Selamat Ulang Tahun di Alam Baka, Ril

Pagi ini di grup ada pesan dari orang itu, demikianlah, ingatan tentang hari lahir orang sebaik ia ingat namanya.
Katanya Sang Binatang berulang tahun. Satu yang paling terasa adalah semangat mudanya. Bukan berengseknya, bajingannya, pun dengan kebinatangannya.
"Aku ingin hidup seribu tahun lagi."
Kau akan hidup, Ril. Bahkan lebih lama dari yang kau kira. Meski nyatanya kau mati muda.
Itu bukan jadi soal, sekarang kita tuang minuman, adakan pesta kecil-kecilan merayakan kebinatangan masing-masing.

Untung bukan kepalang, Ril, kau tidak bertemu Dewi Ayu dan Alamanda selama masa hidupmu. Juga tak pernah tinggal di kota bernama Halimunda.
Pun di ibukota, kau tak berjumpa dengan Kliwon. Kau bisa kalah pamor dalam menakhluk betina.
Percayalah, Ril, kau bukan satu-satunya binatang. Aku membaca beberapa cerita, bahwa ada manusia yang lebih jalang dari binatang.

Sejujurnya aku sama sekali tak ingat hari ini ulang tahunmu. Kau pasti sedang dimanja malaikat di dalam kubur sana. Bercengkerama sebentar sebelum mereka beranjak mengayunkan gada ke buah pelirmu.
Hanya saja, Ril, semalam kudengar puisimu berulang kali. Itu kebiasaan lama yang sudah kutinggal, namun aku hanya merasa ingin mendengarnya sama seperti aku ingin mendengar suara Pramoedya.
Sekarang hampir tengah siang, Ril. Semoga malaikat sibuk salat Jumat dan tidak buru-buru menghajarmu.

Persetan dengan berapa banyak puisi yang kau akui sebagai milikmu, sebagaimana persetan dengan berapa banyak perempuan kau tiduri. Di sini banyak yang mendoakan keselamatanmu, salah satunya dari sang pengirim pesan di grup itu, tentunya dengan cara mereka masing-masing. Kau bisa bertemu dengannya; memanggil sekarang atau menunggu dia datang sendiri nanti.
Dan doaku, Ril, semoga malaikat tidak jadi mengarahkan gada ke buah pelirmu, agar kau bisa melanjutkan sesuatu dengan bidadari di alam baka.

Selamat Ulang Tahun di Alam Baka, Ril
Sumber

Tinggalkan Komentar

0 Comments