Batu

Sebuah batu teronggok biasa saja di pinggir jalan. Batu itu berwarna hitam pudar, mirip semen yang diproduksi sebuah pabrik dua puluh lima meter di sebelah timurnya. Beberapa kendaraan melewatinya, tanpa peduli pada batu di pinggir jalan, tanpa peduli pada batu di kepalanya.
Segelas es sari tebu dipesan seseorang. Kemudian orang itu berjalan melewati sebuah batu setelah menghabiskan es sari tebunya. Dan jika batu yang teronggok di pinggir jalan dimasukkan gelas barusan, pastilah masuk. Batu tidak tamak.
Ukuran batu itu kecil saja, seorang bocah yang belum kenal cinta akan bisa mengangkatnya dengan mudah. Tapi tidak ada yang peduli dengan batu!
Batu yang menyedihkan itu murung saja. Perlu saya katakan, bahwa batu dalam cerita ini bukanlah metafora apapun juga. Hanya batu. Dan itulah yang terjadi.
Setelah murungnya batu tidak berujung, batu itu tetap diam. Menjadi seperti batu yang sebenar-benarnya. Batu seperti kebanyakan batu yang berada di pinggir jalan, juga ratusan batu di tengah aspal. Semuanya hanya batu belaka.
Batu kita yang diam saja hendak bertanya pada batu yang lainnya, "Untuk apa kita di sini, Wahai Batu?"
Batu yang ditanyai menjawab, "Wahai Batu! Sadari batasanmu! Kau adalah batu, dan sejak bumi ini diciptakan, batu tidak pernah berbicara untuk bertanya!"
"Tapi kau menjawabnya, Batu," kata batu kita ramah.
"Itu karena kau bertanya! Dasar Batu!"
Percakapan itu berakhir tanpa suara sebagaimana ketika dimulai. 
Manusia tidak akan tahu meskipun kedua batu itu berbicara, pun bernyanyi, pun menangis. Tapi batu lebih memilih menjalani hidupnya serupa yang digariskan, tidak lebih dan kurang. Maka batu hanya diam tidak bergerak. Tapi percayalah, bahwa hatinya batu itu tetap bersenandung indah memuja Tuhan.
"Tidak ada batu yang ateis," kata satu batu raksasa jauh sebelum manusia pertama diturunkan ke bumi.
Semua batu di sekitar batu raksasa itu mengamini. "Benar, kita punya Tuhan!" jawab mereka, tentunya dalam hati.
Sekarang batu-batu kecil bertebaran. Dan sekarang puluhan lainnya masih terbang. Zaman ini mengubah hukum alam, mestinya batu hanya diam, tidak berjalan apalagi terbang. 
Batu kecil kita yang warnanya mirip semen itu diambil sebuah tangan. Orang itu melemparkan batu kita, menjadikannya terbang seperti lainnya. Batu kita tidak goyah, meski menghantam helm baja para polisi. Kemudian berserakan di bawah sepatu tebalnya, seperti ratusan batu lainnya.
Dia mencoba tidak bergeming dalam pertapaan agung untuk selalu diam. Meskipun ratusan batu lain, mirip dirinya, sedang berserakan. Meskipun ada ratusan orang marah yang melempar-lemparkan mereka. Meskipun ratusan polisi yang dilempar-lempar dengan batu-batu menahan murka.
"Apa kita perlu berdiri? Menggabungkan diri dan melempar para manusia tidak berguna ini?" tanya batu kita pada batu lain yang hancur separuh karena diinjak lars.
"Jangan, Kawan batuku! Jangan! Kita diciptakan Tuhan untuk menjadi batu, dan kita tidak boleh bergerak dan berbicara."
"Tapi, Kawan batuku! Ratusan, atau mungkin ribuan manusia ini, lebih batu daripada kita!"
Tidak berjawab.
Begitulah akhirnya, setelah dua hari dua malam mencoba diterbangkan dan dibenturkan, setelah selama itu pula mendengar teriak beringas tidak terima, dibalas dengan teriakan tidak terima dari sisi lainnya, ratusan batu yang berceceran di aspal, juga di pinggir jalan, dibersihkan penyapu jalan bersama baju-baju sobek, daun jatuh, kerangka mobil gosong, dan bekas darah di beberapa sisi jalan.
Batu-batu itu --yang termasuk di dalamnya adalah batu kita-- menantikan pengakhiran nasib buruk jadi batu. Mereka mesti berbahagia, sebab tidak ada penderitaan yang terus menjadi sebuah penderitaan. Akhirnya mereka dibuang ke sungai yang jernih.
Betapa pun batu-batu bahagia, mereka semua hanya batu. Dan sekali lagi, batu tidak boleh bergerak. Batu hanya diam dan berzikir. 
Arus yang tenang, udara yang sejuk, ikan-ikan menyapa mereka satu-satu, membuat hari-hari selanjutnya benar-benar menyenangkan bagi batu-batu itu. Mereka dibawa arus kecil itu, bertahun-tahun lamanya. Hingga lumut-lumut hijau kasar mulai tumbuh pada mereka, menjadi pendamping hidupnya untuk waktu yang lama.
Tapi ini bukan cerita bahagia, jadi kehidupan bahagia batu-batu itu hanya sementara belaka. Batu-batu itu juga tahu, bahwa tidak ada kesenangan yang terus menjadi sebuah kesenangan. Sekarang adalah giliran penderitaan lagi.
Sungai yang menjadi surga bagi batu-batu itu mampat arusnya, busuk udaranya, dan sama sekali tidak ada ikan yang mau menyapa. Ikan-ikan mati, bau mengerikan itu mengubah warna sungai jadi hitam mirip tinja busuk, dan arusnya mampat karena sampah menjadikan sungai damai meluap-luap.
"Cukup, Sungai, cukup!" kata batu kita.
"Tidak bisa dibiarkan! Manusia benar-benar sudah keterlaluan!"
"Jika mereka tidak keterlaluan, maka mereka bukan manusia, Sungai!"
Sungai yang hendak marah sebentar surut murkanya. Tapi air itu tetap meluap, tetap membanjiri sebagian dari kota. Setidaknya, air itu bukan tumpah karena sungai yang marah. Bukan juga karena batu yang selalu menjadi batu yang dibuang ke sana. 
"Kenapa kau menghambat arus sungai kita, Wahai Sampah?"
"Demi Allah, aku tidak akan berada di sini, menghambat aliran sungai yang indah ini, mematikan semua ikan cantik itu, dan menjadikan airnya busuk mirip tai, jika bukan ulah manusia sendiri."
"Kau marah pada mereka, Sampah?"
"Tidak!" jawab sampah-sampah serempak. "Sampah tidak boleh marah kepada sampah yang lebih sampah. Karena sampah, hanya perlu menjadi sampah. Dan marah adalah urusan manusia, bukan urusan kami, Batu kecil."
"Kita sekarang harus bagaimana?"
"Mengapa engkau masih bertanya, Wahai Batu. Kita harus menjadi seperti yang telah ditakdirkan pada kita. Kau menjadi batu yang sebenar-benarnya batu. Aku menjadi sampah yang sebenar-benarnya sampah. Dan sungai ini menjadi sungai yang sebenar-benarnya sungai."
Mereka semua menjadi demikian. Batu itu berada di dasar sungai dan menjadi batu. Sampah-sampah itu menghambat aliran di ujung hilir. Sungai itu terus meluap setiap musim. Dan ikan-ikan tidak akan dijumpai, dan sebagian kota itu tetap akan dibanjiri. 
Batu kita yang berwarna mirip semen itu akan berbahagia kembali dan mengakhiri penderitaannya setelah sekian lama jika manusia mengubah ulahnya. Meskipun sebab manusialah dia sekarang bersedih. Dia menanti, jauh di dalam endapan lumpur dasar sungai. Dan yakinlah, sampai sekarang pun dia masih menanti. //

Batu - seloki
Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Tinggalkan Komentar

1 Comments

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)