SEORANG PEREMPUAN YANG TIDAK INGIN KEMBALI KE RUMAH TAPI TETAP KEMBALI

Kau adalah perempuan. Tentu saja. Siapapun yang melihatmu bisa menebak bahwa kau perempuan.
Kau juga adalah seorang kakak. Dari seorang bocah lelaki yang menjadi kebanggaan keluarga kalian. Kau mestinya juga bangga pada adik lelakimu. Hal ini akan diketahui jika orang lain bertanya dahulu kepadamu.
Saat itu adalah sarapan. Kau mendapat telur goreng yang dibuatkan oleh ibunda. Sedangkan ikan laut, ayam goreng, dan kuah sup yang kau idam-idamkan itu hanya untuk adik lelakimu.
"Setelah ini antar adikmu ini ke stasiun," kata ibumu tanpa nada menyenangkan.
"Baik," jawabmu pelan.
Sebenarnya kau bisa tahan dengan perlakuan kurang waras dan jauh dari kata adil menurutmu, tapi bagaimanapun, jika hal-hal demikian dilakukan setiap hari selama nyaris setahun, akan membuat kepalamu seakan pecah tanpa peringatan.
Kau mengantarkan adikmu. Kalian tidak berbicara  apapun di jalan. Pun setelah sampai di stasiun, kau akan langsung kembali ke rumah.
Sungguh sayang, pembaca. Kalian tidak akan menjumpai perempuan ini berbahagia. Dia tidak berniat sama sekali untuk bersahabat dengan nasib. Dia pulang ke rumah sekadar mengemasi barang-barang.
Tidak lama kemudian, dia siapkan senyum paling indah yang masih tersisa untuk berpamitan kepada ibunda.
"Ibunda, saya mau berangkat."
"Oh, baik."
Sebelumnya, ketika adik lelakinya mengatakan hal serupa, ibunda menunjukkan mimik menyedihkan. Seolah kepergian anaknya yang itu adalah kabar paling buruk di negerinya.
"Astaga, Nak! Kenapa engkau buru-buru begitu?! Astaga!" kata ibunda nyaris menangis. "Tinggallah di rumah sedikit lebih lama. Ibunda kesepian jika engkau tiada. Akan ibunda buatkan makanan paling kau sukai. Ikan laut dan ayam goreng, kan? Ibunda buatkan juga sambal dan kuah sup yang gurih. Kau pasti suka."
"Sekolah masuk besok, Ibunda. Di rumah kan ada kakak--"
"Bicara apa kau ini, Nak. Jika engkau ingin pergi, ingatlah ibundamu ini di rumah. Ibunda yang selalu menunggumu pulang. Ibunda yang selalu menyayangimu."
"Tentu saja, Ibunda."
Mereka berdua berpelukan. Kau melihatnya.
"Jangan ugal-ugalan! Awas jika adikmu kenapa-kenapa gara-gara kau."
"Baik, Ibunda."
Pesan ibundamu menggema dalam kepala. Kau yang menjadi anak paling tua mesti sabar dan harus mengerti juga. Kau sudah dikenalkan dengan tanggung jawab.
===
Baca juga tulisan lainnya:
1. CANTIK ITU LUKA: AMAT RUMIT! AMAT RAPI!
2. Selamat Ulang Tahun di Alam Baka, Ril
3. Jeda
===
Adikmu akan pulang enam bulan dari sekarang, namun ibunda telah menyiapkan barang-barang baru untuknya. Setiap melihat barang-barang yang teronggok begitu saja yang hanya boleh dipakai adimu, keinginan buat tidak kembali ke rumah ini semakin raksasa.
Tibalah saat itu, ketika engkau berpamitan. Kau tetap tersenyum kepada ibunda. Meski itu adalah senyum paling akhir yang tersisa.
Satu-satunya tujuanmu adalah kampus. Kau akan di sana sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Kau menjadi pecandu dari nikotin, kafein, dan kadang-kadang alkohol.
Semua komposisi luar biasa bebas di kota itu membuat kau melupakan sejenak akan rumah.
Jalan itu kau ingat betul, bahwa masih ada pertimbangan mirip badai di kepalamu.
Setelah sampai, kau merenung, dan memilih nar daripada nur. Kau ingat sebelumnya, pada pengajian seorang kiai yang kau dengar bahwa nar dan nur sama-sama memberi penerangan. Kau akan menemukan jalan terang dengan membakar kayu ataupun menyalakan senter.
Kau tidak bisa mengelak lebih menyukai memaki-maki daripada diam bersabar. Lebih suka mabuk daripada baca Quran. Lebih suka meninggalkan kewajiban daripada berjalan pada jalan lurus.
Tentu saja semua hal itu tidak diketahui ibunda. Tidak diketahui adik lelakimu yang paling dibanggakan dan menjadi omongan paling manis dalam keluarga besar. Mereka tidak tahu, bahwa selain kau adalah kakak tidak berguna, juga seorang kakak yang hancur jiwanya, bahkan lebih dari itu.
Setelah tepat enam bulan yang dinantikan dan kau menjalani kehidupan demikian, ibunda menghubungi lewat telepon. Dia mengatakan untuk segera pulang.
Wahai pembaca, jangan merasa akhir dari cerita ini adalah bahagia.
Ibunda menelponnya dan meminta tokoh kita untuk pulang karena adik lelakinya hendak pulang. Dia mesti menjemputnya.
Tokoh kita telah dewasa, dia tidak membicarakan apa-apa terkait masalahnya, sakitnya, dan tersesatnya. Dia tetap tersenyum ketika kembali sebagaimana dia pergi.
"Jemput adikmu di stasiun!" kata ibunda ketika membersihkan barang-barang untuk sang adik lelaki dan tidak sabar menunggu kepulangannya. Tanpa menoleh pada kepulangan si kakak perempuan. //
SEORANG PEREMPUAN YANG TIDAK INGIN KEMBALI KE RUMAH TAPI TETAP KEMBALI
Img src pixabay.com

Tinggalkan Komentar

0 Comments