling manusiawi: tidak menganggap ada, kemudian menilai sebuah kritik sebagai bentuk kebencian paling nyata. //
Demisioner Tidak Memiliki Hak Menjalankan Roda Organisasi
Gambar oleh StartupStockPhotos dari Pixabay

Tinggalkan Komentar

2 Comments

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)