Balasan untuk Kesepakatan Berengsek Buatanmu

Mereka berdua masih berada di kedai kopi pada pukul 11 malam. Sebelum berangkat ke gunung pada besok paginya.
Adalah dua lelaki berumur dua lima yang kedua-duanya nyaris melakukan bunuh diri karena sesuatu yang aneh. Bagaimanapun mereka masih hidup, menjadi pendiam kepada orang-orang di sekitar serta begitu cerewet ketika hanya berdua.
Satu-satu candaan terlempar begitu saja pada dua gelas kopi hitam di depannya. Orang-orang di kedai kopi tidak peduli sebagaimana sisa kopi terhadap candaan mereka.
Pada saat-saat tertentu mereka berdiam. Sedikit menyadari bahwa waktu telah begitu larut. Pada waktu-waktu itu kebanyakan orang sedang mencoba beristirahat.
Hingga pukul setengah dua mereka pulang ke rumah masing-masing.
"Besok pukul delapan pagi kutunggu kau di depan gapura," kata seorang.
Dijawab dengan anggukan sederhana tidak berlebih oleh seorang yang lain.
"Awas kalau sampai telat, kau berangkat sendiri saja."
Musim ini suhu udara turun. Membuat dingin. Tapi dua lelaki itu telah terbiasa dengan kedinginan. Sebab yang paling dingin melebihi suhu rendah adalah tatapan dari orang-orang yang menganggap mereka dua manusia aneh.
Seperti semua mahasiswa, KKN menjadi penempuhan SKS paling menyenangkan. Kita tidak perlu sibuk bangun pagi, berpakaian rapi, dan mencari referensi di perpustakaan yang mirip gudang kolor itu. Kita hanya perlu hidup, tidak lebih, sesuka dan sebebas mungkin.
Itulah rencana mereka berdua pada pagi berikutnya, mengunjungi posko-posko KKN adik tingkat mereka di organisasi dahulu. Mereka berdua telah melakukan penempuhan SKS menyenangkan itu, sekian tahun yang lalu.
Delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas. Sekarang jam telah menunjukkan pukul dua siang. Sedangkan dia baru saja bangun.
Tanpa buru-buru --seakan telah mengetahui bahwa tidak mungkin bisa mengembalikan waktu-- dia menikmati masa-masa paskabangun itu. Telentang di kasur tanpa dipan sambil membuka mata. Mengumpulkan niat segera bangun kemudian mandi. Niat itu baru datang setelah kopinya semalam berontak di perut hendak dikeluarkan.
Bukannya menuju tempat perjanjian semalam dengan temannya. Dia malah pergi ke kedai kopi. Menyalakan ponsel, dan mendapati ponselnya dibanjiri pesan yang jumlahnya puluhan. Banyak kata-kata dari nama binatang dan nama tubuh manusia, digabung dengan tanda seru yang banyak sekali, ditulis dengan huruf kapital semuanya. Yang intinya bahwa dirinya berengsek dan telah ditinggal ke posko KKN di gunung dan pengirim pesan berjanji menunggu di sana sampai besok pagi.
"Aku... kesiangan, ya?" keluhnya lebih pada diri sendiri.
Dipesannya kopi hitam sekali lagi. Disulut rokok. Tanpa sarapan, pun juga tanpa sapaan selamat pagi dari seorang pun juga. Dan dia merasa akan ada sesuatu yang menarik nanti.
Entah bagaimana bisa dilakukan, dia berada di kedai kopi menghadapi hanya segelas saja nyaris lima jam. Azan isya terakhir di desa itu telah terdengar. Dan niatnya untuk segera bangkit serta berangkat ke gunung baru saja penuh.
Lelaki itu pulang sebentar, mengambil jaket satu-satunya di gantungan baju belakang pintu. Serta helm satu-satunya di atas lemari.
Itu adalah malam yang dingin, perjalanan sendirian menuju tempat di punggung gunung yang jelas lebih dingin. Namun bayangan tentang kopi hangat yang ditubruk kasar dan dinikmati hingga pagi di punggung gunung itu membuatnya bersemangat. Sekarang, dia berangkat.
Nyaris pukul sebelas dia sampai di sana. Jalanan gelap itu tidak membuatnya gentar sedikitpun. Tidak ada yang menakutkan, maupun mengejutkan. Satu-satunya yang paling mengejutkan adalah menyadari bahwa temannya tidak ada di sana.
Diraihnya ponsel cepat-cepat, dimaki-maki sebagaimana puluhan pesan paginya. Dia kirim kata-kata yang serupa. Bedanya, sahabatnya di seberang membalas dan hanya satu pesan saja, Balasan untuk kesepakatan berengsek buatanmu.
*
Dia tidak tidur semalam. Dibuatnya segelas kopi sambil membaca buku, kemudian segelas lagi, dan segelas lagi sampai ayam berkokok pada pukul setengah empat.
Agar kantuknya menghilang, dia mandi pukul sekian. Tentunya dengan berharap bahwa tetangganya masih tidur, dia bujang dan mandi sepagi itu bisa membangkitkan anggapan macam-macam pada tetangganya. Kemudian disebar dengan kilat pada tetangga satunya, dan dalam hitungan detik seluruh desa akan mengetahui. Ada lelaki yang belum menikah dan mandi pagi dan macam-macam cerita baru dan anggapan tidak masuk akal menjadi bunga dari cerita-cerita itu.
Oleh karenanya, sepelan mungkin dia ayunkan gayung. Merasai saban dingin yang keterlaluan. Kemudian berlari menyambar selimut yang digunakan sambil memasak air untuk gelas kopinya selanjutnya. Rasa dingin itu membuatnya nyaris tak sadar, "Seharusnya aku masak air panas dulu buat mandi," gerutunya yang sangat terlambat.
Melihat airnya mendidih, dia hendak menceburkan diri ke sana. Sebuah pikiran waras dari seseorang yang sibuk mengusir kantuk. Sebab, jika dia tidur sekarang, maka jelas akan bangun pada pagi selanjutnya, atau setidaknya kelewat waktu janjian mereka.
Sementara itu lelaki sahabatnya di tempat lain, sedang tidur dengan pulas sambil salah satu tangannya masuk celana.
Dia berangkat ke depan gapura pukul setengah delapan. Setelah memasak nasi kemarin menjadi nasi goreng. Setelah memakannya, dan berak mengeluarkan yang lain, dan duduk di depan rumah sambil merokok ditemani segelas kopi lagi. Dia sampai di sana tepat pukul delapan. Tidak kurang, tidak lebih. Sebuah keanehan yang muskil terjadi.
Ada gerutan otot di pelipisnya yang keluar setelah melewati setengah jam. Dan dia sudah benar-benar geram. Dan terpaksa menghubungi sahabatnya itu, nahas, ponselnya mati. Dan otot di pelipisnya makin banyak dan keras dan dia makin geram. Dia kirim puluhan pesan yang amat barbar.
Hampir pukul satu dia sampai di posko KKN adik tingkatnya, dan niat itu muncul. Sebuah pesan terakhir yang dia kirim pada sahabatnya bahwa dia berjanji akan menunggunya di sana sampai besok pagi.
Tidak lama kemudian dia berpamitan. Berpesan pada orang yang dia kunjungi agar baik-baik di sana, jangan pusing-pusing sebab KKN hanyalah tamasya kecil di gunung agar kita bisa jadi biksu atau pertapa.
*
"Wah, tampak sehat kau."
"Sehat Mas. Tadi Mas ditunggu tapi dia pulang, kok baru sampai ke mana saja Mas?"
"Hahaha..., urusan orang dewasa. Kau nggak perlu tahu."
"Nanti Mas tidur sini?"
"Pulang, lah," dan dia menyadari ada sesuatu yang salah telah terucap.
"Sudah jam 12 Mas. Rawan kalau di sini."
Padahal bertamu pukul 11 juga nggak masuk akal, tapi mau bagaimana lagi, batinnya.
Saat itu pukul satu dini hari. Dia tidak merasa kantuk. Sudah terbiasa dengan terjaga sepanjang malam. Kemudian dia berpamitan kepada adik tingkatnya, satu-satunya peserta KKN di posko itu yang masih terjaga. Dan berpesan kepadanya agar baik-baik saja, dan urusan KKN jangan dipikir terlalu dalam, dan agar menganggap KKN adalah liburan luar biasa yang dihadiahkan oleh kampus untuknya.
Kata-kata yang nyaris sama dengan siang tadi benar-benar membuatnya bosan. Dia lebih butuh uang daripada kata-kata lucu!
"Hehe, iya Mas. Kalau ada apa-apa di jalan telepon saja," yang diucapkan dengan 100% kepura-puraan.
"Siap," jawabnya tegas.
Dan lelaki itu pulang. Dan lelaki satunya menutup pintu dan langsung tidur.
Jalanan lengang seperti itu membuatnya memacu motor pada kecepatan puncak. Menaiki dan menuruni gunung, melewati tikungan di lembah mirip pembalap yang bermimpi menjadi juara. Alasannya ngebut adalah udara yang semakin dingin, dan dia benar-benar tidak ingin mati di sana karena kedinginan dan beku.
Kecepatannya menjadi standar setelah dia membonceng seorang perempuan. Sepuluh menit sebelumnya, motornya dihentikan oleh tangan seorang perempuan di pinggir jalan.
"Mas, tolongin, antar sampai sana."
"Yaudah, naik."
Dia mengamati perempuan yang hendak diboncengnya. Memastikan bahwa dia tidak berbahaya. Dan juga bukan sesuatu yang sulit dijelaskan. Dan dia bernapas lega.
"Pakai jaket ini, nanti kedinginan."
"Oh, iya Mas. Makasih," ucapnya lembut.
Mestinya lelaki kita sadar. Bahwa tidak ada yang baik-baik saja saat itu. Segera menarik napas leganya, dan ngebut lagi. Tapi sekarang, dia memacu motornya pelan, khawatir jika penumpangnya merasa tidak nyaman.
Jalan keluar dari lembah hingga pinggir kota yang seharusnya bisa ditempuh dengan lima belas menit, dia tempuh sekarang dengan satu setengah jam. Dia benar-benar menikmatinya, kemudian bertanya, "Turun di mana, Mbak?"
Tidak berjawab.
Perasannya mendadak memburuk. Dia toleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa di jok belakang. Kosong. Hitam sepanjang jalanan tanpa lampu itu. Dia ngebut kembali! Bukan untuk menuju rumah untuk segera tidur dan melupakannya, melainkan kembali ke tempat di mana dia menemukan perempuan itu.
Dengan putus asa, dan amat putus asa, dia lanjutkan perjalanan menuju pulang lambat-lambat. Pada subuh dia sampai di kamarnya. Termenung, dan kedinginan. Dia lepas helmnya, mengambil satu-satunya jaket yang dia punya di gantungan belakang pintu. Memakai selimut kemudian tidur.
Sore pada besoknya dia bercerita tentang kengerian kepada sahabatnya di kedai kopi yang sama, yang malah ditertawai habis-habisan. Hari-hari selanjutnya, jaket itu tidak pernah dipakainya lagi. //
Jaket - Seloki
Image by rawpixel from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments